Showing posts with label gunung. Show all posts
Showing posts with label gunung. Show all posts

Wednesday, September 14, 2016

Weekend at Ora - Part 1 "Perjalanan Menuju Hidden Paradise"

Mungkin ada di antara kalian yang mengikuti update feed di sosmed saya. Beberapa hari ini saya share satu pantai yang kece banget. Kalau yang sering baca-baca tentang tempat wisata di Indonesia mungkin sudah familiar tapi ada juga yang masih bertanya ke saya, "Non, kok bagus, itu dimana?" Kalau ada yang begini kadang saya merasa sedih. 

Ora dari kejauhan

Tempat yang saya share padahal masih di Indonesia, tapi ada saja yang tidak tahu itu dimana, tambah lagi dengan makin kencengnya newsfeed di media sosial, khususnya di facebook yang sering dan banyak sekali orang yang share tentang tempat-tempat wisata di Indonesia, tapi kok ya masih ada saja yang tidak tahu. Yah, tapi gakpapa juga sih gak tahu, mungkin bagi orang-orang ini pekarangan depan rumahnya adalah tempat terindah di Indonesia versi mereka. Mungkin saja kalau saya bukan makhluk nomaden yang punya tempat tinggal permanen pekarangan rumah saya juga akan menjadi taman terindah bagi saya.

Yaa, udahlah yaaww...

So, weekend kemaren saya pergi minggat lagi dari Jailolo, dong! Gila kan gue. Hahaha. Belum juga genep sebulan dari trip nekat ke Berau pertengahan Agustus lalu, saya sudah planning trip ke Maluku. Asal mulanya sama, dari ajakan sahabat saya yang penempatan di Maluku, "Weekend 10-11 September aku mau ke Ora, lagi."

"Buset, lagi?" Baru juga April lalu dia ke Ora, ini mau ke sana lagi. Tanpa pikir panjang, cuma ngecek kalender yang ternyata pas banget ada libur Idul Adha, "Oke, aku ikut!" Beberapa hari kemudian pun langsung saya beli tiket pesawatnya, takut jadi makin mahal yang ternyata sampai seminggu sebelumnya pun harganya masih sama aja, malah sempet turun dikit. Hmmm, mungkin memang rute Ternate-Ambon harga tiket pesawatnya tidak terlalu fluktuatif, kecuali 2-3 hari sebelumnya.

Pertama Kali ke Ambon

Ini adalah pengalaman pertama saya pergi ke Ambon, ibukota provinsi Maluku. Tolong dicamkan ya, Maluku dan Maluku Utara itu berbeda provinsi. Bagi anak-anak generasi 90-an yang dulu belajar geografinya masih diajarin 27 provinsi mungkin agak kudet soal pemekaran provinsi ini. Saya, sih maklum aja.

Jadi, akhirnya saya pergi ke provinsi yang sering dikira adalah tempat kerja saya: Maluku. Mungkin bagi orang Jawa atau lainnya yang non-timur, akan beranggapan Maluku dan Maluku Utara atau bahkan Papua itu sama saja. For Your Information, ini sama kayak orang-orang timur sini menganggap Sunda, Jawa (tengah), Jawa (timur) dan Madura itu adalah sama, yaitu JAWA. Padahal bagi mereka yang tahu kondisinya jelas sangat berbeda. 

Satu perbedaan yang paling mencolok antara Maluku dan Maluku Utara bisa dirasakan dari logat dan bahasanya. Salah satu contohnya, kalau di Maluku Utata (kecuali Kepulauan Sula) pakainya "tarada" sementara di Maluku (dan Kepulauan Sula) pakainya "seng." 

Masih banyak lagi sebetulnya perbedaaan bahasa antara Maluku dan Maluku Utara, jadi meskipun saya sudah "lumayan" bisa bahasa Melayu Ternate pun jadi blank juga sewaktu di Ambon. Palingan kosakata Ambon yang saya kuasai itu dari modal sering dengerin lagu-lagu Mita Talahatu, diva Ambon yang heittss abis di seantero Maluku Utara itu, yang lagunya hampir selalu jadi playlist  angkot, bentor dan kapal-kapal di jalanan dan lautan Maluku Utara. Hanya saja, entah kenapa selama saya di Ambon malah gak pernah nemu lagu-lagu Mita Talahatu. 

Kesan pertama di Ambon: luas. Yup, Kota Ambon ini luas banget. Hampir seluruh pesisir Teluk Ambon sudah terurbanisasi. Mencari transportasi umum di Ambon pun mudah, karena sudah ada banyak angkot dengan trayek. Keluar dari bandara saya langsung menemukan angkot merah. Setelah memastikan memang benar si angkot lewat Passo, baru saya naik. Perjalanan dari bandara ke Passo memakan waktu sekitar 20 menit, sudah termasuk waktu ngetem nunggu penumpang di beberapa perempatan.

Di Passo, saya turun di kantor instansi tempat saya bekerja tapi yang cabang Maluku, tempat meet up dengan salah satu teman saya yang akhirnya jadi meet up sama semua teman-teman saya yang kerja di sana, sih. Hehehe. Jadi, nantinya selama di Ambon ini, saya akan menumpang tinggal di mess teman-teman saya ini. Saya merasa beruntung sekali, teman-teman di mess Ambon ini ramah dan baik sekali (uhuk), selama di Ambon saya diajakin jalan terus dong, hari pertama di Ambon saya diajakin nonton Warkop DKI Reborn lalu di hari terakhir setelah sholat Idul Adha diajakin ke taman monumen Christina Martha Tiahahu, tempat dimana bisa melihat pemandangan kota Ambon dari ketinggian.


Road Trip Ambon-Seram

Sebelumnya saya jelaskan dulu tujuan perjalanan saya kali ini. Pantai Ora, ada di kabupaten Maluku Tengah. Letaknya ada di sisi utara-tengah dari Pulau Seram. Sedangkan posisi start ada di Kota Ambon (Pulau Ambon), jadi untuk menuju ke Ora kita perlu melakukan perjalan darat dan laut. Penyeberangan dari Pulau Ambon ke Pulau Seram bisa dilalui dengan kapal cepat atau kapal ferry. Sedang perjalanan daratnya bisa dengan segala macam kendaraan darat, normalnya ya kalau gak motor ya mobil. Katanya sih belum ada yang eprnah pake forklift, mungkin Anda beminat mencobanya?

