Showing posts with label catatan perjalanan. Show all posts
Showing posts with label catatan perjalanan. Show all posts

Monday, July 25, 2022

Memori Umbi - Babak 3 "Ternate"

 Setelah babak 2 "Jailolo"

Setelah hampir dua tahun di Jailolo, perjalanan memori saya di Maluku Utara berpindah ke Kota Ternate,  Cerita bagaimana saya bisa pindah ke Ternate pun sebenarnya getir. Karena harus terjadi lantaran lara yang saya alami. Jailolo menyenangkan bagi saya, tapi meski demikian ternyata ada duri yang menusuk dan menyakiti kewarasan saya. Harapan saya dengan pindah ke Ternate, menjauhi sumber penyakit adalah solusinya.

Memang banyak hal yang harus dikorbankan pada kepindahan ini. Bekerja di kantor wilayah menuntut konsekuensi, terutama secara materi ya. Karena tidak dapat rumah dan motor dinas. Meski belakangan akhirnya saya dapat juga motor dinas. Untuk tempat tinggal mau tidak mau harus tinggal di kos-kosan. Memang sedikit mengherankan, sebelum saya pegawai yang menjabat di posisi yang sama bisa dapat rumah dinas, eh saya kok enggak, mungkin karena saya belum berkeluarga kali ya. Tapi masak gitu. Eh kok jadi julid wkwkwk.


Adaptasi di Ternate tergolong mudah, berada di lokasi tempat tinggal yang mempunyai lebih banyak kemudahan dari pada di kabupaten, jelas patut disyukuri. Sedangkan dari faktor pertemanan saya pun bertemu kawan-kawan yang sama-sama suka jalan dan mau diajak bikin konten. Ya, di sinilah saya mulai mengenal dengan dunia perkontenan sosial media. Jadi tidak heran, meski tidak selalu tapi cukup sering akhir pekan kita habiskan untuk membuat konten atau hanya sekedar eksplore  sekitaran Ternate.

Satu hal yang membuat hidup saya berbeda ketika di fase Ternate ini adalah berkawan dengan teman-teman yang umurnya lebih muda daripada saya. Apalagi sejak tahun ketiga, mulai bertemu dengan anak-anak angkatan 4-5 tahun di bawah saya. Secara alamiah membuat mindset saya pun jadi berasa muda.


Lima tahun di Ternate, cukup banyak suka dan dukanya. Bersuka karena keberadaan teman-teman yang menyenangkan dan supportif, tapi juga berduka karena sempat beberapa kali saya harus ditinggalkan karena satu persatu teman-teman ini pindah. Yang tadinya saya kira rasa paling durja dari menjadi perantau adalah karena perpisahan ternyata lebih durja rasanya ketika ditinggalkan.


Terlepas dari segala kegundahan saya selama di Ternate, kota ini telah mengajarkan hal-hal berharga di hidup saya. Tentang ini pun sudah saya tuliskan dalam naskah video pendek "Ternate dalam Tiga Babak"


Terima kasih Ternate dan segala elemenmu. Terima kasih untuk semua manusia yang jalan hidupnya pernah bertemu di persimpangan jalan hidup saya selama di Ternate dan Maluku Utara. Untuk setiap gelak tawa dan air mata, untuk setiap hikmah dan rasa syukur, untuk setiap kenangan yang tak terlupakan.

Memori umbi di Maluku Utara berakhir di sini.


Friday, July 22, 2022

Memori Umbi - Babak 2 "Jailolo"

Melanjutkan kilas balik memori umbi babak 1 sebelumnya...

Sejak Oktober 2015, kisah perjalanan penempatan saya di Maluku Utara berpindah ke Jailolo, Kabupaten Halmahera Barat.

Bersama kawan-kawan di Halbar

Manusia hanya bisa berencana, pada akhirnya Tuhan yang menentukan jalan takdir kita. Saya pikir tadinya tidak akan lama bertugas di Maluku Utara, ya rencananya sih begitu, penempatan-nikah-ikut suami, eh malah batal nikah wkwkwk. Semua rencana berubah dan Oktober itu saya pindah dari Bacan ke Jailolo dalam keadaan patah hati. 

