Showing posts with label Maluku Utara. Show all posts
Showing posts with label Maluku Utara. Show all posts

Monday, April 22, 2019

Tanjung Waka adalah Pantai Terindah!

Kali ini saya berkesempatan menyambangi Kepulauan Sula! Ikuti keseruanku selama di Sanana (Ibu kota Kabupaten Kepulauan Sula) yuk! 


Jadi, akhirnya saya pergi ke Kepulauan Sula dalam rangka tugas kantor. Asli cukup was-was juga karena membayangkan akan pergi ke kabupaten yang tergolong remote area ini. Untungnya rombongan kami masih dapat tiket pesawat dari Ternate menuju Sanana (ibukota Kabupaten Kepulauan Sula).

Ada 2 alternatif transportasi yang dapat digunakan untuk menuju Sanana. Pertama menggunakan pesawat, memang tidak setiap hari tapi ada asal cuaca bagus ya berangkat. Kedua, menggunakan transportasi laut yaitu kapal, kapal pun juga tidak setiap hari, hanya saja jelas waktu tempuhnya lebih lama dan lebih melelahkan.

Boarding Pas Pesawat Trigana

Saya berangkat dari Ternate menuju Sanana menggunakan pesawat Trigana, ya karena memang tidak ada maskapai lain yang melayani penerbangan menuju Sanana. Pesawatnya kecil, bahkan lebih kecil daripada Wings Air.

Waktu tempuh dari Ternate ke Sanana menggunakan pesawat kurang lebih sekitar 45 menit. Di Sanana pesawat mendarat di Bandara Emalamo. Begitu turun dari pesawat saya disambut dengan suasana pemandangan yang hijau-hijau.

Suasana di area Bandara Emalamo


Bandara Emalamo

Ruang Tunggu Bandara Emalamo

Klaim Bagasi di Bandara Emalamo

Sesuai tugas, saya akan berada di Sanana selama 4 hari. Tentunya di sela-sela melaksanakan tugas tidak ada salahnya menyempatkan menikmati keindahan alam di Sanana ini, kan. Kan katanya work hard play hard.

Berikut beberapa spot wisata alam yang saya kunjungi selama di Sanana:

1. Wisata Mangrove Wakayoya - Desa Man-gega
Pada saat saya ke lokasi ini sebenarnya belum resmi dibuka, bahkan jembatan kayunya masih belum selesai dibangun, tapi jujur saja saja memang lokasinya bagus dan pemandangannya juga indah dengan perpaduan pantai, perbukitan dan tentunya hutan bakau.


jembatan dermaga yang belum selesai dibangun





2. Pulau Fukuweu atau Pulau Kucing
Pulau kecil ini terletak di ujung utara Pulau Sulabes (pulau dimana Sanana berada). Untuk menuju ke Pulau Fukuweu ini kita perlu mencarter kapal dari desa Fukuweu. Di lokasi penyeberangan sudah ada banyak kapal yang siap untuk ditumpangi.

Desa Fukuweu




Jarak dari Desa Fukuweu ke Pulau Kucing cukup dekat, kurang lebih hanya membutuhkan waktu tempuh sekitar 5-10 menit. Begitu tiba di Pulau Kucing kita akan disambut dengan gapura dengan patung-patung kucing.


Kenapa namanya Pulau Kucing? Konon katanya pulau ini dulu adalah tempat pembuangan kucing, dan tak heran pula di pulau ini ada banyak kucing.


Nah, apa yang bisa dilakukan di Pulau Kucing ini? Biasanya pengunjung yang datang ke sini ya sight-seeing melihat-lihat keindangan di sekitaran Pulau Kucing ini. Mungkin bisa juga berenang di sekitaran pulau. Di satu sisi Pulau Kucing ini terdapat jembatan yang menghubungkan beberapa gazebo di atas laut, pengunjung dapat menyewa gazebo lalu memesan pisang goreng, goraka (air jahe) atau kelapa muda. Oh ya di Pulau Kucing ada penjual yang menyediakan makanan dan minuman, tapi ya menu standar aja ya. 


ini gazebonya

di seputaran Pulau Kucing ada cukup banyak tempat untuk duduk-duduk seperti ini

Salain bisa berjalan berkeliling di jembatan/dermaganya, kita juga bisa sedikit hiking ke atas bukit Pulau Kucing, tidak terlalu tinggi sebenarnya, hanya jalurnya cukup curam saja.

jalur untuk menuju puncak bukit 

di puncak bukit ada gardu pandang seperti ini

habis selesai kerja banget ini kami ke sini jadi masih pakai baju batik

Dari gandu pandang di puncak bukti di Pulau Kucing ini kita bisa melihat panorama laut dan Pulau Sulabesi. Selain laut, ternyata di dalam Pulau Kucing ini ada danau juga, lho. Danaunya lumayan luas dan sudah disiapkan gazebo-gazebo untuk tempat bercengkrama dan makan-makan juga. Katanya sih ada yang mancing di danau ini juga.

nampak Desa Fukuweu tempat kami menyebrang sebelumnya

lautnyaaa biruuuu cantik banget

ini danau di dalam Pulau Kucing

lumayan luas kan

3. Tanjung Waka - Desa Fatkauyon
Nah, ini sih highlight utama dari perjalanan saya ke Kepulauan Sula ini. Awalnya saya tidak ada bayangan sama sekali soal Tanjung Waka, bahkan saya baru pertama kali mendengarnya waktu diajak pergi ke sini. 