Total makan waktu 6 jam (kecepatan manusia normal yang masih mau hidup )


Secara saya ini kan backpacker gembel kan ya, jadi perjalanan menuju Ora ini pun pakai budget constraint. Untuk perjalanan darat kami pakai motor lalu menyeberang dengan kapal ferry.

Note. Jadwal kapal ferry di Maluku ini sangat tepat waktu, jadi sangat perlu memperhatikan waktu ketika berkendara selama perjalanan darat, jangan sampai jadwal berantakan gara-gara ketinggalan kapal ferry yang baru ada lagi setiap dua jam.

Rencana awal perjalanan kami ke Ora ini adalah bertiga, saya, Mima dan Fajra, tapi ternyata di hari-H Fajra-nya malah sakit. Tinggalah kami, dua ilalang dengan keinginan kuat untuk mengintip hidden paradise di Pulau Seram itu.

Start perjalanan kami dari Kota Ambon sekitar jam 6 pagi (atau setengah 7 pagi ya, saya agak lupa). Tantangan perjalanan sudah langsung menghadang kami: hujan mengguyur bahkan sejak 5 menit awal. Mental breakdown pasti. Naik motor di jalanan yang belum familiar dan dalam kondisi kehujanan rasa capeknya jadi dua kali lipat.

Sejam pertama road trip kami rasanya lamaaaaa sekali. Saya yang jadi driver pertama hanya berusaha fokus ke jalan. Rute Kota Ambon ke Pelabuhan Ferry sebetulnya cukup mudah, aspalnya sangat bagus, meski ada beberapa kali tanjakan dan turunan tapi masih didominasi jalanan rata.

Sampai di Pelabuhan Ferry, beli tiket untuk 2 penumpang dan 1 motor lalu antri di pintu masuk kendaraan. Beruntungnya lagi, kami jadi penumpang terakhir yang diperbolehkan ikut ferry jam 8 pagi itu.

Pantai di pelabuhan aja ijo bening begini

Suasana di dalam kapal ferry
Ini adalah pertama kalinya bagi saya naik kapal ferry dengan membawa kendaraan. Kalau cuma bawa diri sih sudah pernah. Ternyata sedikit menegangkan juga, soalnya was-was kalau gak dapat jatah muatan untuk kendaraan. Bisa gawat kalau sampai harus nunggu ferry 2 jam lagi, bisa-bisa sampai Ora sudah malam.

Motor sudah diparkir, tinggal cari bangku buat tidur duduk selama perjalanan di ferry.  

Lagi acting tidur wkwk

Antri mau keluar ferry

Setelah satu jam perjalanan, kapal ferry sampai juga di Pelabuhan Waipirit (awas jangan kepleset bacanya), pelabuhan ferry yang ada di Kabupaten SBB, singkatan dari Sori Baru Balas, eh Seram Bagian Barat. Di sini kami cari makan dulu, secara memang belum sarapan. Cari menu makan yang aman dan gampang, di salah satu tempat makan di pelabuhan kami pesan nasi goreng, masing-masing dua porsi, satu untuk sarapan satu lagi untuk makan siang sesampainya di Ora nanti (yang ternyata rencana meleset, jadinya malah buat makan sore).

Selain membawa bekal nasi goreng, kami juga beli pop mie dan beberapa potong roti manis dan roti pia. Kenapa? Karena ongkos makan di Ora itu sangat mahal sodara-sodara. Jadi, backpacker gembel ini perlu bawa bekal sebanyak-banyaknya (yang akhirnya malah banyak yang gak kemakan juga karena kenyang keindahan Ora males makan).

Seriusan, kami berdua betul-betul buta jalur Trans-Seram. Satu-satunya petunjuk jalan buat kami hanyalah ancer-ancer yang diberi tahu oleh temannya Fajra yang memang penempatan di Kabupaten Maluku Tengah (kalo gak salah) jadi sudah tahu betul jalur menuju Ora. Meski begitu setelah dilalui ternyata memang tidak terlalu sulit untuk menemukan Desa Saleman (tempat penyeberangan menuju Ora) karena memang jalur Trans-Seram ya hanya satu itu-itu saja, tinggal ikuti jalan aspalnya saja. Jumlah pertigaan yang harus belok pun bisa dihitung cuma tiga kali saja. Selebihnya ya belokan karena jalan tikungan.

Jadi bagaimana road trip Waipirit - Saleman? Akan saya gambarkan dengan dua pembagian. Pertama jalur Waipirit - TNS dan kedua adalah jalur TNS - Saleman. Jalur pertama didominasi jalanan yang rata dan berbelok-belok, sedangkan jalur kedua, jalannya naik-turun, berbelok-belok dan kanan-kirinya tebing dan jurang. Kalau menurut Fajra yang sudah pernah road-trip dengan rute yang sama, Waipirit - Saleman hanya memakan waktu 4 jam, tapi ternyata bagi saya dan Mima, butuh waktu 6 jam. Yup, kalau di Jawa, berangkat dari Jogja udah sampe Surabaya kan tuh. Jadi kalau ditotal seluruh perjalanan kami ini jadi 8 jam. Banyak yang kaget dan heran kok kami lama banget. Saya kira ya gak lambat-lambat amat kok kecepatan rata-rata kami di jalanan. Ini karena selama perjalanan kami diguyur hujan terus menerus. Jadi, maaf-maaf saja kalau kami gak bisa ngebut di tengah kondisi jalanan yang basah dan kurang maksimalnya penglihatan karena hujan, kami kan masih ingin hidup, menikah dan hidup happily ever after. *eh


Oh, iya di desa sebeluh Negeri Elkaputih, kami juga sempet kebanan. Ban bocor ngelindes paku. Untungnya gak jauh dari TKP bocor bengkel tambal ban, cuma orangnya lagi gak bisa nambal ban, bisanya ganti ban dalam. Yaudahlah ya, yang penting bisa jalan lagi.

Sambil nunggu ganti ban, ngelurusin pingang dulu
Seperti sensasi perjalanan lainnya, berangkat itu terasa lebih lama daripada pas pulangnya. Rasa lelah dan frustasi karena gak sampe-sampe jelas ada. Belum lagi di jalur kedua, TNS - Saleman harus melewati perbukitan yang tinggi. Sudah kehujanan masih ditambah serangan suhu dingin pegunungan. Sampai menggigil, lho saya. Perjalanan menuju Ora ini benar-benar perjuangan lahir dan batin, deh.

