Showing posts with label Halmahera Barat. Show all posts
Showing posts with label Halmahera Barat. Show all posts

Friday, July 22, 2022

Memori Umbi - Babak 2 "Jailolo"

Melanjutkan kilas balik memori umbi babak 1 sebelumnya...

Sejak Oktober 2015, kisah perjalanan penempatan saya di Maluku Utara berpindah ke Jailolo, Kabupaten Halmahera Barat.

Bersama kawan-kawan di Halbar

Manusia hanya bisa berencana, pada akhirnya Tuhan yang menentukan jalan takdir kita. Saya pikir tadinya tidak akan lama bertugas di Maluku Utara, ya rencananya sih begitu, penempatan-nikah-ikut suami, eh malah batal nikah wkwkwk. Semua rencana berubah dan Oktober itu saya pindah dari Bacan ke Jailolo dalam keadaan patah hati. 

Harus beradaptasi di tempat baru sambil menghadapi masalah batin untuk menerima keadaan yang tidak sesuai harapan mungkin sedikit membantu. Saya berusaha untuk mencari hal yang bisa mengalihkan pikiran dari kegundahan. Ada yang bilang ini cara mengatasi patah hati jalur produktif. Betul, bisa dibilang selama di Halmahera Barat adalah fase terhancur-hancuran di hidup saya. Mengerjakan double job (teknis dan administrasi) sudah seperti kuda gila, jam lembur semakin tidak masuk akal, pola makan semakin tidak terjaga, belanja online semakin membabi buta. Hingga puncaknya saya sakit. Kena GERD dan TBC dalam waktu bersamaan. 

Aku dan Jailolo

Begitulah sekelumit getir di hidup saya. 

Meski begitu Jailolo menguatkan saya. Mengenal kawan-kawan di Jailolo yang super menyenangkan. Memang tidak seperti lukisan sempurna yang selalu dipenuhi warna dan bunga-bunga. Adakalanya ya kesabaran juga semakin diuji. Tapi itu semua menambah makna di kehidupan saya.

Di Jailolo, saya bisa menikmati sunset setiap sore, ya kecuali kalau lagi mendung ya.

Tempat sunset terbaik di Jailolo di Pantai Tuada

Di Jaololo, saya bisa mandi air panas pagi-pagi. Ada beberapa lokasi sumber air panas di Jailolo yaitu: di kolam bawah pohon beringin di FTJ, Pantai Galala dan di Desa Marimabati (ada semacam sendang gitu). Sayang banget saya coba cari-cari fotonya belum ketemu, nih.

Di Jailolo, saya bisa melampiaskan adrenaline rush saya buat kebut-kebutan di jalanan. Hahaha. Iya soalnya jalanan aspal di Jailolo-Sidangoli dan Jailolo-Sahu-Ibu termasuk masih bagus. Ya ada sih sebagian yang sudah rusak jalannya di beberapa lokasi. Bonus kalau cuaca cerah pemandangan sepanjang jalan pun menyenangkan.

Kalau di jalan begini bawaannya mau ngegas terus

Di Jailolo, saya sempat menikmati gerhana matahari. Magikal sekali waktu itu rasanya. Tengah hari bolong tiba-tiba menjadi gelap. Suara binatang-binatang malam tiba-tiba terdengar. Asli merinding, sih.

Di Jailolo, pertama kalinya saya mencoba makan ulat sagu. Makan 4-5 ekor kalau tidak salah, sampai akhirnya leher saya tiba-tiba tegang karena asam urat naik. Wkwkwk.

Dan saya pun doyan

Di Jailolo, ketemu teman-teman yang doyan keluyuran di jam kerja. Hahahaha. Nggak ding, memang sekalian turun lapangan kok.

Air Terjun di Desa Goal

Satu hal yang saya ambil hikmahnya dari perjalanan saya selama di Jailolo, yaitu bahwa banyak sekali yang perlu saya syukuri. Di antara Bacan dan Jailolo saya sempat kehilangan diri saya dan di Jailolo, meski lambat tapi saya mencoba menemukannya kembali. Meski dengan segala pelarian diri dan pikiran yang membuat saya berada di titik paling rendah di hidup saya. 


