Sunday, September 18, 2016

Weekend at Ora - Part 2 "Serpihan Surga" (END)

Setelah hari pertama di Ora gak ngapa-ngapain, cuma foto-foto doang, jam 8 malam saya udah ketiduran. Memang ya, faktor-U gak bisa dibohongi, yang biasanya cuma naik motor 5 menit doang dari rumah ke kantor, terus motoran seharian nyebrang dua pulau di Maluku ya jelas remuk badan saya, bos. Kalau jalannya rata sih masih mending, lha ini tu jalannya kayak jalanan di Gunung Kidul cuma naikin levelnya 10 kali, dari segi panjang jalan dan ketajaman tikungan. Kebayang? 

Padahal saya kira road trip Tanjung Redep-Tanjung Batu yang waktu ke Derawan bulan lalu itu sudah gila, ternyata eh ternyata, road trip Ambon-Seram ini lebih parah gilanya. Dua orang cewek doang, naik motor matic, kondisi hujan deres, belum lagi pas jalan di area gunung dinginnya minta ampun, sampe menggigil beneran saya. Gak heran malamnya saya langsung tepar kecapekan. Padahal rencananya kami berdua mau ngobrol diskusi tentang rencana next trip, gagal deh. Tapi ada baiknya juga kami tidur cepat, soalnya besoknya bisa fresh lagi buat menjelajahi sekitaran Ora Beach Eco Resort.

Hari Minggu pagi saya sms Pak Munir, motoris yang akan mengantar kami baronda (Maluku/Malut: keliling) sekitaran Ora, minta dijemput jam 7 pagi. Hari itu matahari masih kalah sama mendung, malah sempat turun gerimis juga waktu kami mau mulai jalan.

Ini Ora pas lagi gak hujan, kece banget yak?

Tebing Batu Hatupia

Spot pertama yang kami datangi adalah Tebing Batu Hatupia. Ini adalah area pertemuan perairan teluk dengan tebing karst, iya langsung batu tebingnya gitu, gak ada pantai atau bakau yang biasa kalau di pesisir-pesisir. Di salah satu spotnya ada goa lautnya. Kalau berani bisa mencoba berenang atau menyelam di sini.

Tebing Batu

Masih tebing batu

Pintu masuk goa 
Sisi depan goa



Airnya jernih buanget

Goa kalau dilihat dari lubang "jendela" nya



Kami gak berani nyebur di goa, dalem banget, coy. Hahaha. Sebenernya berani kalau ada "safety guard"-nya tapi ini cuma cewek-cewek ilalang begini, tenggelam satu ya tenggelam semua. Jadiya kami lanjut ke (masih) tebing batu lagi, tapi di area yang lebih dangkal. Di situ ada semacam gazebo laut berukuran 2x2 meter dengan atap gaba/rumbia kecil.







Gak jauh dari area gazebo ini juga ada goa kecil. Kalau yang ini kami berani masuk, soalnya gak sedalam goa yang pertama tadi, bahkan di bagian ujung dalamnya cethek banget.

Gaiss, vandalisme itu gak cakep!!

Two ilalangs di dalam goa

Lalalaaaa...

Di dalam goa
Di area tebing batu ini didominasi dasar yang berpasir, tapi ada juga yang banyak batu-batuan bercampur dengan batu karang, salah satunya yang deket dengan goa kedua ini. Terumbu karang juga ada di sini, tapi masih muda dan kecil-kecil.




Mata Air Belanda

Dari Tebing Batu, kami lanjut ke Mata Air Belanda. Lokasinya ada di antara Pantai Ora dan Dermaga Saleman. Kalau dari Tebing Batu kita akan melewati lagi Pantai Ora. Di sini pengunjung diharuskan membayar tiket masuk sebesar 25ribu. Gak ada loketnya sih, cuma bayar di nyong/nona yang jaga warung di pantai ini.


