Showing posts with label goa. Show all posts
Showing posts with label goa. Show all posts

Sunday, September 18, 2016

Weekend at Ora - Part 2 "Serpihan Surga" (END)

Setelah hari pertama di Ora gak ngapa-ngapain, cuma foto-foto doang, jam 8 malam saya udah ketiduran. Memang ya, faktor-U gak bisa dibohongi, yang biasanya cuma naik motor 5 menit doang dari rumah ke kantor, terus motoran seharian nyebrang dua pulau di Maluku ya jelas remuk badan saya, bos. Kalau jalannya rata sih masih mending, lha ini tu jalannya kayak jalanan di Gunung Kidul cuma naikin levelnya 10 kali, dari segi panjang jalan dan ketajaman tikungan. Kebayang? 

Padahal saya kira road trip Tanjung Redep-Tanjung Batu yang waktu ke Derawan bulan lalu itu sudah gila, ternyata eh ternyata, road trip Ambon-Seram ini lebih parah gilanya. Dua orang cewek doang, naik motor matic, kondisi hujan deres, belum lagi pas jalan di area gunung dinginnya minta ampun, sampe menggigil beneran saya. Gak heran malamnya saya langsung tepar kecapekan. Padahal rencananya kami berdua mau ngobrol diskusi tentang rencana next trip, gagal deh. Tapi ada baiknya juga kami tidur cepat, soalnya besoknya bisa fresh lagi buat menjelajahi sekitaran Ora Beach Eco Resort.

Hari Minggu pagi saya sms Pak Munir, motoris yang akan mengantar kami baronda (Maluku/Malut: keliling) sekitaran Ora, minta dijemput jam 7 pagi. Hari itu matahari masih kalah sama mendung, malah sempat turun gerimis juga waktu kami mau mulai jalan.

Ini Ora pas lagi gak hujan, kece banget yak?

Tebing Batu Hatupia

Spot pertama yang kami datangi adalah Tebing Batu Hatupia. Ini adalah area pertemuan perairan teluk dengan tebing karst, iya langsung batu tebingnya gitu, gak ada pantai atau bakau yang biasa kalau di pesisir-pesisir. Di salah satu spotnya ada goa lautnya. Kalau berani bisa mencoba berenang atau menyelam di sini.

Tebing Batu

Masih tebing batu

Pintu masuk goa 
Sisi depan goa



Airnya jernih buanget

Goa kalau dilihat dari lubang "jendela" nya



Kami gak berani nyebur di goa, dalem banget, coy. Hahaha. Sebenernya berani kalau ada "safety guard"-nya tapi ini cuma cewek-cewek ilalang begini, tenggelam satu ya tenggelam semua. Jadiya kami lanjut ke (masih) tebing batu lagi, tapi di area yang lebih dangkal. Di situ ada semacam gazebo laut berukuran 2x2 meter dengan atap gaba/rumbia kecil.







Gak jauh dari area gazebo ini juga ada goa kecil. Kalau yang ini kami berani masuk, soalnya gak sedalam goa yang pertama tadi, bahkan di bagian ujung dalamnya cethek banget.

Gaiss, vandalisme itu gak cakep!!

Two ilalangs di dalam goa

Lalalaaaa...

Di dalam goa
Di area tebing batu ini didominasi dasar yang berpasir, tapi ada juga yang banyak batu-batuan bercampur dengan batu karang, salah satunya yang deket dengan goa kedua ini. Terumbu karang juga ada di sini, tapi masih muda dan kecil-kecil.




Mata Air Belanda

Dari Tebing Batu, kami lanjut ke Mata Air Belanda. Lokasinya ada di antara Pantai Ora dan Dermaga Saleman. Kalau dari Tebing Batu kita akan melewati lagi Pantai Ora. Di sini pengunjung diharuskan membayar tiket masuk sebesar 25ribu. Gak ada loketnya sih, cuma bayar di nyong/nona yang jaga warung di pantai ini.


Lokasi Air Mata Belanda

Pantai yang airnya campuran mata air dan laut

Dingiiin brrrroooow
Sebelumnya kami sempat diberi tahu pak motoris kalau air di Mata Air Belanda ini sedingin es. Kirain cuma becanda aja, palingan ya dingin-dingin biasa aja. Ternyataah, brrrrr dingin beneran bos. Dan yang makin bikin takjub itu, airnya tawar. 