Aku dan Guguk

Terima kasih Jailolo.



Lanjutan babak 3

Wednesday, May 4, 2016

Merasa "Entahlah" di Dermaga Galau Bobanehena

Kalau diantara pembaca budiman sekalian (kayak ada yang baca blog ini aja, sih) ada penikmat blog traveling blog, mungkin ada yang sudah pernah baca salah satu tulisan di blog Marischa Prudence (Btw, saya ini termasuk follower jalan-jalannya kakak cantik yang satu ini, lho. Hehehe) tentang kunjungannya ke Jailolo. Di sana ada postingannya tentang Dermaga Galau di Desa Bobanehena, Jailolo. Nah, postingan saya kali ini pun adalah tentang situs wisata yang sama. Tapi bedanya, kalau Marischa Prudence tidak galau di Dermaga Galau, justru kalau saya malah galau. Ya gitu, deh, saya ini emang baperan, apalagi kalau habis capek ngantor terus mampir bentar ke Bobanehena, duduk-duduk di pinggir dermaganya, sambil nungguin matahari mingset, rasanya syahdu banget.



Dari beberapa spot pantai di Jailolo, Pantai Bobanehena ini termasuk favorit saya. Kenapa? Karena bentuknya yang berupa hole atau cekungan yang membentuk teluk kecil, membuat air di pantai ini tidak berombak. Airnya tenang dan jernih. Mirip-mirip Pantai Sulamadaha di Ternate. Jadi, kalau tiba-tiba pengen berenang tinggal nyemplung aja, deh. Suasananya udah kayak kolam renang outdoor gitu, deh. Cuma airnya berasa asin aja. 




Kalau gak mau basah-basahan, di sini enak juga kok kalau cuma buat duduk-duduk ngelamun, atau ngobrol-ngobrol gak jelas ngomongin orang bareng teman. Ada beberapa gazebo yang masih layak digunakan. Maklum, lah ya tempat-tempat wisata di Jailolo ini cuma terawat kalau ada moment acara seperti Festival Teluk Jailolo. Selebihnya ya dibiarkan saja. Mau ada pengunjung apa kagak, ya sajiannya suasana alami begitu aja. Eh, salah, kalau dari barang bukti yang saya temukan di TKP Dermaga Galau ini, tempat ini kayaknya jadi tempat buat mabuk-mabukan. Sampah-sampah puntung rokok dan bekas botol minuman keras berserakan di sekitarannya. Hmmm, sangat mengecewakan. 


Selama saya tinggal di Jailolo ini, entah kenapa banyak sekali kejadian "entahlah" yang saya alami. Hal-hal lucu, ajaib, dan tidak bisa dijelaskan dengan nalar dan akal sehat kerap sekali saya temui di sini. Ini saya buat list-nya:



Entahlah yang Pertama: Dermaga Galau
Entah kenapa bisa muncul julukan Dermaga Galau, padahal bentuk dan modelnya masih standar dermaga seperti kebanyakan dermaga pada umumnya. Malah waktu untuk kesekian kalinya saya kesini, bentuk dermaga ini lebih cocok kalau disebut "dermaga rapuh". Soalnya dermaga ini udah gak berdiri kokoh, buat berdiri di atasnya saja sudah goyang, siap-siap kecebur aja, deh.


Entahlah yang Kedua: Tanjung Pinang
Pantai Bobanehena ini bukanlah pantai berpasir, tapi berupa pertemuan langsung daratan tanah dengan lautan dengan batu-batuan bekas letusan gunung berapi yang membentuk karang di pinggiran pantai. Nah, di bagian muka pantai, eh gimana ya, maksudnya kalau sebelum sampai ke pantai kan biasanya ada pintu gerbang atau pintu masuknya gitu kan, lha berhubung di Pantai Bobanehena ini gak ada salah satunya, cuma jalan setapak aja lalu ada lapangan di depan pantai, jadi bingung nyebutnya gimana (ini adalah entahlah yang terselubung). Jadi, di dekat lapangan itu, ada tebingnya terus di situ dibuat tulisan macam "hollywood" gitu, tapi yang entahlah itu, kenapa tulisannya "Tanjung Pinang"? 