Harus beradaptasi di tempat baru sambil menghadapi masalah batin untuk menerima keadaan yang tidak sesuai harapan mungkin sedikit membantu. Saya berusaha untuk mencari hal yang bisa mengalihkan pikiran dari kegundahan. Ada yang bilang ini cara mengatasi patah hati jalur produktif. Betul, bisa dibilang selama di Halmahera Barat adalah fase terhancur-hancuran di hidup saya. Mengerjakan double job (teknis dan administrasi) sudah seperti kuda gila, jam lembur semakin tidak masuk akal, pola makan semakin tidak terjaga, belanja online semakin membabi buta. Hingga puncaknya saya sakit. Kena GERD dan TBC dalam waktu bersamaan. 

Aku dan Jailolo

Begitulah sekelumit getir di hidup saya. 

Meski begitu Jailolo menguatkan saya. Mengenal kawan-kawan di Jailolo yang super menyenangkan. Memang tidak seperti lukisan sempurna yang selalu dipenuhi warna dan bunga-bunga. Adakalanya ya kesabaran juga semakin diuji. Tapi itu semua menambah makna di kehidupan saya.

Di Jailolo, saya bisa menikmati sunset setiap sore, ya kecuali kalau lagi mendung ya.

Tempat sunset terbaik di Jailolo di Pantai Tuada

Di Jaololo, saya bisa mandi air panas pagi-pagi. Ada beberapa lokasi sumber air panas di Jailolo yaitu: di kolam bawah pohon beringin di FTJ, Pantai Galala dan di Desa Marimabati (ada semacam sendang gitu). Sayang banget saya coba cari-cari fotonya belum ketemu, nih.

Di Jailolo, saya bisa melampiaskan adrenaline rush saya buat kebut-kebutan di jalanan. Hahaha. Iya soalnya jalanan aspal di Jailolo-Sidangoli dan Jailolo-Sahu-Ibu termasuk masih bagus. Ya ada sih sebagian yang sudah rusak jalannya di beberapa lokasi. Bonus kalau cuaca cerah pemandangan sepanjang jalan pun menyenangkan.

Kalau di jalan begini bawaannya mau ngegas terus

Di Jailolo, saya sempat menikmati gerhana matahari. Magikal sekali waktu itu rasanya. Tengah hari bolong tiba-tiba menjadi gelap. Suara binatang-binatang malam tiba-tiba terdengar. Asli merinding, sih.

Di Jailolo, pertama kalinya saya mencoba makan ulat sagu. Makan 4-5 ekor kalau tidak salah, sampai akhirnya leher saya tiba-tiba tegang karena asam urat naik. Wkwkwk.

Dan saya pun doyan

Di Jailolo, ketemu teman-teman yang doyan keluyuran di jam kerja. Hahahaha. Nggak ding, memang sekalian turun lapangan kok.

Air Terjun di Desa Goal

Satu hal yang saya ambil hikmahnya dari perjalanan saya selama di Jailolo, yaitu bahwa banyak sekali yang perlu saya syukuri. Di antara Bacan dan Jailolo saya sempat kehilangan diri saya dan di Jailolo, meski lambat tapi saya mencoba menemukannya kembali. Meski dengan segala pelarian diri dan pikiran yang membuat saya berada di titik paling rendah di hidup saya. 


Aku dan Guguk

Terima kasih Jailolo.



Lanjutan babak 3

Wednesday, July 20, 2022

Memori Umbi - Babak 1 "Bacan"

Ini adalah seri tulisan saya yang akan menuliskan tentang cerita-cerita saya selama tinggal di Maluku Utara. Pada babak pertama ini akan membahas tentang kenangan saya waktu awal-awal penempatan. Yah, sekitar tahun 2014-2015.