Sumur dari mata air, tawar dan seger banget



Jadi, di area Mata Air Belanda ini ada beberapa titik mata air. Salah satunya yang jelas di sumur yang digunakan oleh warung-warung di sini, soalnya mata airnya dilindungi pake drum plastik. Kalau yang gak terlindung ada cukup banyak di beberapa tempat, salah satunya kami temukan di tepi pantai. Di situ ada sekitar 7-8 "lubang" mata air. Dari lubang itu menyeburkan air tawar yang dingin banget. 



Emmmm...

Two ilalangs

Hobbit & Gandalf

Swing.. swing..

 Taman Kupu-Kupu


Selain ada mata air yang ajaib, kami diberitahu oleh motoris kalau di area Mata Air Belanda ini ada Taman Kupu-kupu juga. Kebetulan waktu ke sini kami bertemu juga dengan pemilik tamannya. Dia cerita menggebu-gebu tentang taman kupu-kupu buatannya itu yang katanya banyak bule-bule luar negeri tertarik untuk melihat. Karena penasaran seperti apa sih taman kupu-kupu yang dicari sama bule-bule itu, akhirnya kami mau juga diantar ke tamannya itu.



Agak ajaib sebetulnya, ada taman yang dipenuhi bunga pagoda di tengah-tengah kebun yang didominsai pepohonan tahunan seperti pohon cengkeh, pala, coklat dan durian. Tapi salut juga sama bapak si pemilik taman kupu-kupu, kalau melihat cara pikir orang-orang "di sini", ini investasi yang sangat berani. Saya doakan taman kupu-kupu ini, 5-10 tahun lagi jadi lebih ngehits, nah pas saya datang lagi ke sini udah kece banget pasti tamannya. Amiiin.




Berhubung pas kami kesini semesta sedang mendung, jadi gak banyak kupu-kupu yang muncul beterbangan di area taman. Saya sempat lihat kupu-kupu warna biru yang keren banget, gak tau deh nama spesiesnya apa, sudah dikasih tahu sama bapaknya tapi saya lupa.

Selama bukan ulat bulu, saya berani :p

Si bapak mau ikutan eksis
Bersihin swallow pinjeman dulu

Btw, untuk bisa menuju ke taman kupu-kupu ini gak gampang, lho. Mesti jalan treking dulu melewati jalan setapak di sekitaran kebun. Kalau pakai standar bapaknya hanya makan waktu 15 menit, tapi realisasi kami jalan butuh 25 menit, maklum deh, princess sih. Hehehe. Sebenernya karena faktor jalananya yang becek aja sih. Ngeless. Lalu waktu untuk treking baliknya lebih cepet lagi, seperti biasa kalau treking, waktu turun itu setengah kali waktu naik, jadi kami turun kami hanya butuh waktu 10 menit saja.




Snorkling di Ora!

Dari Mata Air Belanda, kami lanjut balik ke resort. Tujuan utama dijamahnya paling terakhir dong, hehehe. Agak siang, di resort mulai banyak pengunjung, kebanyakan sih rombongan open trip yang gak nginep di resort. Tapi jangan bayangin banyaknya udah kayak cendol ya. Banyak di sini itu ya paingan yang snorkling-an itu 7-9 orang lah. Karena Ora ini memang hanya untuk mereka yang --kalau gak--bernyali besar ya berdompet tebal. Saya? Saya sih masuk yang golongan bernyali nekat dan gila, balik dari jalan-jalan biasanya langsung jatuh miskin. Wkwkwk.



Snorkling di Ora? Enaaaakkk banget! Kalau kalian mau menikmati taman surga bawah laut tanpa effort yang berat ya di Ora ini tempatnya. Gak perlu bisa free diving, gak perlu pake scuba-diving (bahkan kayaknya gak perlu bisa berenang, deh), tinggal bermodalkan pelampung sama snorkle saja, trus ngambang-ngambang aja di pantai Ora ini, dan tadddaaaaa tinggal kalian nikmati indahnya coral-coral warna-warni berbagai bentuk lengkap dengan ikan-ikan yang berenang di sekitarannya.