Sebelum berangkat ke Tanjung Waka, kami perlu menyiapkan perbekalan. Karena di Tanjung Waka tidak ada orang yang berjualan makanan atau minuman. Lalu untuk menuju ke sana juga perlu berangkat pagi-pagi, karena perjalanan yang cukup jauh, yaitu berada di paling ujung selatan Pulau Sulabes.

di sini nih lokasi Tanjung Waka

Perjalanan dari Sanana menuju Tanjung Waka ini ditempuh kurang lebih satu jam. Untuk jalurnya bervariasi, mulai dari yang jalannya masih aspal bagus, lalu aspal yang mulai rusak, lalu ada jalur sirtu yang geradakan juga, selain jalan yang kanan-kirinya kebun juga akan melalui jalan-jalan desa. Ada yang unik saya menemui beberapa desa yang semua rumahnya dicat dengan warna biru. Sayang tidak sempat saya foto.

Sesampaikanya di lokasi Tanjung Waka, masih dari dalam mobil saya sudah tercekat kagum. Sepanjang satu sisi jalan di Tanjung Waka terpampang lautan biru magis yang begitu memesona, belum lagi hamparan pasir putihnya yang menambah cantik perpaduan warna panorama ini. Luar biasa. Indah sekali. 




Ke pantai dengan pasir putih dan laut biru tosca saya sudah pernah dan saya pun terkagum-kagum. Tapi pantai dengan pasit putih dan laut biru tosca namun membentang sepanjang Tanjung Waka ini pertama kalinya. Don;t get me wrong setiap pantai punya ciri khasnya masing-masing, punya karismanya sendiri-sendiri, termasuk pantai di Tanjung Waka ini, karismanya luar biasa memukau. Apalgi mengingat bagaimana perjuangannya untuk bisa mencapai lokasi ini, tidak mudah. Jadi, ketika mata ini dimanjakan keindangan alam Tanjung Waka yang luar biasa ini, rasanya memang sepantas itu Tanjung Waka menjadi pantai terindah versi saya. 



Saya benar-benar merasa beruntung sekali bisa sampai di pantai Tanjung Waka ini. Pengalaman ini bisa jadi akan mejadi pertama kali dan satu-satunya di hidup saya.




Jadi, ngapain aja di pantai Tanjung Waka? Saya sih cuma strolling around sepanjang pantai, foto-foto sampai bosan. Lalu lapar, makan bekal. Habis makan ngantuk, akhirnya baring-baring di kursi-kursi yang disediakan di pantai ini, sampai akhirnya benar-benar terlelap. Ah nikmat sekali bisa tidur siang di pantai terindah. Hehehe.



Sebenarnya bisa saja kalau mau berenang di sini, tapi karena memang minim persiapan, saya tidak bawa baju ganti, jadi ya nggak nyemplung deh. 



Well, segitu aja ya cerita perjalanan saya ke Kepulauan Sula. Saya pengen cerita juga soal perjalanan kembali dari Sanana ke Ternate yang akhirnya ada pembatalan pesawat jadi terpaksan saya naik kapal. Tapi berhubung traffic di blog ini terkait informasi perkapalan cukup tinggi (ceilah) sepertinya akan saya biat postingan terpisah ya.

Akhir kata, terima kasih untuk teman-teman di Kepulauan Sula yang sudah bersedia membantu kami jalan-jalan di Sanan dan sekitarrnya ya, banyakan Albert sih yang bantuin. Kalau kamu baca catper ini, makasih ya!

Lalu juga terima kasih untuk teman perjalanan saya: Ibu Mardian dan Riri.

Okay guys. See you next trip!

Friday, November 16, 2018

Menikmati Pantai Pribadi di Talaga Nita

Hae gaes!

Hehe, di tengah-tengah semaraknya dunia per-vlog-an ini, entah kenapa saya masih terpanggil untuk kembali di blog ini. Sepertinya menulis tetap menjadi media nostalgia terbaik pilihan saya.


Kali ini saya mau menulis tentang petualangan saya hari ini. Kenapa petualangan? Karena hari ini saya bersama beberapa kawan "nekad" untuk menuju lokasi ini dengan hanya berbekal petunjuk kompas mulut alias bertanya ke orang-orang dan sedikit informasi dari video-video di youtube yang pada akhirnya tidak terlalu membantu.