Penampakan rider abal-abal
Akhirnya, setelah melewati perjalanan puanjaanggg, kami benar-benar sampai di Desa Saleman sekitar jam 4 sore, dengan kondisi lelah, mengantuk dan kedinginan. Tapi begitu melihat pemandangan dari pelabuhan kecil di desa ini rasanya semua capek hilang.

Enggak ding, enak banget klo bisa gitu. Masih capek sih, tapi begitu lihat pemandangan tebing karst yang gak lazim berdampingan dengan lautan biru-kehijauan yang bening banget itu rasanya breath-taking banget.


Breath-taking scenery di Pelabuhan Saleman




Di pelabuhan sudah ada banyak motoris yang menunggu giliran untuk mengantar ke Ora. Setelah deal harga dan paket yang kami mau, si motoris memarkirkan motor kami (sepertinya) di rumahnya. Sedangkan kami menunggu dia siap-siap sambil pesan teh panas.

Ngilangin mengalihkan capek dengan foto-foto

Akhirnya aku menemukan kehangatan pada segelas teh panas

yang jaket merah jangan sampe lolos :p
Setelah kapal siap, kami diantar Pak Munir, nama motoris yang kami sewa, menuju resort (jika berminat ke Ora dan butuh pesan motoris silahkan hubungi saja, saya ada nomer hapenya). Yang ini memang melanggar prinsip low budget kami, bukannya cari homestay  di Desa Saleman, kami malah berencana menginap satu malam di resort, maksudnya sih bisa bisa langsung nyebur kalau mau snorkling di depan resort Ora. Walaupun kenyataannya pas sampai resort masih juga hujan. Tapi ya udah lah yaaw. Masih lumayan kok bisa menikmati malam di Ora Beach Eco Resort.


Di sini, kami menginap di kamar darat, yang harganya lebih murah (teteup). Hehehe.




Begitu sudah check-in dan dapat kamar, akhirnya saya bisa unpacking barang bawaan saya. Selama perjalanan saya sudah kuatir kalau-kalau tas saya kerembesan air hujan, soalnya baju-baju saya gak di-double plastik. Tas juga cuma mengandalkan rain cover. Daaaan, ternyata kekuatiran saya benar terjadi. Baju-baju saya basah semua. Untungnya isi yang di bagian atas gak basah, properti kamera dan sarung gak ikut kerembesan air hujan.

Barangkali cuma saya satu-satunya pengujung di Ora yang begini -_-

Penampakan rumah darat tanpa siluman sarung ungu

Jam sunset di Ora masih saja diselimuti mendung dan guyuran gerimis. Tapi seriusan, Ora itu indah mau adanya apa (bukan apa adanya lagi), kondisi hujan gerimis pun, Ora tetap memukau. Air lautnya tetap jernih, bening, dan bergradasi hijau ke biru yang cakep banget. Gak kebayang, deh cakepnya kayak apa Ora kalau pas cuaca panas.


Ora waktu gerimis
Jalan-jalan sore di area rumah laut

ORA sah nggaya, Non!

Area rumah laut

 Nah, segini dulu catper untuk hari pertama perjalanan ke Ora. Masih ada satu hari perjalanan lagi. dilanjut besok yah. Stay tune yah manteman.. :p

Tuesday, October 14, 2014

Menyimpan Kenangan Sebelum Penempatan - Jogjakarta

Sebelum berangkat penempatan, kami diberi waktu empat hari untuk kembali ke daerah asal. Ini penting bagi kami yang berasal dari Jawa. Karena bagaimanapun kami berhak untuk estidaknya berpamitan pada orangtua kami. Atau setidaknya menciptakan kenangan baru yang layak untuk dikenang kelak saat penempatan.

Kami putra-putri daerah dari Jogjakarta yang berkesempatan mengikuti pendidikan di salah satu perguruan tinggi kedinasan ini berjumlah 11 orang. Ini adalah jumlah yang benar-benar asli dan ber-KTP D.I.Yogyakarta. 

Saya masih ingat betul bagaimana kami pertama kali bertemu. Tidak serta-merta bertemu sekaligus, sih. Tapi satu persatu. Berkenalan dengan berbagai karakter orang Jogja, dari berbagai wilayah di Jogja. Ada sebel. Ada senengnya.

Dulu tiap kali ada pertemuan rutinan, suka sebel juga kalau tiap ada kegiatan. Sampe mereka pada takut kalau saya sudah marah. Tapi sungguh, kehadiran kalian sebenarnya bikin "hommy".

Ya, maklum, Saya kalau di rumah emang suka marah-marah sih. --"

Awal April 2014, kami (tidak semua sih) anak-anak statistik dari Jogja ini, sepakat pergi main bareng. Naik Gunung Nglanggeran dan ke Candi Ratu Boko.

Gunung Nglanggeran tidaklah begitu tinggi, tapi entah kenapa ada bisa begitu berkesan. Sepanjang jalan kita berbicara soal apa saja. Mulai dari Simbahnya Puteri yang pernah dia ajak naik Nglanggeran ini sampai (tentu saja) perkara penempatan. Sesekali pasti dibumbuhi soal wacana-wacan masa depan, apalagi kalau bukan soal "kapan rabi?" (-kapan nikah?). Soal yang terakhir ini ada istilah yang ngehits banget yang tercipta dalam percakapan kami yaitu "29 mei".

Saking ramenya kami saling bergurau soal "29 mei", sampai-sampai pihak yang tidak tahu menahu pernah dengan sengaja menghubungi saya menanyakan "Koe meh nikah tanggak 29 Mei, non?" (-Kamu mau nikah tanggal 29 Mei, non?". Hahaha.. pertanyaan itu jelas menggelikan. Karena sampai undangan resmi turun (kurang lebih, kalau tidak salah sekitar akhir bulan April atau awal Mei) saya sendiri tidak tahu siapa yang akan menikah di tanggal 29 Mei itu.

Ah, lucu. Ayo kapan kita buat kenangan lagi?
