Perlu sangat berhati-hati saat snorking di Ora, karena "cethek" salah-salah bisa nendang atau malah gak sengaja menginjak terumbu karang. Amannya selalu cari spot yang agak dalam saja, jangan terlalu dekat dengan pantai, lagipula terumbu karang di dekat pantai kecil-kecil juga. Lebih bagus dan banyak ikannya yang di dekat dermaga. 



Teluk Saleman

Saya gak tahu nama resminya apa, tapi berhubung nama desa di pelabuhan penyeberangan ke Ora namanya Negeri Saleman, mari kita sebut saja Teluk Saleman.

Puas snorkling di Ora (belum puas, sih aslinya), mandi dan beberes packingan kami pun balik ke Teluk Saleman. Thanks to Pak Munir yang masih setia menunggu kami, ya iyalah dibayar, hehehe. Tapi memang bapaknya baik, sih. Selama jalan sama kami beliau dengan senang hati mau motoin kami. Kayaknya memang bapaknya tertarik dengan jepret menjepret, soalnya hasilnya lumayan bagus, bisa ngarahin gaya dan punya ide foto yang kece. Zuper zekali.

Oke, sampai di Teluk Saleman sekitar jam satu siang. Persiapan untuk road trip balik kami sangat sederhana: semangkuk sarimi telur pake irisan cabe rawit dan segelas teh panas. Itu saja.

Sambil nunggu pesanan kami dimasak, kami sempat jalan-jalan di sekitaran dermaga. Di sini ikan teri-teriannya banyaaaak buanget. Trus ada satu-dua terumbu karang juga. Ohya, di dekat dermaga ada penginapan juga, kamarnya cuma ada tiga sih dengan tarif lebih murah dibandingkan di resort.



Pulaaang....

Nah, akhirnya sampai juga di saat-saat paling males dari sebuah perjalanan, yaitu perjalanan pulang. Hehehe. Males tapi harus. 




Terimakasih!

Alhamdulillah, satu lagi perjalanan (gila) telah saya lalui. Terimakasih Tuhan, Kau ijinkan lagi aku melihat bukti kuasamu, salah satu lukisan sempurna-Mu di bumi ini, sebuah serpihan surga yang sangat indah, menakjubkan dan penuh keajaiban.

Terimakasih..
  • Ibuk & Bapak,
  • Mima, teman galau & teman jalan saya yang akhirnya ketularan ketagihan dunia bawah laut,
  • Fajra, Adit dan teman-teman Maluku, terimakasih banyak untuk semua-muanya, udah diijinin nginep di mess, kemana-mana nebeng mobil, diajakin nonton, dipinjemin helm, jas hujan sampe sandal swallow. Jangan kapok ya, Maluku masih banyak yang harus di-eksplore, nih.

___________________________________

Cara Kesana & Perkiraan Ongkos
Ke Ambon dulu, umunya bisa naik pesawat, harga? cek sendiri di Traveloka. Dari Ambon, setahu saya (dari pengalaman Mima yang sudah dua kali ke Ora dengan jalur berbeda) ada 2 alternatif:
  1. Ngeteng:
    1. Naik kapal cepat, tujuan Masohi, kalau gak salah inget tarifnya sekitar 600k. (Kalau ada teman saya di Maluku yang baca tolong dikoreksi, ya, japri saya, trims)
    2. Carter mobil dari Masohi sampai Saleman, harga tergantung deal-nya, tapi rata-rata sekitar 2jt-an
  2. Jalan sendiri
    1. Sewa motor/mobil dari Ambon, kemarin kami dapat sewa motor harga 300k.Ini harga persahabata, (thanks to Fajra)
    2. Naik kapal ferry di Pelabuhan-saya lupa namanya-pokoknya pelabuhan ferry Ambon-Seram, letaknya dekat Pantai Liang. Untuk 2 orang penumpang + 1 motor tiketnya 55k.
    3. Selama perjalanan PP kami habis bensin kira-kira 80k. Sepanjang perjalanan di Seram Bagian Barat dan Maluku Tengah banyak kok yang jualan bensin eceran. Di dekat Pelabuhan Waipirit (SBB) dan di TNS (pertigaan di Maluku Tengah kalau mau belok ek arah Saleman) juga ada POM Bensin. Cuma kalau yang di TNS ini hari Minggu libur.
    4. Perlu sangat berhati-hati selama perjalanan darat, karena di beberapa titik jalanan berlubang. Ban motor yang kami tumpangi sempat kena paku. Beruntung, tidak jauh dari TKP ban bocor ada tempat tambal ban.
    5. Kalau bawa motor, bawa jas hujan, pastingan packingan di plastik dulu. Saya sudah buktikan pake rain-cover  saja ternyata tidak cukup untuk menyelamatkan baju-baju agar tetap kering. Karena rembes itu nyata.
Nyebrang dari desa terakhir (Desa Saleman) ke Ora Eco Resort
Bagian ini yang paling bikin tekor, kapal-kapal nelayan di sini sistemnya carter. Perkapal tarifnya mulai dari 600rb sampai 1,5 juta, tujuan mau diantar kemana aja. Kalau hanya di spot-spot kawasan teluk Ora motoris biasanya akan minta tarif 1jt. Kalau berangkatnya rombongan sih, gak masalah ya, tapi klo cuma berdua doang (kayak kami, hiks) yang mesti pinter-pinter nawar dan memelas aja.