Pertama kali sampai di tempat ini, mendadak saya jadi bingung kan, perasaan tadi masih di Jailolo, kok tiba-tiba udah sampai di Kepulauan Riau?

Lalu, saya mulai curiga, barangkali di sekitar situ banyak tumbuh pohon pinang. Selidik punya selidik, sejauh mata memandang yang ada cuma pohon kelapa sama pohon cengkeh yang banyak. Entahlah...

"Tanjung Pinang" yang entahlah


Airnya bening banget

Entahlah yang Ketiga: Banana Boat
Tidak perlu dijelaskan sebenarnya. Karena saya sendiri merasa entahlah, kenapa ada banana boat di situ, terogok penuh kegalauan tak berdaya ulalala yeyeye begitu. Saya malah kasihan lihatnya. Coba Anda bayangkan kalau Anda jadi banana boat itu? Cuma dipakai setahun sekali kalau ada event festival, itu pun ya kalau ada yang mau naik, kalau gak? Dan event festival itu paling pol cuma seminggu. Ya, cuma tujuh hari dalam setahun. Bayangkan, rasanya teronggok sepi di pinggiran pantai yang syahdu banget selama 358 hari. Pasti, sakitnya tuh di banana boat.


Rasanya cukup tiga keentahlahan saja yang pantas saya ceritakan di postingan saya kali ini. Rencananya sih, pengen ngecek kondisi Dermaga Galau, kebetulan kan sekarang lagi jalan Festival Teluk Jailolo juga, barangkali banana boat-nya udah gak galau,


Akhir kata, selamat menikmati jepretan senja dari Dermaga Galau, Pantai Bobanehena, Jailolo. Cuma semburat jingga aja sih, karena posisinya yang berbentuk cekungan jadi saat matahari tenggelam ketutup bukit di sisi baratnya. Well, kalau kata @arievrahman di blog-nya waktu nulis tentang Jailolo, sunset di Jailolo, yang untuk mendapatkannya membutuhkan lebih dari perjuangan dan doa anak saleh.








See ya!

Tuesday, May 3, 2016

Teluk Jailolo, Landmark Andalan Halmahera Barat

Seperti janji saya di postingan tempo lalu, bahwa saya mau cerita tentang Jailolo, nah ini salah satunya. Pertama tentunya akan lebih afdol kalau saya cerita tentang landmark andalan di Halmahera Barat yang satu ini: Teluk Jailolo.

Jalur laut Ternate - Jailolo

Teluk Jailolo ini adalah salah satu akses utama untuk memasuki wilayan Halmahera Barat. Dari Ternate menyebrang di Pelabuhan Dufa-dufa, bisa menggunakan speed atau kapal kayu. Speed beroperasi setiap hari, hanya jam operasionalnya saja yang gak jelas, karena mereka pakai sistem ngetem. Kalau di Jawa ibaratnya kayak bis lah. Lalu ada juga kapal kayu. Kapal kayu ini juga ada setiap hari, beroperasi sehari dua kali, yaitu setiap jam 9.00 WIT dan 14.00 WIT. Ini jadwal seharusnya ya, tapi sekali lagi, semua kembali pada jumlah penumpang juga, kalau kira-kira baru sedikit penumpangnya bisa dipastikan molor untuk ngetem

Meski terpaut sedikit harga tiketnya, speed Rp 50.000,- sedang kapal kayu Rp 40.000,-, tapi waktu tempuh speed hampir dua kali lebih cepat daripada kapal kayu, dengan speed hanya 45 menit. Jadi kalau Anda tidak terlalu buru-buru kalau mau ke Jailolo dan ingin menikmati panorama di atas lautan Halmahera, maka saya sarankan naik kapal kayu saja. Apalagi kalau menyeberangnya sudah masuk waktu siang hari, lebih baik naik kapal kayu saja. Soalnya kalau sudah siang lautan Halmahera suka berombak tinggi. Tapi kalau mau maksa naik speed ya gakpapa juga, sih. Paling jadi berasa naik kora-kora aja. Mayan, kan gak perlu jauh-jauh sampe Dufan.