Saya masih ingat betul waktu pertama kali tahu pengumuman penempatan. Dari tiga pilihan tujuan provinsi penempatan yang saya pilih, tidak ada yang terpilih jadi tujuan penempatan saya. Ya, Maluku Utara bukalah pilihan penempatan saya. Memang suratan takdir. Perasaan saya waktu itu sedih dan takut. Bahkan sempat beberapa malam saya habiskan untuk menangis. Meluapkan emosi yang saya rasakan waktu itu. Sedih karena pada saat itu pikiran bahwa penempatan di Indonesia timur seperti menjadi buangan, karena tentu saja jelas tidak banyak yang memilih. Lalu takut akan pergi ke tempat yang saya belum pernah tahu sebelumnya apalagi ini di kawasan Indonesia timur. Tapi perasaan itu ya hanya saya simpan dan rangkul sendiri, tidak ada yang bisa saya lakukan selain menjalaninya. 

Hingga akhirnya waktu keberangkatan tiba. Pesawat Garuda tujuan Ternate jadwalnya di jam dini hari. Sungguh perasaan saya bukannya sudah siap justru semakin kalut. Beruntung teman-teman kosan waktu itu sangat support mau mengantarkan kepergian saya di bandara. Meski ketika akhirnya saya masuk untuk boarding rasa galau muncul lagi. Tidak ada keinginan untuk ngobrol dengan teman-teman lainnya dan memilih untuk tidur saja. Bahkan sampai boarding naik pesawat pun saya masih dalam kondisi setengah tidur dan mengantuk berat.

Terima kasih teman-teman atas supportnya :)

Kalut. Mungkin satu kata ini paling tepat menggambarkan perasaan saya waktu itu. Pikiran kacau dan tidak sanggup berkata apa-apa. Meskipun sepanjang penerbangan saya pulas tertidur, tapi perjalanan dini hari itu terasa sangat melelahkan secara mental.

After Sunrise

Begitu terbangun, mata saya disambut semburat jingga dari arah timur, tidak terlihat matahari tapi ada tanda-tanda kehadirannya. Ini adalah pertama kalinya saya menyaksikan golden hour after sunrise dari atas pesawat terbang. 

Waktu itu tidak sempat memotret Gunung Gamalama, kalau ini Gunung Hiri

Begitu pesawat landing di landasan bandara, kami disambut mendung. Masih ingat betul waktu itu pilot mengucapkan kata-kata selamat datang dengan menyebutkan Gunung Gamalama di sebelah kiri kami. Saat itulah perkenalan resmi saya dengan Gunung Gamalama.

Ketika masih kurus hehehe

Beruntung pas kami datang lagi musim durian


Tiba di Ternate bukanlah tujuan akhir dari penempatan. Saya dan sepuluh orang lainnya yang sama-sama penempatan di Maluku Utara, hanya transit sementara di kota ini. Kami melapor dulu ke kantor provinsi untuk diberi pengarahan oleh Kepala Kantor Provinsi sekaligus mengkoordinasikan teknis keberangkatan kami ke satker di Kabupaten/Kota. Menyesuaikan jadwal kapal, keberangkatan kami pun jadi berbeda-beda. Ada yang langsung berangkat malam itu juga ada juga yang masih harus menunggu kapal.

Jujur saja, sampai detik itu seumur hidup saya belum pernah naik kapal laut sama sekali. Satu-satunya referensi perkapalan yang saya tahu adalah Kapal Titanic. Jadi yah yang ada jadi terbayang hal-hal menakutkan. Namun setelah dijalani naik kapal laut ya biasa aja. Asalkan cuaca sedang bagus dan laut tidak beromak dan dapat kamar di kapal perjalanan menggunakan kapal laut terasa nyaman juga. Kalau tidak dapat kamar ya jadinya diranjang deck kapal yang panas dan gerah.

Sayang, saya tidak ada dokumentasi selama perjalanan menggunakan kapal laut dari Ternate ke Bacan. Ya penempatan pertama saya adalah di Kabupaten Halmahera Selatan.

Tiba di Bacan, kami disambut dengan baik oleh pegawai-pegawai di sana. Banyak yang suka bercanda membuat kami cepat akrab. Mereka pun dengan terbuka menawarkan bantuan jika kami membutuhkan. Dukungan seperti ini memang sangat penting apalagi bagi kami yang penempatan kerja jauh seperti ini, yang amat sangat membutuhkan dukungan baik secara mental maupun material wkwkwk. Maklum masih calon pegawai jadi income-pun belum dapat full. Eh ternyata tidak ada rumah dinas, jadi terpaksa harus tinggal di kos-kosan yang lumayan juga harganya untuk saya waktu itu. Tapi pada akhirnya ya dijalani saja, kan katanya akan selalu ada rezeki yang datang dari arah yang tidak pernah kita duga.