Perjalanan singkat yang menakjubkan. Terimakasih!
Lophe dan Fuah - yang sekarang di Kalimantan Timur,
Puteri - sekarang di Sulawesi Selatan,
Deny - sekarang di Papua.



*Foto di Ratu Boko featuring Nela (adek tingkat-dari Jogja juga, masih magang di Jakarta, kalau gak salah November berangkat penempatan)

Wednesday, July 10, 2013

Double Summit: Gunung Pangrango (3.019 mdpl) & Gede (2.958 mdpl) 30 Juni - 2 Juli 2013

Yes! Yes! Yes! Hehehe.. Setelah penantian lama menunggu untuk mendaki gunung kembali, akhirnya kesempatan itu datang juga. Sudah hampir setahun barang kali sejak terakhir kali saya mendaki ke Gunung Semeru. Sebenarnya sudah dari akhir tahun 2012 ada rencana mau naik gunung Gede & Pangrango tapi selalu saja ada yang membuat rencana gagal. Bahkan rencana kali ini pun mengalami beberapa kali perubahan, mulai dari tanggal pelaksanaan sampai crew pendakian pun rombak total.

By the way, hari ini hari pertama puasa, nih. Selamat berpuasa ya bagi yang menjalankan, semoga puasa kita semua sukses. Nah kan, jadi ketahuan kalau nulis postingan ini telat banget. Ah, tapi baru seminggu lewat ini, masih terhitung update lah ya. Kali ini tujuan pendakian saya adalah Gunung yang setiap pagi dan sore yang cerah bisa saya lihat jelas dari Jakarta, tepatnya dulu pas jaman masih kuliah, klo dapet sesi pagi trus ngelamun sambil ngadep ke arah selatan, nah, keliatan deh ada dua gunung lagi nangkring: Gunung Gede dan Gunung Pangrango. Dua gunung yang saling berdekatan itulah yang menjadi tujuan saya dan rombongan. Yup, benar, dua gunung. Makanya judulnya "double summit" hehehe.. :p

Hal pertama yang harus dilakukan agar bisa melakukan pendakian di Gunung Gede dan Pangrango adalah melakukan pendaftaran online. Dimana? di http://booking.gedepangrango.org/, baca baik-baik tuh larangan dan kewajiban yang akan ditanggung selama nantinya mendaki di kawasan Gunung Gede - Pangrango. Tinggal diikuti saja instrusksi yang sudah ada. Gampang banget pokoknya. Cuma memang yang kadang bikin kesel adalah website-nya ini pernah gak bisa dibuka. Seperti yang saya alami waktu mau daftar pendakian ini. Terpaksa dengan pemikiran "ah, cuma daftarin lima orang ini, daftar di kantor TNGGP aja paling cepet", saya pergi ke kantor TNGGP di Cibodas. Sampai disana masih harus ngantri, gantian pakai komputernya, soalnya cuma ada dua komputer yang bisa dipakai. Sialnya, sampai petugas bilang, "10 menit lagi ya, kantor mau tutup", saya langsung menatap nanar ke arah petugas. Baru juga datang jam 1 siang, itu pun setelah kena macet padahal berangkat dari Jakarta dari jam 7 pagi. Barangkali kasihan sama saya, bapak petugas akhirnya memberikan formulir pendaftaran yang manual, jadi saya tinggal menuliskan langsung identitas saya dan teman-teman.

Baru juga saya merasa tenang setelah mengisi formulir dan dibilangin mbak petugas buat nunggu SIMAKSI dibikin, eh prahara datang lagi. Prahara datang waktu mbak-nya manggil dan bilang, "Ini satu SIMAKSI cuma bisa buat dua hari satu malam, kalau mau tiga hari dua malam harus bikin SIMAKSI satu lagi." Belum juga saya bereaksi mau ngomong, mbaknya udah nyerobot lagi, "Kantor udah mau tutup, kalau mau bikin SIMAKSI lagi besok aja datang lagi". Buset, dikira gue Harry Potter yang tinggal naik sapu terbang dari Jakarta ke Cibodas kali ya. Segala bujuk rayu, agar saya dikasih injury time buat bikin satu SIMAKSI lagi, dengan mata nanar sambil nyakar-nyakar meja resepsionis kantor TNGGP pun gak ngefek sama sekali. Ya sudah,  layaknya pejuang kalah perang saya balik ke Jakarta dengan perasaan hampa dan sekali lagi, nanar dan sekali lagi, kena macet.

Kegagalan mengurus dua SIMAKSI ini berakibat pada perubahan rencana perjalanan. Kalau SIMAKSI semua sudah beres, kami semua bisa berangkat bareng-bareng dari Jakarta hari Sabtu malam (29 Juni 2013) tapi karena harus mengurus perijinan lagi, terpaksa harus ada yang berkorban berangkat duluan. Jadilah saya dan satu adik tingkat saya di kampus dulu berangkat Sabtu pagi ke kantor TNGGP di Cibodas. Kali ini saya sudah siap dengan form pendaftaran online yang sudah divalidasi, jadi datang ke kantor tinggal tukerin sama SIMAKSI. Nah, kalau sistem online ini berjalan sebagaimana mestinya (website gak error) sebenarnya pendaftaran di TNGGP ini gampang banget. Bahkan memudahkan pendaki yang berasal dari daerah yang jauh. Mereka tinggal daftar online dari rumah, transfer uang pendafaftaran, langsung dapat validasi, deh. Kalau sudah dapat validasi ini kita bisa tenang, soalnya ini artinya kita sudah pasti berhak atas kuota sebagai pendaki di TNGGP pada waktu yang diinginkan. Terus pada H-1 atau malah hari-H sekalian start pendakian kita bisa mengurus SIMAKSI di kantor Cibodas. Ngurusnya pun caranya mudah, tinggal isi lembar pernyataan bermeterai lalu diserahkan ke petugas bersama tanda bukti transfer dan fotokopi KTP pendaki.