Beruntung kami akhirnya dapat harga 600rb.
Btw, saya masih simpan nomor motoris yang kami carter waktu itu. Tapi saya lupa simpan pake nama apa. Hahaha... -.-"

Akomodasi?
  1. Di Ora Beach Eco Resort, tarik permalam 746k (sudah include pajak desa). Itu tarif untuk kamar darat, kalau kamar yang di atas laut saya lupa tarifnya berapa, jutaan kayaknya.
  2. Ada penginapan juga di dekat Pelabuhan Saleman, cuma ada tiga atau empat kamar gitu, harusnya sih tarifnya lebih murah.
  3. Homestay/rumah penduduk, mesti tanya-tanya dulu, sih. Barangkali bisa nginap di rumah penduduk di sekitaran Saleman. Cara ini jelas yang paling irit.
Makanan?
Di Resort, tarif kamar belum termasuk ongkos makan. Kalau mau disediakan makanan biayanya 300k perhari (kalau gak salah, pokoknya mahal seingat saya). Secara backpacker gembel, kami lebih memilih beli nasi bungkus dari daratan untuk di makan malam selama di Ora. Selebihnya bawa pop mie sama roti-rotian. Oh, iya air putih juga sebaiknya bawa sekalian.


___________________________________

Mahal dan menguras tenaga? Pasti. Tapi bisa menikmati mahakarya Tuhan yang ada di Ora sangat sepadan dengan perjuangan yang harus ditempuh. 

~Karena jalan menuju surga memang tidak mudah.




Ini? Bukan, ini bukan jalan menuju surga, (eh bisa juga, klo mau sembarangan) tapi ini video Jembatan Merah-Putih di Teluk Ambon.

Sekian, catatan perjalanan saya ke Ora di Maluku. 
Akkkkkkk jadi pengen balik kesana lagi. >,<

Thursday, September 1, 2016

Trip Nekat Berau: Pulau Maratua (Day 2) - Part 2

Maafkan kalau cerita saya ini udah kayak sinetron, bersambung terus. Hehe. Karena rasanya saya ingin tulis semua setiap detail peristiwa yang saya alami dalam setiap perjalanan yang saya lalui. Bukan untuk pamer, bukan untuk berlagak, bukan juga untuk mengharap simpati, tapi semata hanya-ingin-tidak-melupakan kisah yang belum tentu sepuluh tahun lagi akan terulangi atau bahkan memang tidak akan terulangi sama sekali, di tempat yang sama dengan orang yang sama pada suasana yang sama.

Kembali ke cerita... (baca dulu catatan part 1)

Beradaptasi dengan suasana di Pulau Maratua ternyata bukan hal yang sulit. Hawa-hawa pulau-pulau kecil dimana-mana memang sama saja. Sama terik panas maksudnya, tidak segerah di daratan besar, karena kalau di pulau masih ada kesejukan yang dibawa angin laut. 

