Friday, November 16, 2018

Menikmati Pantai Pribadi di Talaga Nita

Hae gaes!

Hehe, di tengah-tengah semaraknya dunia per-vlog-an ini, entah kenapa saya masih terpanggil untuk kembali di blog ini. Sepertinya menulis tetap menjadi media nostalgia terbaik pilihan saya.


Kali ini saya mau menulis tentang petualangan saya hari ini. Kenapa petualangan? Karena hari ini saya bersama beberapa kawan "nekad" untuk menuju lokasi ini dengan hanya berbekal petunjuk kompas mulut alias bertanya ke orang-orang dan sedikit informasi dari video-video di youtube yang pada akhirnya tidak terlalu membantu.

Berawal dari akhir bulan November lalu, sewaktu saya berkunjung ke Pulau Morotai. Salah satu pegawai disana bertanya kepada saya, "Mbak, sudah pernah ke Talaga Nita yang di Ternate? Bagus itu tempatnya mbak." Tentu jawabannya adalah belum pernah, karena memang saat itu pertama kalinya saya mendengar tentang Talaga Nita. Lalu seperti biasanya, dengan penuh penasaran saya kulik lagi informasi tentang Talaga Nita ini, yang pada kesimpulannya berikut:

  1. Talaga Nita terletak di Pulau Ternate, tepatnya di antara Pantai Suladamaha dan Pantai Jikomalamo.
  2. Awal mula masyarakat mulai diperbolehkan mengunjungi Talaga Nita ini ketika ada perayaan Legu Gam, dimana pada waktu itu terdapat sarana transportasi kapal motor atau speed yang disediakan untuk menuju Talaga Nita.
  3. Seiring dengan semakin banyak orang yang mengetahui keberadaan Talaga Nita ini, mulai munculah jalan setapak untuk menuju lokasi ini, Start jalan setapak dimulai dari hole Pantai Jikomalamo yang paling ujung.
  4. Karena semakin banyak orang yang menggunakan jalan setapak ini, ternyata berpengaruh pada penyewaan kapal motor dan speed, sehingga ada pihak yang berupaya melakukan penutupan jalur jalan setapak,
*Informasi di atas dihimpun dari berbagai sumber ya.

Nah, tibalah waktu saya dan kawan-kawan berangkat ke lokasi Talaga Nita ini. Jalur yang akhirnya kami tempuh adalah jalur darat melalui jalan setapak dekat hole kedua Pantai Jikomalamo. Hmm dibilang jalan setapak juga sebenernya tidak setapak juga sih. Karena ternyata kami salah jalan wkwkwk. Tapi berbekal kesotoyan saya akhirnya tetap terabas saja. Melewati semak-semak yang lumayan rimbun dan melewati bebatuan pinggir jurang kami akhirnya melihat secercah harapan karena akhirnya mulai terdengar suara orang yang bersumber dari pantai dekat Talaga Nita. Lega sekali rasanya hahaha.

Udah kayak Jejak Petualang belum, nih?

Aslinya was-was ini bener nggak sih jalurnya.


Waktu kami muncul ke area pantai, sudah ada sekumpulan anak muda yang bermain di tepi pantai di Talaga Nita. Terlihat ekspresi heran dari raut wajah mereka ketika melihat kami muncul dari jalur yang (nampaknya) tidak lazim. Hahaha mereka tidak tahu bahwa sebenernya kami khususnya saya lega banget akhirnya bisa sampai di Talaga Nita ini. :) 

Hal pertama yang kami lakukan sesampaiknya di area Talaga Nita adalah melihat-lihat area rumah (atau istana?) di ujung Talaga Nita. Rumah yang jelas sudah sangat terabaikan ini masih berdiri tegak menjadi background pemandangan di Talaga Nita.

Agak horror ya?


Usai foto-foto di area rumah, kami langusng melipir ke area pantai. Oiya, dari rumah ke pantai terdapat sebuah talaga, mungkin ini alasan kenapa namanya Talaga Nita. Nita sendiri diambil dari nama salah satu istri/permaisuri Sultan Ternate.

Telaganya


Perlu berhati-hati waktu melewati telaga ya, karena banyak dihuni binatang-binatang. Kami sih cuma lihat ada biawak ya. Barang kali ada buaya atau aligator kan tidak ada yang tahu.

Belum siap udah dijepret -_-

Selebihnya selama di Talaga Nita waktu kami habiskan untuk bermain-main, berenang dan snorkeling di pantai. Nggak ada foto-foto underwater sih, jadi dokumentasinya dikit nih, hehe.