Lokasi Air Mata Belanda

Pantai yang airnya campuran mata air dan laut

Dingiiin brrrroooow
Sebelumnya kami sempat diberi tahu pak motoris kalau air di Mata Air Belanda ini sedingin es. Kirain cuma becanda aja, palingan ya dingin-dingin biasa aja. Ternyataah, brrrrr dingin beneran bos. Dan yang makin bikin takjub itu, airnya tawar. 

Sumur dari mata air, tawar dan seger banget



Jadi, di area Mata Air Belanda ini ada beberapa titik mata air. Salah satunya yang jelas di sumur yang digunakan oleh warung-warung di sini, soalnya mata airnya dilindungi pake drum plastik. Kalau yang gak terlindung ada cukup banyak di beberapa tempat, salah satunya kami temukan di tepi pantai. Di situ ada sekitar 7-8 "lubang" mata air. Dari lubang itu menyeburkan air tawar yang dingin banget. 



Emmmm...

Two ilalangs

Hobbit & Gandalf

Swing.. swing..

 Taman Kupu-Kupu


Selain ada mata air yang ajaib, kami diberitahu oleh motoris kalau di area Mata Air Belanda ini ada Taman Kupu-kupu juga. Kebetulan waktu ke sini kami bertemu juga dengan pemilik tamannya. Dia cerita menggebu-gebu tentang taman kupu-kupu buatannya itu yang katanya banyak bule-bule luar negeri tertarik untuk melihat. Karena penasaran seperti apa sih taman kupu-kupu yang dicari sama bule-bule itu, akhirnya kami mau juga diantar ke tamannya itu.



Agak ajaib sebetulnya, ada taman yang dipenuhi bunga pagoda di tengah-tengah kebun yang didominsai pepohonan tahunan seperti pohon cengkeh, pala, coklat dan durian. Tapi salut juga sama bapak si pemilik taman kupu-kupu, kalau melihat cara pikir orang-orang "di sini", ini investasi yang sangat berani. Saya doakan taman kupu-kupu ini, 5-10 tahun lagi jadi lebih ngehits, nah pas saya datang lagi ke sini udah kece banget pasti tamannya. Amiiin.




Berhubung pas kami kesini semesta sedang mendung, jadi gak banyak kupu-kupu yang muncul beterbangan di area taman. Saya sempat lihat kupu-kupu warna biru yang keren banget, gak tau deh nama spesiesnya apa, sudah dikasih tahu sama bapaknya tapi saya lupa.

Selama bukan ulat bulu, saya berani :p

Si bapak mau ikutan eksis
Bersihin swallow pinjeman dulu

Btw, untuk bisa menuju ke taman kupu-kupu ini gak gampang, lho. Mesti jalan treking dulu melewati jalan setapak di sekitaran kebun. Kalau pakai standar bapaknya hanya makan waktu 15 menit, tapi realisasi kami jalan butuh 25 menit, maklum deh, princess sih. Hehehe. Sebenernya karena faktor jalananya yang becek aja sih. Ngeless. Lalu waktu untuk treking baliknya lebih cepet lagi, seperti biasa kalau treking, waktu turun itu setengah kali waktu naik, jadi kami turun kami hanya butuh waktu 10 menit saja.




Snorkling di Ora!

Dari Mata Air Belanda, kami lanjut balik ke resort. Tujuan utama dijamahnya paling terakhir dong, hehehe. Agak siang, di resort mulai banyak pengunjung, kebanyakan sih rombongan open trip yang gak nginep di resort. Tapi jangan bayangin banyaknya udah kayak cendol ya. Banyak di sini itu ya paingan yang snorkling-an itu 7-9 orang lah. Karena Ora ini memang hanya untuk mereka yang --kalau gak--bernyali besar ya berdompet tebal. Saya? Saya sih masuk yang golongan bernyali nekat dan gila, balik dari jalan-jalan biasanya langsung jatuh miskin. Wkwkwk.