Selesai makan siang di tepi pantai, kami langsung mengikuti Mas Wilson yang menjadi penunjuk jalan. Dengan dua sepeda motor, kami melalui jalanan di dalam pulau. Situasi yang amat sangat berbeda dari gambaran "sebuah pulau yang jauh dari peradaban kota" yang pernah saya kunjungi, Pulau Maratua ini sangat "terfasilitasi". Jalanannya sudah banyak yang diperkeras, baik itu dengan cor-coran semen ataupun aspal, di beberapa titik saat itu malah sedang dilakukan pengerjaan. Kualitas sinyal 3G Telkomsel di pulau ini juga sangat bagus, gak kayak 3G abal-abal di Jailolo. Ohiya, di Pulau Maratua juga sedang dibangun bandara, lho. Jadi, bagi yang kepengen banget bisa ke Pulau Maratua dan sekitarnya tapi gak mau ribet di perjalanan, gak mau nambah capeknya dan memang kebetulan lagi banyak duit bisa dipertimbangkan lagi untuk menunda sampai bandaranya beroperasi. Yah palingan 2-3 tahun lagi lah. Palingan, lho. :p


Kampung Teluk (saya gak tahu sebutannya, tapi nama ini terdengar cantik, kan?)

Spot pertama yang jadi rekomendai Mas Wilson untuk kami kunjungi ternyata adalah sebuah dermaga nelayan. Untuk menuju ke tempat ini, seingat saya tinggal mengikuti jalan aspal ke arah selatan sampai menemukan sebuah desa di pesisir pantai bagian dalam pulau. Ingat, kalau saya bilang bagian dalam itu artinya bagian hole/teluk besar di Pulau Maratua, ya. Di dermaga ini kami tidak perlu berbuat apa-apa. Bisa, sih kalau pengen nyemplung ke lautnya, tapi saya sarankan sebaiknya jangan. Kenapa? Soalnya pemandangan di hole raksasa ini sangat magical. Warna biru langit dan biru air laut seakan-akan menyatu. 

Can you find the horizone, like I found it in you? #eaa


Kolam renang raksasa

Perairan di hole ini bisa dibilang dangkal dengan pasir putih mendominasi dasarnya, kalau di peta gambarnya biru muda, dan memang persis seperti itulah kalau melihat dengan mata kepala langsung. Di sini airnya sangaaaaaat tenang, sangaaaaat jernih sampai-sampai guratan-guratan pasir terlihat jelas, dan juga sangaaaaaat banyak ikannya. Ikan kecil-kecil, sih, kayak ikan teri, yang memang biasanya lebih senang berenang di sekitaran dermaga, karena setelah sering saya amati ikan jenis ini lebih senang berenang di tempat yang teduh, alasannya mereka itu takut item gitu. Makanya gak pernah kan ada ikan teri yang warnanya item? Pasti ikan teri warnanya putih.
  
Ikan-ikan manja

Ratu ikan yang paling takut item
Selama duduk-duduk di dermaga ini, saya amati banyak rumah penduduk yang modelnya rumah panggung di atas laut. Seketika pikiran saya langsung ke Suku Bajo, karena rumah-rumah begini identik sekali dengan kampung-kampung Bajo yang pernah saya lihat. Dan setelah saya konfirmasi ke Mas Wilson, ternyata benar dugaan saya. Sebagian besar masyarakat Pulau Maratua ini adalah Suku Bajo. Well, tambah lagi rasa kekaguman saya pada suku yang satu ini, pada keteguhan mereka untuk konsisten mempertahankan ciri khas dan eksistensi mereka untuk bisa bertahan dimana pun mereka berada.

Hanya saja, saya masih penasaran dengan saluran pembuangan akhir di rumah-rumah panggung di sini, soalnya laut di sini kan jernih banget ya, dan so far saya tidak menemukan "nugget" dan "sossis" di lautan Pulau Maratua. Trus dibuang kemana ya? Hmmmm...