Bersama kawan-kawan kerja di Halmahera Selatan

Saya bekerja di Halmahera Selatan sejak April 2014 hingga dipindahtugaskan ke Halmahera Barat pada Oktober 2015. Tentu bukan waktu yang singkat, kalau mau dituliskan akan ada banyak sekali kisah suka-duka saya selama di Bacan. Seperti kisah kecelakaan saya yang cukup melegenda di kalangan internal kami wkwkwk.

Kawan penempatan saya: Tantri & Diah


Akhirnya, melalui tulisan ini saya ingin berterima kasih pada orang-orang yang telah sangat berbaik hati selama saya di Halmahera Selatan:
  1. Mas Ipin (Arifin), senior panutan kami yang sudah membimbing saya dan dua kawan saya, tidak hanya untuk pekerjaan tapi juga petuah-petuahnya untuk dapat survive di Bacan hehe.
  2. Mbak Umi, sejak kami datang sudah banyak sekali bantuannya, mengizinkan kami numpang dulu di kosannya, membantu kami cari kos-kosan, banyaklah pokoknya.
  3. Udin, entahlah apa jadinya kami selama di Bacan kalau tidak ada manusia super baik ini.
  4. Pegawai-pegawai di Halmahera Selatan lainnya yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu, terima kasih untuk dukungan dan pelajaran yang pada akhirnya dapat saya ambil hikmahnya.
Terima kasih.

Lanjut ke babak 2 "Jailolo"

Wednesday, March 7, 2018

Sore di Morotai

Hai hai hai...
Ini adalah side-post dari kisah perjalanan saya selama di Pulau Morotai. Jadi selain tujuan utama saya yang nawaitu ingin sekali mengunjungi Pulau Dodola, selama lima hari di Morotai saya juga menyempatkan diri untuk mengunjungi spot-spot lain di pulau induknya. Ini pun juga tidak akan terjadi tanpa rekomendasi dan ajakan baik dari teman-teman di Kantor Morotai. Thanks tho!

Beberapa spot yang saya dan teman-teman Morotai kunjungi di Pulau Morotai hanya yang dekat-dekat saja, soalnya saya memang hanya punya waktu di sore hari, di luar jam kerja. So, here it is, beberapa spot kece rekomendasi di Pulau Morotai yang sempat kami kunjungi dan tentunya bukti foto-foto sunset yang kece badai.

Army Dock
Ada spot sunset kece banget di Morotai yang namanya Army Dock. Ini dulunya adalah tempat berlabuhnya kapal-kapal tentara jaman perang dulu. Lokasinya di sisi barat Pulau Morotai, jadi cocok banget buat hunting sunset.




Army Dock ini berupa teluk tapi ada beberapa daratan selebar 2-3 meter yang menjorok ke laut, disini kita bisa duduk-duduk santai sambil menikmati nuansa sore yang syahdu.





D'Aloha Resort
Dari Army Dock kami perpindah ke lokasi selanjutnya, yaitu di pantai sekitaran Resort D'Aloha. Resort ini merupakan satu-satunya resort mewah di Pulau Morotai. Biar begitu bagi pengunjung yang mau ke pantai tinggal masuk-masuk aja tuh. Kayak kami yang pede-pedenya nongkrong di pantainya barengan sama bule-bule lain pengunjung resort. Pffttt.

Lokasi spot ini berada di sisi barat Pulau Morotai juga jadi cocok banget buat sunset-an. Disini pantainya berpasir putih dan ombaknya sepoi-sepoi menghanyutkan gityu.



Pada saat kami kesini, suasana langit memang sedang mendung mengundang gitu. Meski gak dapet "matahari"-nya tapi selama disini kami masih beruntung dapat menikmati golden hour-nya.