Snorkling di Ora? Enaaaakkk banget! Kalau kalian mau menikmati taman surga bawah laut tanpa effort yang berat ya di Ora ini tempatnya. Gak perlu bisa free diving, gak perlu pake scuba-diving (bahkan kayaknya gak perlu bisa berenang, deh), tinggal bermodalkan pelampung sama snorkle saja, trus ngambang-ngambang aja di pantai Ora ini, dan tadddaaaaa tinggal kalian nikmati indahnya coral-coral warna-warni berbagai bentuk lengkap dengan ikan-ikan yang berenang di sekitarannya.










Perlu sangat berhati-hati saat snorking di Ora, karena "cethek" salah-salah bisa nendang atau malah gak sengaja menginjak terumbu karang. Amannya selalu cari spot yang agak dalam saja, jangan terlalu dekat dengan pantai, lagipula terumbu karang di dekat pantai kecil-kecil juga. Lebih bagus dan banyak ikannya yang di dekat dermaga. 



Teluk Saleman

Saya gak tahu nama resminya apa, tapi berhubung nama desa di pelabuhan penyeberangan ke Ora namanya Negeri Saleman, mari kita sebut saja Teluk Saleman.

Puas snorkling di Ora (belum puas, sih aslinya), mandi dan beberes packingan kami pun balik ke Teluk Saleman. Thanks to Pak Munir yang masih setia menunggu kami, ya iyalah dibayar, hehehe. Tapi memang bapaknya baik, sih. Selama jalan sama kami beliau dengan senang hati mau motoin kami. Kayaknya memang bapaknya tertarik dengan jepret menjepret, soalnya hasilnya lumayan bagus, bisa ngarahin gaya dan punya ide foto yang kece. Zuper zekali.

Oke, sampai di Teluk Saleman sekitar jam satu siang. Persiapan untuk road trip balik kami sangat sederhana: semangkuk sarimi telur pake irisan cabe rawit dan segelas teh panas. Itu saja.

Sambil nunggu pesanan kami dimasak, kami sempat jalan-jalan di sekitaran dermaga. Di sini ikan teri-teriannya banyaaaak buanget. Trus ada satu-dua terumbu karang juga. Ohya, di dekat dermaga ada penginapan juga, kamarnya cuma ada tiga sih dengan tarif lebih murah dibandingkan di resort.



Pulaaang....

Nah, akhirnya sampai juga di saat-saat paling males dari sebuah perjalanan, yaitu perjalanan pulang. Hehehe. Males tapi harus. 




Terimakasih!

Alhamdulillah, satu lagi perjalanan (gila) telah saya lalui. Terimakasih Tuhan, Kau ijinkan lagi aku melihat bukti kuasamu, salah satu lukisan sempurna-Mu di bumi ini, sebuah serpihan surga yang sangat indah, menakjubkan dan penuh keajaiban.

Terimakasih..
  • Ibuk & Bapak,
  • Mima, teman galau & teman jalan saya yang akhirnya ketularan ketagihan dunia bawah laut,
  • Fajra, Adit dan teman-teman Maluku, terimakasih banyak untuk semua-muanya, udah diijinin nginep di mess, kemana-mana nebeng mobil, diajakin nonton, dipinjemin helm, jas hujan sampe sandal swallow. Jangan kapok ya, Maluku masih banyak yang harus di-eksplore, nih.