Goa Aji Mangku

Oke, mari kita lupakan sejenak misteri itu. Sudah puas dicekoki vitamin sea, kami dibawa Mas Wilson ke Goa Aji Mangku. Lokasinya ada di dalam hutan dengan akses jalan bebatuan besar, jadi kecuali motor trill tidak memungkinkan untuk lanjut jalan. Setelah parkir motor, oh tenang bukan parkiran resmi, cuma di bawah pohon rindang saja, jadi bebas parkir dan aman, kami diharuskan jalan trekking menuju lokasi Goa Aji Mangku ini. Saya lupa durasinya berapa jam, yang jelas kerasa lumayan capeknya. Awalnya tinggal mengikuti jalur jalan terjal yang konon katanya sedang direncanakan akan dibuat jalan yang layak sampai ke pantai, sampai di sebuah area terbuka kami mulai berbelok ke kanan, mengikuti jalur setapak. Bagi yang belum pernah ke sini dan tidak menyewa guide, saya kira pasti akan kesulitan menemukan jalur setapak ini, karena memang belum ada penunjuk jalannya.

Di jalan setapak ini sudah ada banyak kayu papan yang digunakan untuk membantu pejalan kaki untuk berpijak, kalau gak, dapat dipastikan kaki bakalan lecet-lecet semua karena keseringan menindas batu karang yang jadi dominasi jalur setapak itu, bahkan kalaupun Anda memakai sepatu. Oh, kecuali sepatu boot atau sepatu gunung mungkin masih aman. Emang ada ya yang pergi ke pulau pake sepatu gunung?

Singkat cerita, sampailah kami di lokasi Goa Aji Mangku. Kalau dilihat sekilas lebih mirip sumur, jauh dari bayangan goa yang ada di pikiran saya. Disebut goa mungkin karena anatomi vertikal-nya, lalu (konon katanya) ada jalur goa yang kalau ditelusuri bisa sampai ke laut, kayak di film Sanctum gitu, jadi mesti menyelam kalau mau membuktikan sendiri. Tapi kalau saya, sih percaya aja deh.

Mulut Goa Aji Mangku


Sebelumnya saya gak ada gambaran sama sekali tentang goa ini. Bahkan sebetulnya saya gak ada gambaran sama sekali tentang Pulau Maratua ini, seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, saya gak ada persiapan apapun untuk menghadapi Pulau Derawan dan kawan-kawannya ini. Kalau biasanya sebelum jalan saya sibuk browsing sana-sini, untuk kali ini tidak sama sekali. Murni saya cuma modal percaya, pasrah dan tanpa harapan apa-apa, yang saya tahu cuma satu: Pulau Derawan pulau impian mainstream yang lagi hits banget. Udah itu aja. 

Ehh, lhaa kok begitu saya liat wujudnya Goa Aji Mangku ini, saya langsung ingat salah satu episode di awal mula kemunculan My Trip My Adventure, waktu host-nya masih Hamish dan Vicky, jauh sebelum acara ini mulai sedikit lebay dengan tambahan drama dan prahara yang keliatan mengada-ada itu. Di episode itu kalau gak salah Vicky loncat dari tebing Goa Aji Mangku ini, sementara di Hamish lebih milih diving ke dasar Goa Aji Mangku. Dansetelah saya konfirmasi ke Mas Wilson, ternyata memang benar, MTMA pernah sampai goa ini, tapi itu sudah lama sekali.

Mulut goa di sisi sebelahnya, yang lebih lebar

I wish I was in the picture :(
So, apa yang bisa kita lakukan di Goa Aji Mangku ini?
1. Berenang-renang di "kolam" sedalam 30 meter (bahkan mungkin lebih)
2. Ngambang-ngambang gak jelas di "kolam" sedalam 30 meter (bahkan mungkin lebih)
3. Diving ke dalam goa (kalau ada alatnya)
4. Terjun nekat dari atas tebing
5. Jadi tukang foto, motoin mereka yang udah keasikan nyebur duluan.

Pilihan saya jatuh ke nomer 2, 4, dan (tentu saja) 5. Alasannya?
1. Ngambang itu adalah gaya berenang andalan saya, karena gak bikin capek. 
2. Terjun dari atas tebing, karena saya kan orangnya suka tantangan gitu. Pffttt. 
3. Tukang foto, karena takdir.