Si hobby banget lompat ke air

Puas bermain air laut, tiba saatnya kami kembali pulang. Untuk kembali ke area Pantai Jikomalamo kami tidak ikut rute berangkat kami yang membahayakan banget itu hahaha. Kami ditawari jalan bareng seorang bapak. Kayaknya bapak ini suaminya ibu pemilih warung. Oh iya, lupa cerita di depan di Pantai Talaga Nita ini ada warungnya, jual pisang goreng, mie instan dan minuman, ya standar begitu aja.

Rute kembali kami melewati jalan setapak yang lebih properlah. Walaupun ya tetap berasa juga jalan hutannya. Tapi setidaknya lebih aman sih.

Melewati jalan setapak di belakang area rumah

Bapaknya mulai buka jalur, memangkas ranting atau tumbuhan menjalar yang menghalangi jalan




Mulai memasuki area hutan/kebun

Lalu mulai melewati area ladang yang banyak ditanami pisang

Setelah keluar area ladang mulai kelihatan deh Pantai Jikomalamo

Ini bapak penyelamat kami



Oke, sekian ya catatan perjalanan kali ini. See you next trip!


Special thanks!

Sri Juls, Herry, Fikri dan Fadil

Foto-foto dalam catatan perjalanan ini semua didokumentasikan oleh Fadil



Wednesday, March 7, 2018

Pagi di Morotai

Hai hai hai...
Setelah kemaren kita bahas cerita island-hoping di Dodola dan sekitarnya dan dimana saja saya hunting sunset selama di Morotai, kali ini saya mau berbagi tentang sunrise di Morotai.

Jadi Pulau Morotai ini kan bentuknya gak bulet sempurna ya, dia ada punya semacam "ekor" gitu. Nah di semenanjung ini lah yang kami explore pesisirnya. Karena si ekor ini  menjorok ke arah selatan jadi di sini bisa menikmati matahari terbit sekaligur matahari terbenam, tinggal pindah sisi pantai saja.


Kalau untuk hunting sunset kita pergi ke sisi sebelah barat si ekor ini, maka selama kami menyusuri sepanjang sisi timur ekor-nya Morotai. Lokasi pertama kami menunggu matahari terbit adalah suatu pantai tersembunyi yang kalau mau kesana harus masuk ke jalan yang dikelilingi semak-semak gitu. 

Saat menunggu sunrise di spot ini terasa sangat menenangkan, cuaca laut sedang teduh, hembusan ombaknya lembut, tiupan anginnya sepoi-sepoi dan saat kaki menjejak di pasirnya pun terasa hangat. Sungguh nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan. :)

aku yang jepret, candid si fadil

minta difotoin nafis

Spot selanjutnya untuk sunrise-an di Morotai adalah di Museum Trikora. Lokasinya tepat nyaris menghadap ke timur, jadi titik matahari emang agak menceng ke kiri. Tapi tidak menjadi masalah, karena golden hour disini tetap menakjubkan. Gak percaya? Monggo ini fotonya.

Dari depan Museum Trikora

Dari balik patung Museum Trikora

Sebwah Golden Hour yang Paripurna
Salah satu dari banyak kesan tentang Morotai ini adalah perbedaan cuacanya yang ekstreem antara malam dan siang. Karena kontur pulaunya yang berupa daratan tanpa pegunungan membuatnya kalau siang puanaaaass minta ampun. Lalu begitu malam sampai menjelang pagi cuacanya dingiiiinnn sekali. Jadi waktu sunrise-an ini selalu gak lupa saya bawa jaket. Hahaha maaf cupu. Padahal saat matahari sudah naik cuacanya perlahan tapi pasti mulai memanas.

Tips!
Kalau kalian mau berkunjung ke pulau dengan kontur tanpa pegunungan seperti Morotai:
  • Cuaca siang hari akan panas sekali, kalau di saya malah terasa menusuk di ubun-ubun. Kalau mau keliling pulau, selalu bawa penutup kepala, kalau pakai jilbab dirasa masih kurang bisa ditambah lapisan slayer atau topi.
  • Kalau punya kecendurang epistaksis alias suka mimisan, kalian perlu sangat berhati-hati ya.
  • Pakai jaket kalau mau keluar malam, kecuali kalau kalian emang mau tebar pesona pakai baju yang tipis-tipis silahkan, tapi resiko ditanggung sendiri.
  • Pulau seperti Morotai begini biasanya punya populasi nyamuk yang banyak dan ganas, jadi persiapkan obat nyamuk yang cocok.
  • Satu tips tambahan, karena Morotai ini mitosnya adalah pulau angker, selalu jaga sikap, jaga perkataan dan jaga pikiran kalian!
Nah, sampai disini dulu yaaahh.
Terimakasih lagi buat Fadil, Nafis dan Ricci yang telah sudi jadi guide kami selama di Morotai. You're the best!