Nah, itu tadi secuil cerita saya waktu sunset-hunting di Morotai. Di post selanjutnya kita bahas soal sunrise-nya Morotai yaah.
Terimakasih!
Fadil, Nafis dan Ricci yang telah sudi memanjakan saya (dan Mas Fajar & Mba Endah) berkeliling menikmati senja di Morotai sekaligus jadi tukang foto keliling dadakan untuk kami. Hehehe.

Ini nih, anak-anaknya
See you next trip!

Tuesday, March 6, 2018

Maldives! Eh. Morotai!

Hai hai hai...
Apa kabar semuanya?
Setelah setahun vacuum dari dunia perbolangan akhirnya saya kembali. Yaiyyy!
Sedih memang, setahun kemaren saya sakit jadi gak pergi kemana-mana, doakan yah temans semoga tahun ini dan seterusnya saya sehat-sehat terus dan bisa kelayapan lagi. hehe.

Alhamdulillah akhirnya bulan ini saya dapat kesempatan untuk menghirup udara kebebasan. Udara kebahagiaan. Oksigen yang sejati untuk jiwa saja.

Jadi, kebetulan saya dapat tugas ke Kabupaten Pulau Morotai. Oh, iya, sejak November 2017 lalu saya sudah dipindahtugaskan di Kantor Wilayah dooong. Akhirnya kan finally alhamdulillah yaahhh sudah terbebas dari tugas perkerjaan di level kabupaten yang mencekik jiwa dan raga itu. Hohoho. 

Hayyyy I'm Back!!!

Singkat cerita, berangkatlah saya ke Morotai. Perjalanan dari Ternate ke Morotai ditempuh sekitar 30 menit menggunakan pesawat ATR-nya Wings-Air. The one and only maskapai yang saat ini menyediakan rute Ternate-Morotai. Ini pun udah kabar baik lho, dulu cuma ada Suzy Air yang maskapainya cuma muat sedikit orang itu plus jadwal terbangnya cuma hari-hari tertentu saja.

Tarif pesawat Ternate-Morotai ini murah kok gaess. Cuma 400ribuan dan relatif flat harganya. Sama kan kayak harga tiket Air Asia Jakarta-Bali. Jadi, anggaplah Morotai ini Bali-nya di Maluku Utara gitu yah. Iyain please...

Note: Karena sebetulnya saya di Morotai selama 5 hari dengan membawa agenda terselubung lainnya, jadi yang saya sampaikan disini hanya kegiatan-kegiatan have fun-nya saja ya Sodara-Sodara. Untuk estimasi waktu itenerary bisa disesuaikan.

Selasa, 20 Februari 2018 
Pukul 12.45 WIT
Start dari Ternate
Pesawat ke Morotai dari Ternate terbang setiap hari pukul 11.55 atau lebih molor, seperti yang saya alami, saya baru benar-benar naik ke pesawat sekitar jam 12.45. Sangat Indonesia. *applause*

Ngelewatin daratan Jailolo

Ini kayaknya sekitaran Kecamatan Sahu - Halmahera Barat
Lalu kira-kira setengah jam kemudian, saya terbangun (yess biar cuma terbang setengah jam saya teteup bisa bobo cantik di pesawat, hahaha) di atas pemandangan seperti ini.
Hah! Bukannya saya terbang mau ke Morotai, kenapa malah ke Maldives? 

Maldives!
Pukul 13.31 WIT - Tiba di Morotai
Pesawat landing di Bandara Pitu di Morotai. Lucu yah namanya, pitu, gak tahu deh yang siji sampe enem ada dimana. #krikrikrik

Bandara Pitu masih dalam proses perluasan, jadi waktu saya tiba disana kondisinya masih memprihatinkan banget. Ruang kedatangannya hanya ruangan seluas empat kali lima meter (perkiraan saya aja sih ini, pokoknya suempiiit pol) yang digunakan untuk kedatangan penumpang sekaligus untuk pengambilan bagasi. Saking sempitnya waktu mau ambil bagasi, sampe nyaris saya bikin bule jatuh nabrak banner di ruangan itu gara-gara bersenggolan. Sekali lagi saya tekankan, bule kesenggol karena ruangan yang sempit ya, bukan karena saya yang kelebaran. -_-


Note lagi:
Highlight destinasi wisata di Morotai ada di Pulau Dodola dan sekitarannya. Meskipun sebetulnya ada juga spot wisata di pulau induknya. Tapi untuk postingan ini saya fokus akan bahas soal Pulau Dodola dan sekiratannya.