___________________________________

Cara Kesana & Perkiraan Ongkos
Ke Ambon dulu, umunya bisa naik pesawat, harga? cek sendiri di Traveloka. Dari Ambon, setahu saya (dari pengalaman Mima yang sudah dua kali ke Ora dengan jalur berbeda) ada 2 alternatif:
  1. Ngeteng:
    1. Naik kapal cepat, tujuan Masohi, kalau gak salah inget tarifnya sekitar 600k. (Kalau ada teman saya di Maluku yang baca tolong dikoreksi, ya, japri saya, trims)
    2. Carter mobil dari Masohi sampai Saleman, harga tergantung deal-nya, tapi rata-rata sekitar 2jt-an
  2. Jalan sendiri
    1. Sewa motor/mobil dari Ambon, kemarin kami dapat sewa motor harga 300k.Ini harga persahabata, (thanks to Fajra)
    2. Naik kapal ferry di Pelabuhan-saya lupa namanya-pokoknya pelabuhan ferry Ambon-Seram, letaknya dekat Pantai Liang. Untuk 2 orang penumpang + 1 motor tiketnya 55k.
    3. Selama perjalanan PP kami habis bensin kira-kira 80k. Sepanjang perjalanan di Seram Bagian Barat dan Maluku Tengah banyak kok yang jualan bensin eceran. Di dekat Pelabuhan Waipirit (SBB) dan di TNS (pertigaan di Maluku Tengah kalau mau belok ek arah Saleman) juga ada POM Bensin. Cuma kalau yang di TNS ini hari Minggu libur.
    4. Perlu sangat berhati-hati selama perjalanan darat, karena di beberapa titik jalanan berlubang. Ban motor yang kami tumpangi sempat kena paku. Beruntung, tidak jauh dari TKP ban bocor ada tempat tambal ban.
    5. Kalau bawa motor, bawa jas hujan, pastingan packingan di plastik dulu. Saya sudah buktikan pake rain-cover  saja ternyata tidak cukup untuk menyelamatkan baju-baju agar tetap kering. Karena rembes itu nyata.
Nyebrang dari desa terakhir (Desa Saleman) ke Ora Eco Resort
Bagian ini yang paling bikin tekor, kapal-kapal nelayan di sini sistemnya carter. Perkapal tarifnya mulai dari 600rb sampai 1,5 juta, tujuan mau diantar kemana aja. Kalau hanya di spot-spot kawasan teluk Ora motoris biasanya akan minta tarif 1jt. Kalau berangkatnya rombongan sih, gak masalah ya, tapi klo cuma berdua doang (kayak kami, hiks) yang mesti pinter-pinter nawar dan memelas aja.

Beruntung kami akhirnya dapat harga 600rb.
Btw, saya masih simpan nomor motoris yang kami carter waktu itu. Tapi saya lupa simpan pake nama apa. Hahaha... -.-"

Akomodasi?
  1. Di Ora Beach Eco Resort, tarik permalam 746k (sudah include pajak desa). Itu tarif untuk kamar darat, kalau kamar yang di atas laut saya lupa tarifnya berapa, jutaan kayaknya.
  2. Ada penginapan juga di dekat Pelabuhan Saleman, cuma ada tiga atau empat kamar gitu, harusnya sih tarifnya lebih murah.
  3. Homestay/rumah penduduk, mesti tanya-tanya dulu, sih. Barangkali bisa nginap di rumah penduduk di sekitaran Saleman. Cara ini jelas yang paling irit.
Makanan?
Di Resort, tarif kamar belum termasuk ongkos makan. Kalau mau disediakan makanan biayanya 300k perhari (kalau gak salah, pokoknya mahal seingat saya). Secara backpacker gembel, kami lebih memilih beli nasi bungkus dari daratan untuk di makan malam selama di Ora. Selebihnya bawa pop mie sama roti-rotian. Oh, iya air putih juga sebaiknya bawa sekalian.


___________________________________

Mahal dan menguras tenaga? Pasti. Tapi bisa menikmati mahakarya Tuhan yang ada di Ora sangat sepadan dengan perjuangan yang harus ditempuh. 

~Karena jalan menuju surga memang tidak mudah.




Ini? Bukan, ini bukan jalan menuju surga, (eh bisa juga, klo mau sembarangan) tapi ini video Jembatan Merah-Putih di Teluk Ambon.

Sekian, catatan perjalanan saya ke Ora di Maluku. 
Akkkkkkk jadi pengen balik kesana lagi. >,<

Wednesday, September 14, 2016

Weekend at Ora - Part 1 "Perjalanan Menuju Hidden Paradise"

Mungkin ada di antara kalian yang mengikuti update feed di sosmed saya. Beberapa hari ini saya share satu pantai yang kece banget. Kalau yang sering baca-baca tentang tempat wisata di Indonesia mungkin sudah familiar tapi ada juga yang masih bertanya ke saya, "Non, kok bagus, itu dimana?" Kalau ada yang begini kadang saya merasa sedih. 