Bye, see you next trip!

Sore di Morotai

Hai hai hai...
Ini adalah side-post dari kisah perjalanan saya selama di Pulau Morotai. Jadi selain tujuan utama saya yang nawaitu ingin sekali mengunjungi Pulau Dodola, selama lima hari di Morotai saya juga menyempatkan diri untuk mengunjungi spot-spot lain di pulau induknya. Ini pun juga tidak akan terjadi tanpa rekomendasi dan ajakan baik dari teman-teman di Kantor Morotai. Thanks tho!

Beberapa spot yang saya dan teman-teman Morotai kunjungi di Pulau Morotai hanya yang dekat-dekat saja, soalnya saya memang hanya punya waktu di sore hari, di luar jam kerja. So, here it is, beberapa spot kece rekomendasi di Pulau Morotai yang sempat kami kunjungi dan tentunya bukti foto-foto sunset yang kece badai.

Army Dock
Ada spot sunset kece banget di Morotai yang namanya Army Dock. Ini dulunya adalah tempat berlabuhnya kapal-kapal tentara jaman perang dulu. Lokasinya di sisi barat Pulau Morotai, jadi cocok banget buat hunting sunset.




Army Dock ini berupa teluk tapi ada beberapa daratan selebar 2-3 meter yang menjorok ke laut, disini kita bisa duduk-duduk santai sambil menikmati nuansa sore yang syahdu.





D'Aloha Resort
Dari Army Dock kami perpindah ke lokasi selanjutnya, yaitu di pantai sekitaran Resort D'Aloha. Resort ini merupakan satu-satunya resort mewah di Pulau Morotai. Biar begitu bagi pengunjung yang mau ke pantai tinggal masuk-masuk aja tuh. Kayak kami yang pede-pedenya nongkrong di pantainya barengan sama bule-bule lain pengunjung resort. Pffttt.

Lokasi spot ini berada di sisi barat Pulau Morotai juga jadi cocok banget buat sunset-an. Disini pantainya berpasir putih dan ombaknya sepoi-sepoi menghanyutkan gityu.



Pada saat kami kesini, suasana langit memang sedang mendung mengundang gitu. Meski gak dapet "matahari"-nya tapi selama disini kami masih beruntung dapat menikmati golden hour-nya.





Nah, itu tadi secuil cerita saya waktu sunset-hunting di Morotai. Di post selanjutnya kita bahas soal sunrise-nya Morotai yaah.
Terimakasih!
Fadil, Nafis dan Ricci yang telah sudi memanjakan saya (dan Mas Fajar & Mba Endah) berkeliling menikmati senja di Morotai sekaligus jadi tukang foto keliling dadakan untuk kami. Hehehe.

Ini nih, anak-anaknya
See you next trip!

Tuesday, March 6, 2018

Maldives! Eh. Morotai!

Hai hai hai...
Apa kabar semuanya?
Setelah setahun vacuum dari dunia perbolangan akhirnya saya kembali. Yaiyyy!
Sedih memang, setahun kemaren saya sakit jadi gak pergi kemana-mana, doakan yah temans semoga tahun ini dan seterusnya saya sehat-sehat terus dan bisa kelayapan lagi. hehe.

Alhamdulillah akhirnya bulan ini saya dapat kesempatan untuk menghirup udara kebebasan. Udara kebahagiaan. Oksigen yang sejati untuk jiwa saja.

Jadi, kebetulan saya dapat tugas ke Kabupaten Pulau Morotai. Oh, iya, sejak November 2017 lalu saya sudah dipindahtugaskan di Kantor Wilayah dooong. Akhirnya kan finally alhamdulillah yaahhh sudah terbebas dari tugas perkerjaan di level kabupaten yang mencekik jiwa dan raga itu. Hohoho. 

Hayyyy I'm Back!!!