Perjalanan saya menuju saya lakukan waktu pagi hari. Jadi kalau dari pembaca budiman sekalian mau bikin itinerary ke morotai, waktu siang-sore bisa diisi dengan jalan-jalan sight-seeing di pulau induk morotai.

Landmark Pulau Morotai

Sabtu, 24 Februari 2018 - Pagi (9.00 WIT)
Jam 8 pagi saya sudah siap meluncur. Tapi apa mau dikata ternyata ada miskomunikasi di pesanan kapan speed yang kami pesan. Alhasil, kami harus nego-nego lagi cari carteran speed lainnya.

Oh iya, kami itu saya dan rombongan yah. Karena saya melakukan perjalanan ke Dodola dan sekitarnya ini barengan sama 4 orang lainnya. Kelemahan island-hoping di Morotai ini ya gini, mahal di transportasinya. Gak cuma di Morotai ding, hampir semua di Maluku Utara. Belum ada transportasi laut reguler untuk tujuan wisata ke pulau-pulau sekitaran Dodola, makanya mau gak mau pengunjung harus carter speed. Udah gitu, speed di Pelabuhan Daruba (nama pelabuhan speed di Morotai) rata-rata burukuran besar. Otomatis membuat biaya sewa speed-nya jadi mahal kan. Bagus kalau yang ikut speed banyak jadi bisa rame-rame patungan. Nah kalau cuma segelintir manusia nekat begini ya emang jadinya tekor banyak sih.

Pelabuhan Daruba
Pulau Pasir

Dari Pelabuhan Daruba tujuan pertama kami adalah Pulau Pasir. Hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit saja untuk sampai di pulau kecil ini. Pulau Pasir ini merupakan segundukan pasir berbentuk oval dengan diameter mungkin sekitar 12-14 meter. Bener-bener cuma gundukan pasir gitu gaess. Trus ombaknya jadi random gitu, unik banget pokoknya. Cuma karena gak ada tempat berteduh kalau kelamaan di pulau ini bakalan mimisan deh. Soalnya puanaaasss poooolll.






Pulau Dodola
Kami di Pulau Pasir gak lama, mungkin cuma 15 menit. Soalnya saya udah gak tahan sama panasnya. Menyengat di ubun-ubun.

Setelah dari Pulau Pasir kami berpindah ke tujuan lainnya, tidak lain lagi, yaitu Pulau Dodola. Highlight wisatanya Morotai. Dari Pulau Pasir ke Pulau Dodola memakan waktu sekitar 10 menit saja. Selama perjalanan di speed boat kita bisa menikmati pemandangan lautan morotai yang subhanallah tjakep bingit pokoknya.

Gak kerasa kami tiba di Pulau Dodola. Dari arah kami datang, speed boat melaju dari Pulau Dodola Kecil ke Pulau Dodola Besar. Saat laut surut, seperti ketika kami kesini, kita bisa melihat pasir timbul yang menghubungkan antara Pulau Dodola Kecil ke Pulau Dodola Besar.

Pasir timbul di Dodola

Pasir timbul di Dodola dan pengunjung alay
Gradasi lautan Morotai


Apa saja yang bisa dilakukan di Pulau Dodola ini? Banyak.