Ora dari kejauhan

Tempat yang saya share padahal masih di Indonesia, tapi ada saja yang tidak tahu itu dimana, tambah lagi dengan makin kencengnya newsfeed di media sosial, khususnya di facebook yang sering dan banyak sekali orang yang share tentang tempat-tempat wisata di Indonesia, tapi kok ya masih ada saja yang tidak tahu. Yah, tapi gakpapa juga sih gak tahu, mungkin bagi orang-orang ini pekarangan depan rumahnya adalah tempat terindah di Indonesia versi mereka. Mungkin saja kalau saya bukan makhluk nomaden yang punya tempat tinggal permanen pekarangan rumah saya juga akan menjadi taman terindah bagi saya.

Yaa, udahlah yaaww...

So, weekend kemaren saya pergi minggat lagi dari Jailolo, dong! Gila kan gue. Hahaha. Belum juga genep sebulan dari trip nekat ke Berau pertengahan Agustus lalu, saya sudah planning trip ke Maluku. Asal mulanya sama, dari ajakan sahabat saya yang penempatan di Maluku, "Weekend 10-11 September aku mau ke Ora, lagi."

"Buset, lagi?" Baru juga April lalu dia ke Ora, ini mau ke sana lagi. Tanpa pikir panjang, cuma ngecek kalender yang ternyata pas banget ada libur Idul Adha, "Oke, aku ikut!" Beberapa hari kemudian pun langsung saya beli tiket pesawatnya, takut jadi makin mahal yang ternyata sampai seminggu sebelumnya pun harganya masih sama aja, malah sempet turun dikit. Hmmm, mungkin memang rute Ternate-Ambon harga tiket pesawatnya tidak terlalu fluktuatif, kecuali 2-3 hari sebelumnya.

Pertama Kali ke Ambon

Ini adalah pengalaman pertama saya pergi ke Ambon, ibukota provinsi Maluku. Tolong dicamkan ya, Maluku dan Maluku Utara itu berbeda provinsi. Bagi anak-anak generasi 90-an yang dulu belajar geografinya masih diajarin 27 provinsi mungkin agak kudet soal pemekaran provinsi ini. Saya, sih maklum aja.

Jadi, akhirnya saya pergi ke provinsi yang sering dikira adalah tempat kerja saya: Maluku. Mungkin bagi orang Jawa atau lainnya yang non-timur, akan beranggapan Maluku dan Maluku Utara atau bahkan Papua itu sama saja. For Your Information, ini sama kayak orang-orang timur sini menganggap Sunda, Jawa (tengah), Jawa (timur) dan Madura itu adalah sama, yaitu JAWA. Padahal bagi mereka yang tahu kondisinya jelas sangat berbeda. 

Satu perbedaan yang paling mencolok antara Maluku dan Maluku Utara bisa dirasakan dari logat dan bahasanya. Salah satu contohnya, kalau di Maluku Utata (kecuali Kepulauan Sula) pakainya "tarada" sementara di Maluku (dan Kepulauan Sula) pakainya "seng." 

Masih banyak lagi sebetulnya perbedaaan bahasa antara Maluku dan Maluku Utara, jadi meskipun saya sudah "lumayan" bisa bahasa Melayu Ternate pun jadi blank juga sewaktu di Ambon. Palingan kosakata Ambon yang saya kuasai itu dari modal sering dengerin lagu-lagu Mita Talahatu, diva Ambon yang heittss abis di seantero Maluku Utara itu, yang lagunya hampir selalu jadi playlist  angkot, bentor dan kapal-kapal di jalanan dan lautan Maluku Utara. Hanya saja, entah kenapa selama saya di Ambon malah gak pernah nemu lagu-lagu Mita Talahatu. 