Start Pendakian via Cibodas (10.00)
Singkat cerita, hari Minggu pagi (30 Juni 2013) kami sudah siap untuk memulai pendakian. Sebelumnya setiap pendaki harus berurusan dulu di bagian perijinan pendakian dimana kami harus menuliskan daftar barang bawaan yang nantinya menghasilkan sampah. Rencana perjalanan kami secara garis besar berangkat via jalur Cibodas nanjak ke Pangrango, lalu hari berikutnya turun sampai persimpangan lalu lanjut nanjak lagi ke Gede, baru di hari berikutnya turun via jalur Gunung Putri. Maka berangkatlah kami serombongan sekitar jam 10 pagi. Selangkah demi selangkah kami jalani, masih banyak stok semangat yang membara sampai tiba-tiba salah satu teman berhenti, "hapeku ketinggalan, masih di-charge di montana". Saya cuma bisa men-yaaaah-kan saja. (-___-")

Papan informasi Telaga Biru (10:34)
Pukul 10.30 kami sampai di Telaga Biru. Sebenernya ini adalah perjalanan ketiga bagi saya melewati jalur Cibodas dan entah kenapa, mungkin faktor umur kali ya atau mungkin karena porsi latihan tidak seekstrim jaman masih kuliah dulu membuat perjalanan saya kali ini terasa sangat lama dan capek banget. Istirahat sebentar di pos Telaga Biru, langsung lanjut hingga di Pos Panyangcangan kurang-lebih jam 11.00 siang. Di sini pun kami tidak berlama-lama istirahatnya, karena walaupun di atas kertas, melihat beban kami yang cukup berat, agak sulit untuk sampai di puncak sebelum gelap, tapi dalam hati kami masih menyimpan harapan agar Tuhan mengizinkan kami bertemu dalam perpisahan dengan matahari pada sore itu. :)

Jembatan (yang dulunya) Kayu (10:45)
Pos Panyangcangan (10:54)
Dari Panyangcangan kami jalan lagi dengan fatamorgana air panas, yang sepanjang perjalanan berasa "kok gak nyampe-nyampe, sih". Lalu akhirnya pukul 13.00 WIB baru sampai di pos Air Panas.

Pos Air Panas (12:57)
Tanpa banyak membuang-buang waktu, kami langsung melanjutkan perjalanan hingga kemudian pukul 13.10 kami sampai di Pos Kandang Batu, tepatnya sih di pinggir sungai sebelum Kandang Batu. Maksudnya biar gak kejauhan kalau mau cari air. Di sini kami istirahat agak lama, sholat, dan makan ransum yang sudah kami beli di warung sebelum mulai pendakian.

Sebelum Kandang Batu (13:10)
Pos Kandang Batu (13:57)
Pos Kandang Badak (14.50)
Pukul 14.00 kami mulai lagi perjalanan. Jalur dari Kandang Batu menuju Kandang Badak sekarang sudah ditata rapi dengan batu-batuan. Yah, secara terakhir kali saya ke sini kan dua tahun yang lalu, ya, sudah banyak banget perubahan. Walau begitu masih sama seperti dua tahun yang lalu, jalur ini jalannya tidak selebar jalur sebelum Kandang Batu, jadi kadang harus gantian jalan antara pendaki yang mau naik dan mau turun. Kami sampai di Kandang Badak pukul 14.50 WIB.

Kandang Badak (14:51)
Rame banget di Kandang Badak, lagi pada ngapain sih
Weekend di Kandang Badak? Satu kata: RAME. Liat aja tuh foto di atas. Jadi inget waktu pertama kali ke Gunung Gede, nge-camp di Kandang Badak, wiiih susah banget cari spot yang layak buat bangun tenda. Kalau lihat suasana di Kandang Badak yang hiruk pikuk gini, saya selalu bete. Kesel kalau di gunung banyak orang. Tapi yah semoga saja semua orang-orang ini punya cukup tanggung jawab untuk benar-benar peduli dengan gunung. Bukan cuma naik-naik ke puncak gunung, foto-foto, turun gunung, cari internet, pamer di facebook tapi lupa bawa sampah turun, persis seperti rombongan pendaki yang saya temui di puncak Gede, satu plastik sampah dia tinggal tepat di tugu puncak Gede. Lucunya lagi, kata temen saya yang lagi ambil air di Suryakencana, dia ketemu pendaki yang nyeletuk, "eh, sampahnya ketinggalan di puncak", tapi sama sekali tidak ada kemauan mereka untuk kembali mengambil 'souvenir' milik mereka itu.

Persimpangan dua gunung :p (15:22)
Lanjuuuut... dari Kandang Badak menuju Puncak Pangrango. Jalan sampai di pertigaan Kandang Badak-Gunung Gede-Gunung Pangrango kami belok kanan. Berbeda dari jalur menuju Gunung Gede yang sudah "beraspal" (baca: jalur batu-batuan terawat yang ditata rapi), jalur menuju Gunung Pangrango ini masih jalan tanah. Agak naik lagi medan jalur sudah mulai berupa perpaduan tanah dan akar-akar pohon. Menariknya di jalur menuju Pangrango ini ada kalanya kita dipaksa untuk beratraksi melewati pohon-pohon yang tumbang dan menghalangi jalur pendakian. Ada pohon yang tumbangnya terlalu tinggi untuk dilompati jadi terpaksa kita harus main limbo atau pohon yang tumbangnya cukup rendah untuk dilompati tapi terlalu besar batangnya, jadi mau tidak mau harus akrobat dulu biar bisa lewat.

Puncak Pangrango (19:04)
Dari Kandang Badak, kami butuh waktu hampir 4 jam untuk sampai di Puncak Pangrango. Pada 30 menit pertama medan masih landai tapi setelah itu mulai bervariasi. Pendaki perlu berhati-hati kalau naik ke Pangrango karena banyak bukaan jalur baru. Ikuti saja jalur yang ada papan tanda atau pita rafia dan cenderung ikuti jalan yang ke kiri. Pokoknya selalu berhati-hati dan perhatikan jalur baik-baik, karena jalur ke Gunung Pangrango ini tidak bisa disamakan dengan jalur ke Gunung Gede yang sangat tertata rapi dan terawat.

Memasuki jam ke-4 perjalanan kami menuju Puncak Pangrango, ketahanan fisik dan mental benar-benar diuji. Badan yang sudah semakin lelah ditambah perasaan frustasi karena 'gak sampe-sampe' pun berhasil bikin mental-breakdown. Sampai pada saat matahari benar-benar hilang dari belahan bumi yang sedang kami pijak, kami menunduk, berdoa dalam diam dan merenung atas segala kesombongan kami.