Singkat cerita, berangkatlah saya ke Morotai. Perjalanan dari Ternate ke Morotai ditempuh sekitar 30 menit menggunakan pesawat ATR-nya Wings-Air. The one and only maskapai yang saat ini menyediakan rute Ternate-Morotai. Ini pun udah kabar baik lho, dulu cuma ada Suzy Air yang maskapainya cuma muat sedikit orang itu plus jadwal terbangnya cuma hari-hari tertentu saja.

Tarif pesawat Ternate-Morotai ini murah kok gaess. Cuma 400ribuan dan relatif flat harganya. Sama kan kayak harga tiket Air Asia Jakarta-Bali. Jadi, anggaplah Morotai ini Bali-nya di Maluku Utara gitu yah. Iyain please...

Note: Karena sebetulnya saya di Morotai selama 5 hari dengan membawa agenda terselubung lainnya, jadi yang saya sampaikan disini hanya kegiatan-kegiatan have fun-nya saja ya Sodara-Sodara. Untuk estimasi waktu itenerary bisa disesuaikan.

Selasa, 20 Februari 2018 
Pukul 12.45 WIT
Start dari Ternate
Pesawat ke Morotai dari Ternate terbang setiap hari pukul 11.55 atau lebih molor, seperti yang saya alami, saya baru benar-benar naik ke pesawat sekitar jam 12.45. Sangat Indonesia. *applause*

Ngelewatin daratan Jailolo

Ini kayaknya sekitaran Kecamatan Sahu - Halmahera Barat
Lalu kira-kira setengah jam kemudian, saya terbangun (yess biar cuma terbang setengah jam saya teteup bisa bobo cantik di pesawat, hahaha) di atas pemandangan seperti ini.
Hah! Bukannya saya terbang mau ke Morotai, kenapa malah ke Maldives? 

Maldives!
Pukul 13.31 WIT - Tiba di Morotai
Pesawat landing di Bandara Pitu di Morotai. Lucu yah namanya, pitu, gak tahu deh yang siji sampe enem ada dimana. #krikrikrik

Bandara Pitu masih dalam proses perluasan, jadi waktu saya tiba disana kondisinya masih memprihatinkan banget. Ruang kedatangannya hanya ruangan seluas empat kali lima meter (perkiraan saya aja sih ini, pokoknya suempiiit pol) yang digunakan untuk kedatangan penumpang sekaligus untuk pengambilan bagasi. Saking sempitnya waktu mau ambil bagasi, sampe nyaris saya bikin bule jatuh nabrak banner di ruangan itu gara-gara bersenggolan. Sekali lagi saya tekankan, bule kesenggol karena ruangan yang sempit ya, bukan karena saya yang kelebaran. -_-


Note lagi:
Highlight destinasi wisata di Morotai ada di Pulau Dodola dan sekitarannya. Meskipun sebetulnya ada juga spot wisata di pulau induknya. Tapi untuk postingan ini saya fokus akan bahas soal Pulau Dodola dan sekiratannya.

Perjalanan saya menuju saya lakukan waktu pagi hari. Jadi kalau dari pembaca budiman sekalian mau bikin itinerary ke morotai, waktu siang-sore bisa diisi dengan jalan-jalan sight-seeing di pulau induk morotai.

Landmark Pulau Morotai

Sabtu, 24 Februari 2018 - Pagi (9.00 WIT)
Jam 8 pagi saya sudah siap meluncur. Tapi apa mau dikata ternyata ada miskomunikasi di pesanan kapan speed yang kami pesan. Alhasil, kami harus nego-nego lagi cari carteran speed lainnya.

Oh iya, kami itu saya dan rombongan yah. Karena saya melakukan perjalanan ke Dodola dan sekitarnya ini barengan sama 4 orang lainnya. Kelemahan island-hoping di Morotai ini ya gini, mahal di transportasinya. Gak cuma di Morotai ding, hampir semua di Maluku Utara. Belum ada transportasi laut reguler untuk tujuan wisata ke pulau-pulau sekitaran Dodola, makanya mau gak mau pengunjung harus carter speed. Udah gitu, speed di Pelabuhan Daruba (nama pelabuhan speed di Morotai) rata-rata burukuran besar. Otomatis membuat biaya sewa speed-nya jadi mahal kan. Bagus kalau yang ikut speed banyak jadi bisa rame-rame patungan. Nah kalau cuma segelintir manusia nekat begini ya emang jadinya tekor banyak sih.