Kesan pertama di Ambon: luas. Yup, Kota Ambon ini luas banget. Hampir seluruh pesisir Teluk Ambon sudah terurbanisasi. Mencari transportasi umum di Ambon pun mudah, karena sudah ada banyak angkot dengan trayek. Keluar dari bandara saya langsung menemukan angkot merah. Setelah memastikan memang benar si angkot lewat Passo, baru saya naik. Perjalanan dari bandara ke Passo memakan waktu sekitar 20 menit, sudah termasuk waktu ngetem nunggu penumpang di beberapa perempatan.

Di Passo, saya turun di kantor instansi tempat saya bekerja tapi yang cabang Maluku, tempat meet up dengan salah satu teman saya yang akhirnya jadi meet up sama semua teman-teman saya yang kerja di sana, sih. Hehehe. Jadi, nantinya selama di Ambon ini, saya akan menumpang tinggal di mess teman-teman saya ini. Saya merasa beruntung sekali, teman-teman di mess Ambon ini ramah dan baik sekali (uhuk), selama di Ambon saya diajakin jalan terus dong, hari pertama di Ambon saya diajakin nonton Warkop DKI Reborn lalu di hari terakhir setelah sholat Idul Adha diajakin ke taman monumen Christina Martha Tiahahu, tempat dimana bisa melihat pemandangan kota Ambon dari ketinggian.


Road Trip Ambon-Seram

Sebelumnya saya jelaskan dulu tujuan perjalanan saya kali ini. Pantai Ora, ada di kabupaten Maluku Tengah. Letaknya ada di sisi utara-tengah dari Pulau Seram. Sedangkan posisi start ada di Kota Ambon (Pulau Ambon), jadi untuk menuju ke Ora kita perlu melakukan perjalan darat dan laut. Penyeberangan dari Pulau Ambon ke Pulau Seram bisa dilalui dengan kapal cepat atau kapal ferry. Sedang perjalanan daratnya bisa dengan segala macam kendaraan darat, normalnya ya kalau gak motor ya mobil. Katanya sih belum ada yang eprnah pake forklift, mungkin Anda beminat mencobanya?

Total makan waktu 6 jam (kecepatan manusia normal yang masih mau hidup )


Secara saya ini kan backpacker gembel kan ya, jadi perjalanan menuju Ora ini pun pakai budget constraint. Untuk perjalanan darat kami pakai motor lalu menyeberang dengan kapal ferry.

Note. Jadwal kapal ferry di Maluku ini sangat tepat waktu, jadi sangat perlu memperhatikan waktu ketika berkendara selama perjalanan darat, jangan sampai jadwal berantakan gara-gara ketinggalan kapal ferry yang baru ada lagi setiap dua jam.

Rencana awal perjalanan kami ke Ora ini adalah bertiga, saya, Mima dan Fajra, tapi ternyata di hari-H Fajra-nya malah sakit. Tinggalah kami, dua ilalang dengan keinginan kuat untuk mengintip hidden paradise di Pulau Seram itu.

Start perjalanan kami dari Kota Ambon sekitar jam 6 pagi (atau setengah 7 pagi ya, saya agak lupa). Tantangan perjalanan sudah langsung menghadang kami: hujan mengguyur bahkan sejak 5 menit awal. Mental breakdown pasti. Naik motor di jalanan yang belum familiar dan dalam kondisi kehujanan rasa capeknya jadi dua kali lipat.

Sejam pertama road trip kami rasanya lamaaaaa sekali. Saya yang jadi driver pertama hanya berusaha fokus ke jalan. Rute Kota Ambon ke Pelabuhan Ferry sebetulnya cukup mudah, aspalnya sangat bagus, meski ada beberapa kali tanjakan dan turunan tapi masih didominasi jalanan rata.

Sampai di Pelabuhan Ferry, beli tiket untuk 2 penumpang dan 1 motor lalu antri di pintu masuk kendaraan. Beruntungnya lagi, kami jadi penumpang terakhir yang diperbolehkan ikut ferry jam 8 pagi itu.