Jelang sebelum sampai di batas vegetasi, saya masih ingat benar sejak pertama kali mendaki Gunung Pangrango, setelah tanjakan yang ada kayu besar banget dimana di situ bisa terlihat jelas Gunung Gede akan ada tanjakan lagi yang untuk melaluinya sampai membutuhkan pegangan dari akar-akar pohon. Nah, kalau sudah sampai sini tinggal ikuti jalur sampai menemukan area vegetasi cantigi. Ikuti jalurnya yang landai sampai tadaaa keliatan deh tugu triangulasi di Puncak Pangrango.

Karena kami sampai di Puncak Pangrango saat langit sudah gelap dan mulai ada tanda-tanda mau hujan, maka kami langsung menuju Lembah Mandalawangi. Pada keadaan gelap memang agak susah untuk menemukan jalur menuju Lembah Mandalawangi. Ancer-ancernya adalah dari gubuk rusak di Puncak Pangrango, di sebelah kanan belakangnya (depannya adalah jika kita menghadap ke Gunung Gede) di situlah jalan menuju Lembah Mandalawangi. Di sini kami membangun tenda dalam kondisi kehujanan. Alhasil jadilah tenda dengan bentuk seadanya. Secara dalam kondisi kedinginan dan tergesa-gesa, gelas cangkir tak berdosa pun harus rela menanggung beban dijadikan pasak tenda.

Sunrise Puncak Pangrango (05.30)
Setelah satu malam kami tidur dengan keadaan apa adanya dengan rain cover tenda dalam keadaan setengah terbuka menghadirkan panorama live view Lembah Mandalawangi yang nampak jelas dalam paparan sinar rembulan. Ya, malam ini cuaca sedang cerah, meski tidak berarti mengurangi angka dalam derajat celcius yang menyekap kami dalam dingin.

Alarm jam lima pagi sudah menjerit. Para pendengarnya pun tidak lantas bangun dengan suka cita. Terlalu asyik dalam dekapan dingin. Setelah melakukan proses ngulet dan berbagai ritual lainnya, akhirnya kami berangkat juga untuk sunrise-driving di Puncak Pangrango.

Lembah Mandalawangi ke Puncak Pangrango itu deket banget kok, paling hanya butuh sekitar 5-8 menit. Dan kami pun datang "kepagian", begitu sampai di Puncak Pangrango, langit masih gelap. Sampai akhirnya ciptaan Tuhan yang paling kami tunggu-tunggu pagi itu pun datang juga.





Pukul 6.20 kami kembali ke tempat nge-camp kami di Lembah Mandalawangi. Bukannya langsung bergegas bikin sarapan, kami justru jalan-jalan sambil menikmati keindahan edelweiss Lembah Mandalawangi yang memang sedang bermekaran.





Hari Kedua: Pendakian Menuju Gunung Gede
Saking asyiknya menikmati sajian panorama di Lembah Mandalawangi, sampai berat rasanya meninggalkan tempat ini. Perasaan yang sama persis saat pertama kalinya saya akan meninggalkan tempat ini dua tahun yang lalu. Seiring dengan semakin tinggi matahari memaparkan sinarnya, Lembah Mandalawangi dengan ribuan perdu Annaphalis javanica yang saling perpadu dengan pepohonan cantigi yang mengelilingi lembah, seperti mengajak setiap pemimpi dalam dunia yang penuh dengan sambut kehangatan.

Lembah Mandalawangi sebelah barat

Lembah Mandalawangi sebelah timur laut

Lembah Mandalawangi sebelah timur


Di depan tugu triangulasi Pangrango
Saat-saat terakhir sebelum meninggalkan Lembah Mandalawangi, saya manfaatkan setiap detiknya untuk merekam setiap elemen-elemen di Lembah Mandalawangi. Sekitar jam 10 lebih sedikit, kami meninggalkan Lembah Mandalawangi dengan membawa buih-buih kedamaian yang tak akan terlupakan. 

Jalur dengan area pepohonan cantigi

Jalur dengan area pepohonan cantigi
Hari kedua perjalanan kami teruskan menuju Gunung Gede. Untuk bisa menuju kesana, kami harus turun kembali sampai di persimbangan Kandang Badak. Kurang lebih 1,5 jam waktu yang kami butuhkan dalam perjalanan turun dari Gunung Pangrango. Sampai di persimpangan Kandang Badak, sambil menunggu masuk waktu sholat Dzuhur, kami beristirahat dan makan bekal buah-buahan.

Setelah disepakati bersama, kami tetap akan melanjutkan pendakian ke Gunung Gede. Memang ini sudah menjadi rencana sejak awal, tapi dalam pelaksanaan di lapangan perlu untuk merundingkan kembali rencana perjalanan dengan mempertimbangkan cuaca, logistik (khususnya air dan konsumsi) dan yang paling penting kondisi fisik dan mental dari anggota rombongan. Masing-masing anggota rombongan juga harus paham benar konsekuensi jika perjalanan dilanjutkan. Karena jika memang sudah tidak mampu lagi untuk melanjutkan perjalanan sesuai dengan rencana, pilihan terbaik adalah kembali turun via Cibodas.

Menuju Puncak Gede
Selesai ISHOMA di persimpangan Kandang Badak, kira-kira jam 12.30 kami melanjutkan pendakian menuju Gunung Gede. Dengan sisa-sisa energi yang masih kami miliki pasca pendakian Gunung Pangrango, perjalanan kami menuju Gunung Gede kali ini bagaikan slow motion. Ralat, bukan bagaikan lagi, tapi memang slow motion. Selangkah demi selangkah kami tapaki jalur bebatuan menuju Puncak Gede.