  1. Berenang di pantai
  2. Snorkling, alatnya sewa dari Pulau induk ya.
  3. Kayaking, yup disini disewakan kayak bagi yang berminat.
  4. Duduk-duduk menikmati pantai yang indah aduhai syalalala.
  5. Makan bagi yang kelaparan, tapi bawa makanan sendiri yaah soalnya gak ada yang jualan di Pulau Dodola.
  6. Minum kelapa muda langsung dari pohonnya, eh yang baru dipetik dari pohon maksudnya. Tapi klo ini mesti cari penjaga di Pulau ini yah, trus bayar. Jangan asal ambil sendiri, itu namanya mencuri.
  7. Mancing. Pastilah kalau yang ini. Bagi yang hobi mancing pasti bakalan suka mancing disini, soalnya di lautan Morotai ini kaya akan ikan, terutama variasi ikan dasar, ikan yang hidup di dasar laut di sekitaran karang-karang, makanya disebutnya ikan dasar. 
  8. Bermalam. Yup, di Pulau Dodola ini tersedia beberapa rumah/cottage unyu-unyu gitu. Tapi saya gak yakin fasilitasnya lengkap dan memadai. Kalau kata teman saya yang pernah mengantar tamu dari Jakarta, yang ingin menginap di cottage di Pulau Dodola, mereka harus menghubungi pengelola cottage dulu sebelum berangkat ke Pulau Dodola. Lalu kesulitan selanjutnya adalah soal makanan. Karena disini tidak disediakan makanan. Jadi teman saya ini harus balik lagi ke Pulau induk, untuk beli makanan. Ribet banget. 
  9. Camping. Situasi ini mungkin lebih cocok buat yang suka tantangan survival yaah. Bisa mancing ikan lalu dibakar & makan rame-rame, lalu tidur malamnya camping pakai tenda dibawah sinar bulan dan bintang-bintang. Sungguh syahdu sekali.
  10. Sight Seeing saja. Kalau ini pilihan yang saya lakukan selama di Pulau Dodola. Karena kalau mau snorkling saya pikir nanti saja di destinasi selanjutnya. Jadi selama disini saya cuma berjalan dari Dodola Besar ke Dodola Kecil. Jalan disini harus banget lepas alas kaki, soalnya rugi banget kalau gak merasakan lembutnya pasir di Dodola. Yess, lembuuuuut banget. Kayak tepung saking halusnya.


Look at that sands!

Kapa Kapa!!!
Dari Pulau Dodola kami lanjut ke Kapa Kapa. Hanya membutuhkan waktu sekitar 5 menit (kayaknya, pokoknya cepet). Di sini adalah spot snorkling dan diving. Jadi ada area yang dangkal tapi banyak terumbu karang warna-warninya dan ada juga area yang lebih dalam yang jadi spot diving. Di sini yang katanya ada kapal perang karam di dasar lautnya.

Soooo, tanpa banyak babibu, begitu tiba di spot snorkling, saya langsung bersiap pakai google dan snorkle. Begitu mesin speed boat mati, saya langsung nyebuuuurrr. Begitu beres pasang fin dan dapat petunjuk guide kami, tentang spot-spot dimana saja yang bagus langsunglah saya meluncur ke arah yang ditunjuk.




Di Kapa Kapa ini kami paling banyak menghabiskan waktu. Mungkin sampai 2 jam kami ngambang-ngambang ngalor ngidul di sekitaran Kapa Kapa ini. Kalau bukan karena lapar dan kepala mulai berkunang-kunang mungkin saya masih mau lanjut, karena snorkling disini tuh juaraaaak banget. Airnya tenang, gak berarus, lalu cuaca yang cerah juga sangat mendukung jarak pandang di dalam air, belum lagi karang-karang dan ikan di sini yang warna-warni cantik aduhai banget.

Tapi maaf, saya menyesal gak bawa action-cam, jadi gak ada dokumentasi bawah laut di Kapa Kapa ini. Doakan yaah semoga ada kesempatan lain lagi untuk mengunjungi Kapa Kapa ini lagi. Seriously, if i have the chance to visit Morotai again, i won't miss Kapa Kapa, and you should too!





Kalau kamu gak pinter-pinter amat berenang, atau bahkan belum pernah berenang sama sekali, jangan kuatir di Kapa Kapa ini yang kamu butuhkan cuma pelampung. As long as kamu ngambang-ngambang kamu gak akan kemana-mana karena selama saya snorkling disini beneran gak ada arus. Rasanya kayak lagi di suatu kolam raksasa yang punya pemandangan bawah laut surgawi yang menakjubkan.