Berawal dari akhir bulan November lalu, sewaktu saya berkunjung ke Pulau Morotai. Salah satu pegawai disana bertanya kepada saya, "Mbak, sudah pernah ke Talaga Nita yang di Ternate? Bagus itu tempatnya mbak." Tentu jawabannya adalah belum pernah, karena memang saat itu pertama kalinya saya mendengar tentang Talaga Nita. Lalu seperti biasanya, dengan penuh penasaran saya kulik lagi informasi tentang Talaga Nita ini, yang pada kesimpulannya berikut:

  1. Talaga Nita terletak di Pulau Ternate, tepatnya di antara Pantai Suladamaha dan Pantai Jikomalamo.
  2. Awal mula masyarakat mulai diperbolehkan mengunjungi Talaga Nita ini ketika ada perayaan Legu Gam, dimana pada waktu itu terdapat sarana transportasi kapal motor atau speed yang disediakan untuk menuju Talaga Nita.
  3. Seiring dengan semakin banyak orang yang mengetahui keberadaan Talaga Nita ini, mulai munculah jalan setapak untuk menuju lokasi ini, Start jalan setapak dimulai dari hole Pantai Jikomalamo yang paling ujung.
  4. Karena semakin banyak orang yang menggunakan jalan setapak ini, ternyata berpengaruh pada penyewaan kapal motor dan speed, sehingga ada pihak yang berupaya melakukan penutupan jalur jalan setapak,
*Informasi di atas dihimpun dari berbagai sumber ya.

Nah, tibalah waktu saya dan kawan-kawan berangkat ke lokasi Talaga Nita ini. Jalur yang akhirnya kami tempuh adalah jalur darat melalui jalan setapak dekat hole kedua Pantai Jikomalamo. Hmm dibilang jalan setapak juga sebenernya tidak setapak juga sih. Karena ternyata kami salah jalan wkwkwk. Tapi berbekal kesotoyan saya akhirnya tetap terabas saja. Melewati semak-semak yang lumayan rimbun dan melewati bebatuan pinggir jurang kami akhirnya melihat secercah harapan karena akhirnya mulai terdengar suara orang yang bersumber dari pantai dekat Talaga Nita. Lega sekali rasanya hahaha.

Udah kayak Jejak Petualang belum, nih?

Aslinya was-was ini bener nggak sih jalurnya.


Waktu kami muncul ke area pantai, sudah ada sekumpulan anak muda yang bermain di tepi pantai di Talaga Nita. Terlihat ekspresi heran dari raut wajah mereka ketika melihat kami muncul dari jalur yang (nampaknya) tidak lazim. Hahaha mereka tidak tahu bahwa sebenernya kami khususnya saya lega banget akhirnya bisa sampai di Talaga Nita ini. :) 

Hal pertama yang kami lakukan sesampaiknya di area Talaga Nita adalah melihat-lihat area rumah (atau istana?) di ujung Talaga Nita. Rumah yang jelas sudah sangat terabaikan ini masih berdiri tegak menjadi background pemandangan di Talaga Nita.

Agak horror ya?


Usai foto-foto di area rumah, kami langusng melipir ke area pantai. Oiya, dari rumah ke pantai terdapat sebuah talaga, mungkin ini alasan kenapa namanya Talaga Nita. Nita sendiri diambil dari nama salah satu istri/permaisuri Sultan Ternate.

Telaganya


Perlu berhati-hati waktu melewati telaga ya, karena banyak dihuni binatang-binatang. Kami sih cuma lihat ada biawak ya. Barang kali ada buaya atau aligator kan tidak ada yang tahu.

Belum siap udah dijepret -_-

Selebihnya selama di Talaga Nita waktu kami habiskan untuk bermain-main, berenang dan snorkeling di pantai. Nggak ada foto-foto underwater sih, jadi dokumentasinya dikit nih, hehe.





Si hobby banget lompat ke air

Puas bermain air laut, tiba saatnya kami kembali pulang. Untuk kembali ke area Pantai Jikomalamo kami tidak ikut rute berangkat kami yang membahayakan banget itu hahaha. Kami ditawari jalan bareng seorang bapak. Kayaknya bapak ini suaminya ibu pemilih warung. Oh iya, lupa cerita di depan di Pantai Talaga Nita ini ada warungnya, jual pisang goreng, mie instan dan minuman, ya standar begitu aja.

Rute kembali kami melewati jalan setapak yang lebih properlah. Walaupun ya tetap berasa juga jalan hutannya. Tapi setidaknya lebih aman sih.

Melewati jalan setapak di belakang area rumah

Bapaknya mulai buka jalur, memangkas ranting atau tumbuhan menjalar yang menghalangi jalan




Mulai memasuki area hutan/kebun

Lalu mulai melewati area ladang yang banyak ditanami pisang

Setelah keluar area ladang mulai kelihatan deh Pantai Jikomalamo

Ini bapak penyelamat kami



Oke, sekian ya catatan perjalanan kali ini. See you next trip!


Special thanks!

Sri Juls, Herry, Fikri dan Fadil

Foto-foto dalam catatan perjalanan ini semua didokumentasikan oleh Fadil