Untuk menuju Puncak Gede, pendaki tinggal mengikuti jalur bebatuan yang memang sudah disusun rapi. Pada jam 13.30 kami sampai di persimpangan tanjakan. Ada yang bilang namanya Tanjakan Rante, ada juga yang menyebutnya dengan Tanjakan Setan, saya kurang yakin mana yang benar, tapi mari kita sebut saja Tanjakan Mesra. Seperti ketika saya tanya teman saya, "Kenapa mesra?" yang dijawab dengan guyon, "Soalnya kalau lewat tanjakan ini ending-nya kan mesra." Maksudnya kan kalau sudah sampai atas akan ada teman yang membantu kita dengan menarik tangan kita sampai benar-benar berhasil melewati tanjakan. Hehehhe.. (-_-")

Tanjakan Mesra, Gunung Gede (13:26)

Keliatannya seru, kan? :p
Nah, sudah liat gambar tanjakannya, kan? Merasa tertantang? Hehhehe.. asyik, lho lewat tanjakan ini, jadi gak bosen jalan kaki terus. Tapi buat pendaki yang kuatir terpeleset atau gak yakin bisa melewati tanjakan ini, bisa lewat jalur yang lebih landai. Dari persimpangan sebelum tanjakan ini bisa ambil arah yang ke kiri. Di situ jalurnya memang lebih landai, tapi dengan konsekuensi memakan waktu yang lebih lama. Katanya, sih kalau lewat tanjakan bisa hemat waktu perjalanan sekitar 30 menit. Eh, tapi kalau lewat tanjakan trus istirahatnya sampai 30 menit bahkan lebih ya sama aja bohong. Soalnya begitu sampai ujung tanjakan trus duduk-duduk istirahat di situ sambil menghadap ke arah Gunung Pangrango, wuih pasti betah, deh.

Setelah saling tampar-menampar dan tersadar kembali pada kenyataan. Kami kembali melanjutkan pendakian ala slow motion. Ngomong-ngomong, waktu melewati Tanjakan Mesra ini, kami bertemu satu rombongan pendaki yang barengan nanjaknya. Ada beberapa foto mereka yang terekam di kamera saya. Nah, kalau diantara pembaca ada yang mengenal atau malah orangnya yang bersangkutan bisa menghubungi saya kalau memang mau, bisa saya kirim foto-fotonya.

Meski dengan langkah-langkah gontai, akhirnya sekitar pukul 14.30 sampai juga kami di Puncak Geger, yaitu area puncak Gunung Gede tapi yang bagian pinggir, karena memang belum sampai di titik puncak yang tertinggi. Di sini kami istirahat dulu, sambil foto-foto. Saat cuaca cerah, dari pojok ini kita bisa melihat jelas kawah Gunung Gede yang mengepulkan asapnya lengkap dengan pemandangan tekstur khas dinding kawah yang menjulang tinggi membentuk puncak Gunung Gede berpadu dengan birunya langit.

Puncak Geger (14:40)



Lagi nyantai di belakang rumah bareng 2 bodyguard hehehe :p
Dari tempat kami foto-foto ini rasanya sudah malas banget buat melanjutkan perjalanan. Tapi berkat dorongan semangat dari teman-teman dan persediaan air yang sudah sangat kritis akhirnya kami kembali ngesot menuju Puncak tertinggi di Gunung Gede. Butuh waktu 45 menit untuk kami jalan slow motion  dari Puncak Geger menuju Puncak Gunung Gede.

Puncak Gede (14:29)
Dengan status air yang sudah habis dan kondisi fisik di ambang batas, akhirnya diputuskan untuk nge-camp di puncak tapi beberapa orang turun ke Suryakencana untuk ambil air. Pertimbangan lainnya, dengan nge-camp di puncak kami berharap bisa menikmati sunset dan sunrise tanpa harus turun dulu ke Suryakencana lalu ke Puncak lagi. Apalagi waktu itu masih jam tiga sore, senja masih cukup lama sementara kerongkongan sudah sangat kering, lambung pun sudah menjerit meminta asupan makanan.

Sorenya kami sudah berharap bisa mengantar matahari tenggelam. Sayangnya matahari tertutup gumpalan-gumpalan awan. Tapi tidak lantas untuk tidak diabadikan. Karena bagaimanapun cara matahari menghiasi langit di atas permukaan bumi ini selalu membawa keindahan yang tidak pernah sama bahkan selalu memukau.

Senja yang tidak biasa




Hari Terakhir: Lamunan Siang Bolong di Alun-alun Suryakencana
Malam kedua kami dalam perjalanan Double Summit terlewati dengan cerita-cerita penuh suka duka. Mulai dari yang gak jelas sampai yang makin gak jelas karena satu persatu dari kami pun mulai terlelap dalam dinginnya malam.

Keesokkannya, sekitar jam setengah enam pagi saya sudah semangat untuk menunggu matahari terbit. Menunggu dan menunggu sampai akhirnya semburat jingga mulai menghiasi langit di sebelah timur. Memang tak tampak nyata matahari yang saya tunggu, tapi cukup bagi saya jingga matahari yang tidak sembarangan orang bisa melihatnya dari ketinggian 2.958 meter di atas permukaan laut itu. Saya hanya bisa terkagum dalam syukur.



Pukul 10.00 kami mulai berkemas. Begitu selesai packing kami melanjutkan perjalanan turun yang kali ini melalui jalur Gunung Putri. Turun dari Puncak Gede sekitar jam 10.30 sampai di Alun-alun Suryakencana jam 11.00. Ini pengalaman pertama bagi saya melalui jalur via Gunung Putri. Sepanjang jalur anatara Puncak Gede dan Alun-alun Suryakencana medannya sama seperti jalur antara Kandang Badak dan Puncak Gede. Jalur berupa tataan rapi bebatuan dengan pepohonan cantigi di kanan-kirinya. Katanya sih dulu jalannya belum serapi saat ini. Dulu belum ditata batu-batuan. Sepanjang jalur ini juga bikin saya gemes buat foto-foto. Habisnya bagus, sih. Apalagi begitu sudah mau sampai di Suryakencana. Dengan jalur bebatuan dengan pohon-pohon cantigi yang renggang-renggang jaraknya, tinggal dipasangin bangku sama lampu taman aja, pasti bakalan banyak yang pacaran di situ, deh. Hehehee..

Start turun (10:30)

Tampak jalur dari puncak Gede menuju SurKen


Sampai di Alun-alun Suryakencana (11:01)

Begitu sampai di Alun-alun Suryakencana, hal pertama yang saya lakukan adalah: TAKJUB. Memang sungguh luar biasa kuasa Sang Pelukis Alam ini. Saya masih dibuat lebih takjub lagi bahkan sekaligus merasakan sendiri betapa begitu limpahnya kebaikan Tuhan, yaitu ketika saya melihat sendiri sungai yang mengalir di tengah-tengah Alun-alun Suryakencana. Di tengah-tengah padang rumput yang begitu luas membentang kok ya bisa-bisanya ada sungai lengkap dengan limpahan air jernih yang mengalir dengan derasnya. Sumber air yang digunakan pendaki untuk minum, memasak bahkan mencuci dan mandi. Mau langsung diminum pun air dari Suryakencana ini sangat menyegarkan. Bisa merasakan segala kenikmatan alam ini membuat hati kecil saya berharap agar anak cucu saya kelak juga bisa merasakan hal yang sama.