Landmark Teluk Jailolo

Pintu masuk Halmahera Barat adalah Pelabuhan Jailolo yang tepat berada di Teluk Jailolo. Pelabuhan ini merupakan hasil reklamasi, perpanjangan daratan dari Teluk Jailolo. Di sini ada beberapa dermaga, satu dermaga besar untuk sandar kapal-kapal besar termasuk kapal kayu, lalu ada tiga dermaga kecil yang digunakan untuk sandar speed.

Keluar dari Pelabuhan, sudah ada banyak ojek, bentor (becak motor) dan otto (sebutan mobil di Maluku Utara) pangkalan. Kalau Anda sedang atau akan berkunjung untuk pertama kali di Jailolo atau Maluku Utara pada umumnya, perlu diketahui kalau harga ojek disini tidak semahal di Jawa. Untuk jarak dekat tarifnya mulai dari Rp 5.000,- (ya, inilah bedanya, di sini ojek mau antar baik jarak dekat maupun jarak jauh). Kalau untuk bentor, biasanya selisih lebih mahal dikit aja kok. Satu bentor bisa muat untuk 3 orang, dua orang di depan, satu orang bonceng di motornya. Kabar terbaru katanya sekarang tari bentor dihitung perkepala, bukan pertarikan lagi.

Jailolo "City?"
Kembali ke Teluk Jailolo, di sini adalah lokasi utama pelaksanaan agenda wisata tahunan Festival Teluk Jailolo (FTJ). Saat saya nulis postingan ini di sana lagi banyak stand-stand gitu, deh. Terus selama seminggu ini setiap hari ada acara macem-macem di sana. Kalau hari-hari biasa sih, sebenernya tempat ini sepi, palingan yang rame di bagian pemandian air panas di bawah pohon beringin (soal pemandian air panas di Jailolo akan saya buat postingan sendiri nanti). Atau kalau gak, biasanya banyak bapak-bapak sama anak-anak kecil yang mancing di sepanjang pinggir teluk. 


Patung petani kasbi
Di situs Teluk Jailolo ini punya tiga ciri khas. Pertama adalah tulisan raksasa "JAILOLO City". Sampai sekarang saya masih heran dengan kata "city" itu. Apa yang bikin rancangan tulisan ini gak cari tahu dulu ya arti kata "city"? Karena setahu saya sampai tulisan ini turun, status Jailolo itu adalah ibukota kabupaten. Kabupaten ya, bukan kota, yang jauh sekali dari rasa perkotaan yang saya tahu. Tapi yaudahlah ya, ini emang sayanya aja yang tukang protes. Iyakali kalau tulisannya bisa ditipe-x.

Lalu, ciri kedua adalah patung simbok-simbok lagi nggendong setenggok (saya lupa sebutan lokalnya apa) kasbi (nama lokal untuk ubi kayu atau ketela pohon) yang gak keliatan natural banget. Kenapa gak natural? Karena kalau si simbok itu bukan wonder woman, gak mungkin banget dia bisa berdiri tegak sambil bawa setenggok penuh ketela pohon begitu. Oh, iya saya lupa itu kan patung.

Terakhir, adalah panggung atas laut. Gak perlu dijelasin lagi kan ya. Jadi di situ ada panggung permanen yang didirikan di atas laut. Biasanya panggung ini baru digunakan waktu ada acara seperti Festival Teluk Jailolo.