Zum Zum Mc Arthur Island
Setelah puas maen air di Kapa Kapa, kami lanjut ke Pulau Zum Zum. Memakan waktu sekitar 5-10 menit dari Kapa Kapa ke Zum Zum. Aslinya masih gak paham kenapa pulau ini jadi salah satu tujuan wisata, karena waktu tiba disana agak zonk gitu. Ada dermaga yang sudah rusak dan terabaikan, meski ya tetap ada dermaganya yang masih bagus. Cuma disayangkan saja, kenapa gak dimusnahkan saja dermaga lamanya, biar lebih estetik, jangan menunggu dermaga rusak dimakan jaman lalu luruh di lautan, itu kan namanya nyampah. Upss, sorry jadi ngomel-ngomel.

Setelah melewati dermaga, akan ada gerbang masuk pulau, yang makin bikin zonk lagi. Pintu gerbangnya jadi kayak gubuk derita gitu. Ada kain-kain buluk menggantung gitu, ada semacam dapur darurat lengkap dengan peralatan masak yang sedikit berdebu. Semacam ada seseorang yang tinggal disini dengan kondisi serba terbatas begini.

Dermaga Pulau Zum Zum
Lanjut melangkah lebih dalam lagi di Pulau Zum Zum, kita akan disuguhi jalan setapak yang di kelilingi taman dengan tanaman-tanaman bunga ala kadarnya dan beberapa gazebo yang tak terurus. Lalu agak ke dalam tapi masih di tepi pulau ada monumen Mc Arthur, which is gue gak tahu dia siapa. I'm sorry :|

Tapi karena Pak Fakir maksa-maksa buat foto di patung monumennya dan saya gak enak buat nolak, jadilah saya foto di depan patung, padahal aslinya gak minat sama sekali. Baru pas udah balik baru saya sadar kalau dari semua foto yang dijepretin sama blio gak ada yang gak kepotong patungnya, bahkan tambah lagi di semua foto sepertiga frame adalah tangannya si bapak. Ha-ha-ha.

Maaf ya Om Arthur, cuma keliatan kakinya doang :'(

Nah, di sisi lain pulau Zum Zum ada semacam "Hollywood-sign" nya pulau ini. Tulisannya begini:


Selain mengagumi "keunikan" pulau Zum Zum ini, kalau kesini jangan lewatkan buat main airnya ya. Soalnya sama kayaknya pantai-pantai di sekitaran Morotai-Dodola ini, di Zum Zum ini juga airnya jernih, pasirnya putih, lalu agak menjorok ke laut banyak terumbu karang dan ikan-ikan juga.

Cuma perlu hati-hati ya kalau lagi main-main di pantainya, soalnya ada bangkai besi sisa-sia kapal perang, kayak yang saya jumpai ini:

Yang item-item itu bangkai besi kapal perang
Di Zum Zum kami manfaatkan waktu untuk makan siang bekal yang kami beli di pulau induk. Catat yaahh kalau mau island-hoping di Morotai ini, wajib bawa bekal dan jangan harap ada yang jual pop mie disini.

Zum Zum adalah destinasi terakhir island-hoping kami ini. Setelah kenyang dan puas bermain kami langsung cuss kembali ke pulau induk.


See you again Dodola ^^
Last but not least, terimakasih banyak!

  1. Gusti Allah Yang Maha Kuasa, yang telah menciptakan keindahan surgawi di bumi Morotai;
  2. Ibu dan Bapak yang saya lupa gak pamit kali ini, but I know they're always pray for my best;
  3. Bos saya, yang telah mengutus saya untuk bertugas ke Morotai, jadi hemat di ongkos transpot hahaha;
  4. Rekan-rekan kantor di Morotai, atas keramah-tamahan dan segala macam bantuan yang luar biasa;
  5. Mas Fajar dan Mbak Endah, yang sudah berkenan mengijinkan saya jadi obat nyamuk di honey-honey-nya, hahaha. 
  6. Pak Fakir, guide kami dengan cerita pengalamannya luar biasa;

Sekali lagi terimaksih untuk semua yang sudah membantu saya selama perjalanan ini, perjalanan menyenangkan ini tidak akan berkesan tanpa kebaikan kalian.

Oh, iya. Terimakasih para fotografer dadakan yang telah sudi jepret saya: Pak Fakir dan Ricci, tanpa kalian jelas tidak akan lengkap postingan ini tanpa penampakan wujud saya. wkwkwk.


See you next trip!