Alun-alun Suryakencana yang luas banget

Sumber air di Alun-alun Suryakencana

Air yang jernih banget, kan?
Bicara soal Alun-alun Suryakencana, tidak bisa lepas dari ribuan perdu edelweiss yang bertebaran di hamparan padang rumput seluas 50 hektar tersebut. Sama seperti di Lembah Mandalawangi, bunga-bunga edelweiss di Alun-alun Suryakencana juga sedang mekar-mekarnya. Wah, pokoknya Subhanallah deh.. Saya sampai tidak bisa menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan rasa takjub saya akan keindahan alam yang sedang saya hadapi di hamparan Suryakencana, karena sekali lagi ada hal yang memukau mata dan menenggelamkan saya dalam  alam lamunan.









Berat hati kami meninggalkan hamparan lamunan di Alun-alun Suryakencana ini. Seperti tahu betapa enggannya saya beranjak teman saya bilang, "Tenang aja, kita masih akan jalan di sepanjang Suryakencana ini, jalan sampe ujung sana itu" sambil dia tunjuk arah yang dari penilaian saya tidak nampak seperti sebuah ujung. Memang dari tempat saya berdiri ujung hamparan padang Suryakencana ini tidak terlihat karena memang nyatanya ujung itu berada jauh sekali. Butuh waktu 30 menit bagi kami untuk akhirnya sampai di batas vegetasi.



Batas vegetasi (11:58)
Nah, perjalanan mulai memasuki area hutan. Selama ini saya hanya mendengar dari cerita orang-orang kalau jalur via Gunung Putri itu lebih menanjak kalau dibandingkan dengan jalur via Cibodas. Pengalaman saya kali ini jelas membuktikan omongan itu. Seperti apa nanjaknya? Liat gambar saja langsung ya.

Awal-awal sih masih landai :p (12:04)
Taddaaaa...
Nah, lho..
Kalau ada yang tanya, "Emang gak capek?" Yaa.. jelas capek, lah. Secara jalan menuruni setiap tanjakan dengan kondisi gagal dengkul itu rasanya udah kayak robot belajar jalan. Tapi keinginan kuat kami untuk buruan sampai di bawah dan segera mengisi perut pun mampu mengalahkan rasa sakit dan lelah. Udah kayak badak, langsung terjang dan kami pun sampai di Pos GPO pukul 14.39 (kurang lebih 2,5 jam dari batas vegetasi di Suryakencana).

Note:
  1. Pertimbangkan baik-baik keperluan air minum. Di Gunung Gede/Pangrango ini memang tersedia air dalam jumlah yang banyak. Mulai dari sungai dari Air Terjun Cibeureum, Sungai di Kandang Batu bahkan di Kandang Badak pun ada. Khusus untuk air di Kandang Badak saya pribadi lebih menyarankan untuk keperluan memasak saja. Pengalaman saya pernah minum air di Kandang Badak tanpa direbus dulu efeknya kerongkongan saya jadi gatel.
  2. Masih soal air. Di Lembah Mandalawangi ada sumber mata air, tapi volumenya sangat tergantung dengan curah hujan. Untuk memastikan apakah ada air di mata air ini alternatif caranya adalah seperti yang dilakukan oleh seorang teman saya. Sepanjang perjalanan, dia menanyakan kepada setiap pendaki yang sedang jalan turun. Jika pendaki tersebut turun dari Puncak Pangrango atau Lembah Mandawangi tanyakan apakah ada cukup air di mata air di Lembah Mandalawangi. Jika memang ada air cukup banyak, kita bisa mengurangi bekal air minum. Tapi kalau tidak, alangkah baiknya mengecek kembali persediaan. Kalau ternyata tidak cukup, bisa ambil air di Kandang Batu atau Kandang Badak.
  3. Mata air di Lembah Mandalawangi
  4. Kurangi membawa perbekalan yang dapat menimbulkan sampah non-organik. Logistik konsumsi yang biasanya mie instan bisa diganti dengan sayur-sayuran dan buah-buahan. Sayuran bisa dibeli di pasar Cibodas, harus pinter nawar biar dapet harga yang murah. Hehehee..
  5. Kalau baru pertama kali mendaki dari jalur Gunung Putri, sebelum Pos GPO itu ada jalan yang sedikit membingungkan. Awalnya kita akan melewati jalan cor-coran. Nah, akan ada belokan tuh, kalau mau ke Pos GPO kita mesti ambil jalan yang lurus. Biar lebih jelas liat gambar aja. 
Kalau mau naik, ambil jalan yang lurus terus
Terimakasih!
Sekali lagi, luapan syukur yang meletup-letup saya tujukan kepada Sang Penguasa Semesta Alam, Allah SWT. Pada setiap langkah yang tertapak dalam sepanjang perjalanan, di setiap tarikan napas yang memenuhi ruang paru-paru, untuk teguran yang membuat saya belajar lebih memahami dan atas segala limpahan kenikmatan yang telah saya alami selama pendakian ini, terimakasih ya Tuhanku lagi-lagi Engkau berikan keajaiban yang begitu luar biasa.

Terimakasih juga!
  1. Bapak dan Ibuk di rumah yang telah sudi mengizinkan anak perempuan satu-satunya ini kelayapan.
  2. Lophe, Adi, Eddy dan Nia. Teman seperjalanan yang jagoan abis!
  3. Temen-temen di Montana yang sudah banyak membantu dan semua pihak yang sudah turut berpartisipasi memberikan warna dalam perjalanan ini.
Catatan Keuangan 
menyusul yaa :p

Sekian. Terimakasih sudah membaca. Sampai berjumpa di perjalanan berikutnya. ^_^


There's always gonna be another mountain
I'm always gonna wanna make it move
Always gonna be an uphill battle
Sometimes I'm gonna have to lose
Ain't about how fast I get there
Ain't about what's waitin' on the other side
It's the climb


(Jon Mabe dalam judul "The Climb" dinyanyikan oleh Miley Cyrus)