Pelabuhan Daruba
Pulau Pasir

Dari Pelabuhan Daruba tujuan pertama kami adalah Pulau Pasir. Hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit saja untuk sampai di pulau kecil ini. Pulau Pasir ini merupakan segundukan pasir berbentuk oval dengan diameter mungkin sekitar 12-14 meter. Bener-bener cuma gundukan pasir gitu gaess. Trus ombaknya jadi random gitu, unik banget pokoknya. Cuma karena gak ada tempat berteduh kalau kelamaan di pulau ini bakalan mimisan deh. Soalnya puanaaasss poooolll.






Pulau Dodola
Kami di Pulau Pasir gak lama, mungkin cuma 15 menit. Soalnya saya udah gak tahan sama panasnya. Menyengat di ubun-ubun.

Setelah dari Pulau Pasir kami berpindah ke tujuan lainnya, tidak lain lagi, yaitu Pulau Dodola. Highlight wisatanya Morotai. Dari Pulau Pasir ke Pulau Dodola memakan waktu sekitar 10 menit saja. Selama perjalanan di speed boat kita bisa menikmati pemandangan lautan morotai yang subhanallah tjakep bingit pokoknya.

Gak kerasa kami tiba di Pulau Dodola. Dari arah kami datang, speed boat melaju dari Pulau Dodola Kecil ke Pulau Dodola Besar. Saat laut surut, seperti ketika kami kesini, kita bisa melihat pasir timbul yang menghubungkan antara Pulau Dodola Kecil ke Pulau Dodola Besar.

Pasir timbul di Dodola

Pasir timbul di Dodola dan pengunjung alay
Gradasi lautan Morotai


Apa saja yang bisa dilakukan di Pulau Dodola ini? Banyak.

  1. Berenang di pantai
  2. Snorkling, alatnya sewa dari Pulau induk ya.
  3. Kayaking, yup disini disewakan kayak bagi yang berminat.
  4. Duduk-duduk menikmati pantai yang indah aduhai syalalala.
  5. Makan bagi yang kelaparan, tapi bawa makanan sendiri yaah soalnya gak ada yang jualan di Pulau Dodola.
  6. Minum kelapa muda langsung dari pohonnya, eh yang baru dipetik dari pohon maksudnya. Tapi klo ini mesti cari penjaga di Pulau ini yah, trus bayar. Jangan asal ambil sendiri, itu namanya mencuri.
  7. Mancing. Pastilah kalau yang ini. Bagi yang hobi mancing pasti bakalan suka mancing disini, soalnya di lautan Morotai ini kaya akan ikan, terutama variasi ikan dasar, ikan yang hidup di dasar laut di sekitaran karang-karang, makanya disebutnya ikan dasar. 
  8. Bermalam. Yup, di Pulau Dodola ini tersedia beberapa rumah/cottage unyu-unyu gitu. Tapi saya gak yakin fasilitasnya lengkap dan memadai. Kalau kata teman saya yang pernah mengantar tamu dari Jakarta, yang ingin menginap di cottage di Pulau Dodola, mereka harus menghubungi pengelola cottage dulu sebelum berangkat ke Pulau Dodola. Lalu kesulitan selanjutnya adalah soal makanan. Karena disini tidak disediakan makanan. Jadi teman saya ini harus balik lagi ke Pulau induk, untuk beli makanan. Ribet banget. 
  9. Camping. Situasi ini mungkin lebih cocok buat yang suka tantangan survival yaah. Bisa mancing ikan lalu dibakar & makan rame-rame, lalu tidur malamnya camping pakai tenda dibawah sinar bulan dan bintang-bintang. Sungguh syahdu sekali.
  10. Sight Seeing saja. Kalau ini pilihan yang saya lakukan selama di Pulau Dodola. Karena kalau mau snorkling saya pikir nanti saja di destinasi selanjutnya. Jadi selama disini saya cuma berjalan dari Dodola Besar ke Dodola Kecil. Jalan disini harus banget lepas alas kaki, soalnya rugi banget kalau gak merasakan lembutnya pasir di Dodola. Yess, lembuuuuut banget. Kayak tepung saking halusnya.


Look at that sands!

Kapa Kapa!!!
Dari Pulau Dodola kami lanjut ke Kapa Kapa. Hanya membutuhkan waktu sekitar 5 menit (kayaknya, pokoknya cepet). Di sini adalah spot snorkling dan diving. Jadi ada area yang dangkal tapi banyak terumbu karang warna-warninya dan ada juga area yang lebih dalam yang jadi spot diving. Di sini yang katanya ada kapal perang karam di dasar lautnya.