Pantai di pelabuhan aja ijo bening begini

Suasana di dalam kapal ferry
Ini adalah pertama kalinya bagi saya naik kapal ferry dengan membawa kendaraan. Kalau cuma bawa diri sih sudah pernah. Ternyata sedikit menegangkan juga, soalnya was-was kalau gak dapat jatah muatan untuk kendaraan. Bisa gawat kalau sampai harus nunggu ferry 2 jam lagi, bisa-bisa sampai Ora sudah malam.

Motor sudah diparkir, tinggal cari bangku buat tidur duduk selama perjalanan di ferry.  

Lagi acting tidur wkwk

Antri mau keluar ferry

Setelah satu jam perjalanan, kapal ferry sampai juga di Pelabuhan Waipirit (awas jangan kepleset bacanya), pelabuhan ferry yang ada di Kabupaten SBB, singkatan dari Sori Baru Balas, eh Seram Bagian Barat. Di sini kami cari makan dulu, secara memang belum sarapan. Cari menu makan yang aman dan gampang, di salah satu tempat makan di pelabuhan kami pesan nasi goreng, masing-masing dua porsi, satu untuk sarapan satu lagi untuk makan siang sesampainya di Ora nanti (yang ternyata rencana meleset, jadinya malah buat makan sore).

Selain membawa bekal nasi goreng, kami juga beli pop mie dan beberapa potong roti manis dan roti pia. Kenapa? Karena ongkos makan di Ora itu sangat mahal sodara-sodara. Jadi, backpacker gembel ini perlu bawa bekal sebanyak-banyaknya (yang akhirnya malah banyak yang gak kemakan juga karena kenyang keindahan Ora males makan).

Seriusan, kami berdua betul-betul buta jalur Trans-Seram. Satu-satunya petunjuk jalan buat kami hanyalah ancer-ancer yang diberi tahu oleh temannya Fajra yang memang penempatan di Kabupaten Maluku Tengah (kalo gak salah) jadi sudah tahu betul jalur menuju Ora. Meski begitu setelah dilalui ternyata memang tidak terlalu sulit untuk menemukan Desa Saleman (tempat penyeberangan menuju Ora) karena memang jalur Trans-Seram ya hanya satu itu-itu saja, tinggal ikuti jalan aspalnya saja. Jumlah pertigaan yang harus belok pun bisa dihitung cuma tiga kali saja. Selebihnya ya belokan karena jalan tikungan.

Jadi bagaimana road trip Waipirit - Saleman? Akan saya gambarkan dengan dua pembagian. Pertama jalur Waipirit - TNS dan kedua adalah jalur TNS - Saleman. Jalur pertama didominasi jalanan yang rata dan berbelok-belok, sedangkan jalur kedua, jalannya naik-turun, berbelok-belok dan kanan-kirinya tebing dan jurang. Kalau menurut Fajra yang sudah pernah road-trip dengan rute yang sama, Waipirit - Saleman hanya memakan waktu 4 jam, tapi ternyata bagi saya dan Mima, butuh waktu 6 jam. Yup, kalau di Jawa, berangkat dari Jogja udah sampe Surabaya kan tuh. Jadi kalau ditotal seluruh perjalanan kami ini jadi 8 jam. Banyak yang kaget dan heran kok kami lama banget. Saya kira ya gak lambat-lambat amat kok kecepatan rata-rata kami di jalanan. Ini karena selama perjalanan kami diguyur hujan terus menerus. Jadi, maaf-maaf saja kalau kami gak bisa ngebut di tengah kondisi jalanan yang basah dan kurang maksimalnya penglihatan karena hujan, kami kan masih ingin hidup, menikah dan hidup happily ever after. *eh


Oh, iya di desa sebeluh Negeri Elkaputih, kami juga sempet kebanan. Ban bocor ngelindes paku. Untungnya gak jauh dari TKP bocor bengkel tambal ban, cuma orangnya lagi gak bisa nambal ban, bisanya ganti ban dalam. Yaudahlah ya, yang penting bisa jalan lagi.