Rekor terakhir terjun nekat saya adalah dari atas deck tiga kapal terjun ke laut di sekitaran Pantai Nusara, waktu itu masih pakai life-vest. Kali ini saya merasa tertantang lagi untuk nekat terjun di Goa Aji Mangku ini, tanpa life-vest, bukannya sok-sokan, tapi memang baru ingat soal pelampung pas udah loncat. Dan ternyata sensasinya seru banget. Tanpa life-vest badan jadi lebih lama naik ke permukaan, terus jadi mirip di film-film gitu, ada moment beberapa detik yang rasanya hening banget waktu masih di dalam air. Asik lah pokoknya.

Cuma sayangnya, hape yang buat ngrekam waktu saya terjun mengalami tragedi menyedihkan. Pas sorenya kita berenang di laut, si hape gak sengaja "diajak" berenang juga. Tentang tragedi ini, saya sudah sempat tulis di caption instagram saya. Jujur saja, waktu itu saya punya rasa sombong, ada niatan saya untuk segera pamer di sosmed tentang keseruan saya terjun dari tebing Goa Aji Mangku. Namun, ternyata Tuhan membalas kesombongan saya itu dengan tragedi hape itu, hilang sudah video dan foto-fotonya. Padahal selama di Goa Aji Mangku dokumentasi yang jalan lebih banyak meggunakan hape itu. Tahu yang lebih memilukan lagi? Saya tidak punya foto satu pun saat sedang di Goa Aji Mangku ini. Sejak saat itu, saya berjanji akan lebih berhati-hati dengan pikiran dan niatan saya.

Emmm, sebetulnya hape iphone yang keceblung itu punya teman saya, yang bahkan sampai berita ini turun dia masih dikabarkan memakai hape kacangan yang hanya bisa sms dan telepon saja. Tapi kok yang kayaknya ngerasa sedih dan pilu banget malah saya ya? Hahaha -_-"


Dermaga Kecil

Sebelum pergi meninggalkan Goa Aji Mangku, Mas Wilson menawari kami untuk melihat dermaga kecil di dekat lokasi goa. Tidak terlalu jauh dengan jalan kaki, tinggal mengikuti jalan setapak yang memang sengaja telah disiapkan. Jalur ini biasa digunakan bagi pengunjung yang datangnya dari laut, kapal mereka akan sandar di dermaga kecil ini.

(Black) Boys in Blue

From where I sit at Dermaga Kecil

*sedang meresapi kepiluan*

Jembatan Teluk Pea

Masih dengan semangat membara dan langkah penuh suka cita kami kembali melanjutkan perjalanan. Kembali dengan cara yang sama seperti saat datang, mengikuti jalan setapak yang penuh bebatuan karang lanjut belok di jalan besar yang tersusun dari batu-batuan besar. Mungkin pengaruh karena mulai lelah, trekking balik ini jadi terasa lebih lama. Begitu sampai di tempat kami parkir motor, langsung lanjut mengikuti kemana Mas Wilson membawa kami.

Kami kembali ke arah tempat penginapan, sesuai rencana memang spot terakhir kami hari itu adalah di Paradise Resort. Dalam perjalanan kami sempat berhenti dulu di Jembatan Teluk Pea. Kenapa? Karena tempatnya fotogenik gitu, ada hutan mangrove di kedua sisi sungai, trus di hilir sungai sudah bisa lihat lautan yang biru, sementara di hulu sungai matahari sudah mulai turun. Sayang, gak bisa lama-lama di sini soalnya mengganggu lalu lintas dan lagian waktu kami juga mulai terbatas, takut gak dapet sunset di pantai.

Mayan juga ni foto


Lihat Penyu Bentar

Di Pulau Maratua ini ada spot yang sering didatangi penyu. Nah, sambil jalan menuju Paradise Resort, kami mampir di spot dengan dermaga yang sangat panjang ini (yang mesti naik motor kalau mau cepet sampai ujungnya). Ditengok sana-sini gak ada tanda-tanda keberadaan penyu. Pas kami akhirnya memutuskan lanjut jalan, eh ternyata ada seekor penyu yang lagi berenang di dekat jembatan dermaga. Hanya bisa memandang dari atas laut, penyunya pun kayaknya lagi buru-buru, mau angkat jemuran mungkin, kan udah sore.