Nah, jadi itu tadi tentang Teluk Jailolo. Situs yang biasa aja sebenarnya, tapi tetap belum sah rasanya kalau Anda ke Jailolo tapi belum foto di landmark tulisannya, ya gak ya gak? Tips kalau mau foto di sini, sebaiknya pas pagi menjelang siang hari saja, soalnya jam-jam segitu langit sedang panas-panas cerah-cerahnya. Lalu jangan berharap bisa sunset-an di spot ini ya. Kalau cuma mau liat langit jingga sih, masih bisa, tapi kalau mau dapet golden moment-nya agak susah disini, soalnya posisi matahari tenggelam di teluk ini tertutup bukit di sisi baratnya.

Oke, segini dulu ya. Selamat malam, salam hangat dari Jailolo. :*

Friday, April 29, 2016

Sekarang Saya di Jailolo, Loh!

Sebelumnya, kalau ada yang gak tahu Jailolo itu apa ato dimana, berikut saya kutip dari wikipedia:
Jailolo adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Halmahera BaratMaluku UtaraIndonesia.

Pose di Teluk Jailolo bareng temen-temen kantor

Jadi per 1 Oktober 2015 yang lalu, saya dipindahtugaskan secara sepihak dari Halmahera Selatan menjadi di Halmahera Barat. Ya, benar masih ada aroma-aroma "halmahera"-nya, hanya dipindahkan ke kabupaten "sebelah". Kenapa saya kasih kutip kata sebelah-nya? Karena, well, secara daerah di sini ini kepulauan ya, jadi kalau mau dikata benar-benar sebelahan sebetulanya gak juga. Wong ada lautan yang memisahkan di antara keduanya.

Kondisi ini benar-benar menimbulkan kepiluan yang mendalam waktu saya harus pindahan. Bayangkan saja, saya harus mengangkut barang-barang saya dari Bacan, naik kapal transit di Ternate, lalu naik kapal lagi ke Jailolo. Kalau saya ingat-ingat lagi saat itu mendadak saya jadi lelah lagi. Iya, lelah adek, bang (Halah!). Belum lagi klo inget total biaya yang terkuras habis selama pindahan. Baru sebulan saya bisa beli lemari kayu sama kasur tebal di Bacan yang terpaksa saya tinggal aja soalnya rerpot kalau mau dibawa, begitu di Jailolo mau gak mau saya harus keluar duit lagi buat beli-beli perkakas. Begini nih, kalau orang susah ikhlas, suka sedih klo inget yang beginian. Udah mendadak dipindah gak difasilitasi pulak. Eh, cuma dikasih uang jalan limaratus ribu, ding. Nasib nasib.

Ya gitu, kalau diinget-inget lagi cuma bikin sedih. Sayangnya, saya ini orangnya susah lupa. Njuk pie dong?

Ini kok saya malah jadi curhat gini, sih? -__-"

Kalau udah begini, paling ujung-ujungnya saya jawab sendiri dengan "ya udah sih". Ya udah sih, nikmati aja. Ya udah sih, jalani aja.

Yup, jadi sampai saat ini saya baru sudah menjalani tujuh bulan di Jailolo. Sebenarnya saya sedikit bangga juga sejak di Jailolo ini, soalnya Jailolo ini kan lumayan dikenal lah ya, walaupun hanya di kalangan tertentu sih, biasanya kalangan yang suka jalan-jalan.

Awalnya saya pikir Jailolo ini "WAH" sekali sebagai tujuan wisata, tapi ternyata biasa aja. Kondisinya sama saja dengan pelosok tertinggal lainnya di Indonesia. Cuma ya bedanya karena punya acara tahunan Festival Teluk Jailolo aja. Di Jailolo katanya ada spot diving terbaik itu pun harus nyebrang ke Pulau Babua, wajar sih, semakin indah suatu tempat akan semakin sulit aksesnya. Sementara di kawasan Jailolo-nya sendiri wisata andalannya hanya pantai belakang rumah plus pemandian air panas. Kenapa saya bilang pantai belakang rumah? Ini sebutan saya buat pantai yang tidak dikelola secara baik yang letaknya biasanya di balakang suatu desa. Hampir di setiap desa di Jailolo ada pantai-pantai begini. Nanti, secepatnya kapan-kapan saya bahas satu-satu.

Ok, bye dulu. :*