Sambil nunggu ganti ban, ngelurusin pingang dulu
Seperti sensasi perjalanan lainnya, berangkat itu terasa lebih lama daripada pas pulangnya. Rasa lelah dan frustasi karena gak sampe-sampe jelas ada. Belum lagi di jalur kedua, TNS - Saleman harus melewati perbukitan yang tinggi. Sudah kehujanan masih ditambah serangan suhu dingin pegunungan. Sampai menggigil, lho saya. Perjalanan menuju Ora ini benar-benar perjuangan lahir dan batin, deh.

Penampakan rider abal-abal
Akhirnya, setelah melewati perjalanan puanjaanggg, kami benar-benar sampai di Desa Saleman sekitar jam 4 sore, dengan kondisi lelah, mengantuk dan kedinginan. Tapi begitu melihat pemandangan dari pelabuhan kecil di desa ini rasanya semua capek hilang.

Enggak ding, enak banget klo bisa gitu. Masih capek sih, tapi begitu lihat pemandangan tebing karst yang gak lazim berdampingan dengan lautan biru-kehijauan yang bening banget itu rasanya breath-taking banget.


Breath-taking scenery di Pelabuhan Saleman




Di pelabuhan sudah ada banyak motoris yang menunggu giliran untuk mengantar ke Ora. Setelah deal harga dan paket yang kami mau, si motoris memarkirkan motor kami (sepertinya) di rumahnya. Sedangkan kami menunggu dia siap-siap sambil pesan teh panas.

Ngilangin mengalihkan capek dengan foto-foto

Akhirnya aku menemukan kehangatan pada segelas teh panas

yang jaket merah jangan sampe lolos :p
Setelah kapal siap, kami diantar Pak Munir, nama motoris yang kami sewa, menuju resort (jika berminat ke Ora dan butuh pesan motoris silahkan hubungi saja, saya ada nomer hapenya). Yang ini memang melanggar prinsip low budget kami, bukannya cari homestay  di Desa Saleman, kami malah berencana menginap satu malam di resort, maksudnya sih bisa bisa langsung nyebur kalau mau snorkling di depan resort Ora. Walaupun kenyataannya pas sampai resort masih juga hujan. Tapi ya udah lah yaaw. Masih lumayan kok bisa menikmati malam di Ora Beach Eco Resort.


Di sini, kami menginap di kamar darat, yang harganya lebih murah (teteup). Hehehe.




Begitu sudah check-in dan dapat kamar, akhirnya saya bisa unpacking barang bawaan saya. Selama perjalanan saya sudah kuatir kalau-kalau tas saya kerembesan air hujan, soalnya baju-baju saya gak di-double plastik. Tas juga cuma mengandalkan rain cover. Daaaan, ternyata kekuatiran saya benar terjadi. Baju-baju saya basah semua. Untungnya isi yang di bagian atas gak basah, properti kamera dan sarung gak ikut kerembesan air hujan.

Barangkali cuma saya satu-satunya pengujung di Ora yang begini -_-

Penampakan rumah darat tanpa siluman sarung ungu

Jam sunset di Ora masih saja diselimuti mendung dan guyuran gerimis. Tapi seriusan, Ora itu indah mau adanya apa (bukan apa adanya lagi), kondisi hujan gerimis pun, Ora tetap memukau. Air lautnya tetap jernih, bening, dan bergradasi hijau ke biru yang cakep banget. Gak kebayang, deh cakepnya kayak apa Ora kalau pas cuaca panas.


Ora waktu gerimis
Jalan-jalan sore di area rumah laut

ORA sah nggaya, Non!

Area rumah laut

 Nah, segini dulu catper untuk hari pertama perjalanan ke Ora. Masih ada satu hari perjalanan lagi. dilanjut besok yah. Stay tune yah manteman.. :p