Sebenernya besoknya kami juga bakalan lihat penyu lebih dekat di Pulau Sangalaki, tapi ya biarlah kami menikmati kegumunan ini.

Nyu Penyu

Paradise Resort

Ini adalah resort yang dikelola oleh pihak swasta. Kalau kalian cari akomodasi di Pulau Maratua dari Traveloka atau semacamnya pasti yang muncul resort ini dengan tawaran harga permalamnya yahh sekitar jutaanlah. Belakangan saya tahu kalau ternyata kebanyakan wisatawan hanya tahu kalau di Pulau Maratua hanya ada resort ini sebagai tempat akomodasinya, makanya mereka jadinya lebih memilih menginap di Derawan yang harganya relatif lebih murah. Padahal nyatanya di Pulau Maratua ini juga ada cukup banyak penginapan dan homestay kok. 

Walaupun kawasan Paradise Resort ini tergolong 'private', tapi ternyata gak private-private amat. Memang ada area yang terlarang bagi selain tamu resort, tapi ada juga area yang boleh dimasuki bebas oleh pengunjung.

Menurut Mas Wilson di sekitaran Paradise Resort ini adalah kawasan yang banyak ikannya. Makanya kami diajakin snorklingan di sini. Iya sih, mayan banyak ikannya, sempet liat lionfish juga di sini, cuma sayang, berhubung baru pertama kali pake action-cam (sebelumnya udah pernah, tapi model berbeda) jadi belum terbiasa deh makenya. Ummm, jadi gak banyak foto-fotonya. Eh, ada banyak tapi foto-foto selfie di dalam air doang. Pemandangan bawah lautnya malah gak dapet.

The Lion Fish

Karangnya kayak habis di-bom


Sudah pernah lihat kecebong ngambang?

Dibilangin sama Mas Wilson kalau di Pulau Maratua ini bukan tempat untuk mencari terumbu karang. Kalau jenis-jenis ikan memang banyak di sini, tapi kalau mau cari terumbu karang itu di Derawan. Hmmm, biar begitu tetap kurang puas sih soalnya persiapan skill saya masih kurang. Coba kalau sebelum ke sini saya lebih banyak belajar berenang dan free-diving. Pasti bisa lebih puas main-main sama ikan dan gak cepet capek juga pas di air. Yahh, biar saya anggap ini sebagai latihan saya. Hehe.

Pas udah mulai asik ceceburan, eh ternyata matahari udah mulai lengser. Langsung deh pada belingsatan mau pindah spot yang ke arah barat. Di situ sudah mulai rame orang-orang yang mau nyanset juga. Sebenernya sungkan juga karena kami kan tidak berhak sepenuhnya di resort itu tapi karena sudah terlanjut terbawa suasana malah kebablasan gak tahu dirinya. Bukannya menyingkir di pojokan cukup motret sunset aja, ehh malah kami bertiga pada nyemplung di laut trus minta Mas Wilson motret tingkah polah kami dengan latar sunset. Duhhh, kalau ada pihak-pihak yang berhubungan  dengan kejadian waktu itu, saya benar-benar minta maaf yaa, gak akan saya ulangi lagi kok.


Satu-satunya foto yang sendirian, dan blur, nasip :(








Nah, akhirnya sampailah kita di penghujung hari. Diawali dengan mendung kelabu dan hujan deras dalam perjalanan panjang berlubang yang berliku dan naik turun. Hingga akhirnya melalui satu hari yang padat agenda. Rasanya tidak pernah ada satu hari yang terasa begitu lama sekaligus berlalu begitu cepat, kecuali hari-hari seperti ini, satu hari penuh suka cita, satu hari saat mengalami tantangan-tantangan baru, satu hari berada di tempat yang kita tidak pernah bayangkan, satu hari terbebas dari segala tuntutan dan tagihan, satu hari bersama dalam canda sahabat, dan satu hari saat dalam hatimu tanpa sadar terus menerus mengucap syukur.

Selamat sore!
Terimakasih!
Eitsss, masih ada lanjutanya dooong. Perjalanan hari ketiga nanti saya akan bercerita tentang perjalanan saya dan rombongan island-hopping di sekitaran Maratua-Derawan. Tunggu ya!