Soooo, tanpa banyak babibu, begitu tiba di spot snorkling, saya langsung bersiap pakai google dan snorkle. Begitu mesin speed boat mati, saya langsung nyebuuuurrr. Begitu beres pasang fin dan dapat petunjuk guide kami, tentang spot-spot dimana saja yang bagus langsunglah saya meluncur ke arah yang ditunjuk.




Di Kapa Kapa ini kami paling banyak menghabiskan waktu. Mungkin sampai 2 jam kami ngambang-ngambang ngalor ngidul di sekitaran Kapa Kapa ini. Kalau bukan karena lapar dan kepala mulai berkunang-kunang mungkin saya masih mau lanjut, karena snorkling disini tuh juaraaaak banget. Airnya tenang, gak berarus, lalu cuaca yang cerah juga sangat mendukung jarak pandang di dalam air, belum lagi karang-karang dan ikan di sini yang warna-warni cantik aduhai banget.

Tapi maaf, saya menyesal gak bawa action-cam, jadi gak ada dokumentasi bawah laut di Kapa Kapa ini. Doakan yaah semoga ada kesempatan lain lagi untuk mengunjungi Kapa Kapa ini lagi. Seriously, if i have the chance to visit Morotai again, i won't miss Kapa Kapa, and you should too!





Kalau kamu gak pinter-pinter amat berenang, atau bahkan belum pernah berenang sama sekali, jangan kuatir di Kapa Kapa ini yang kamu butuhkan cuma pelampung. As long as kamu ngambang-ngambang kamu gak akan kemana-mana karena selama saya snorkling disini beneran gak ada arus. Rasanya kayak lagi di suatu kolam raksasa yang punya pemandangan bawah laut surgawi yang menakjubkan.


Zum Zum Mc Arthur Island
Setelah puas maen air di Kapa Kapa, kami lanjut ke Pulau Zum Zum. Memakan waktu sekitar 5-10 menit dari Kapa Kapa ke Zum Zum. Aslinya masih gak paham kenapa pulau ini jadi salah satu tujuan wisata, karena waktu tiba disana agak zonk gitu. Ada dermaga yang sudah rusak dan terabaikan, meski ya tetap ada dermaganya yang masih bagus. Cuma disayangkan saja, kenapa gak dimusnahkan saja dermaga lamanya, biar lebih estetik, jangan menunggu dermaga rusak dimakan jaman lalu luruh di lautan, itu kan namanya nyampah. Upss, sorry jadi ngomel-ngomel.

Setelah melewati dermaga, akan ada gerbang masuk pulau, yang makin bikin zonk lagi. Pintu gerbangnya jadi kayak gubuk derita gitu. Ada kain-kain buluk menggantung gitu, ada semacam dapur darurat lengkap dengan peralatan masak yang sedikit berdebu. Semacam ada seseorang yang tinggal disini dengan kondisi serba terbatas begini.

Dermaga Pulau Zum Zum
Lanjut melangkah lebih dalam lagi di Pulau Zum Zum, kita akan disuguhi jalan setapak yang di kelilingi taman dengan tanaman-tanaman bunga ala kadarnya dan beberapa gazebo yang tak terurus. Lalu agak ke dalam tapi masih di tepi pulau ada monumen Mc Arthur, which is gue gak tahu dia siapa. I'm sorry :|

Tapi karena Pak Fakir maksa-maksa buat foto di patung monumennya dan saya gak enak buat nolak, jadilah saya foto di depan patung, padahal aslinya gak minat sama sekali. Baru pas udah balik baru saya sadar kalau dari semua foto yang dijepretin sama blio gak ada yang gak kepotong patungnya, bahkan tambah lagi di semua foto sepertiga frame adalah tangannya si bapak. Ha-ha-ha.

Maaf ya Om Arthur, cuma keliatan kakinya doang :'(

Nah, di sisi lain pulau Zum Zum ada semacam "Hollywood-sign" nya pulau ini. Tulisannya begini:


Selain mengagumi "keunikan" pulau Zum Zum ini, kalau kesini jangan lewatkan buat main airnya ya. Soalnya sama kayaknya pantai-pantai di sekitaran Morotai-Dodola ini, di Zum Zum ini juga airnya jernih, pasirnya putih, lalu agak menjorok ke laut banyak terumbu karang dan ikan-ikan juga.

Cuma perlu hati-hati ya kalau lagi main-main di pantainya, soalnya ada bangkai besi sisa-sia kapal perang, kayak yang saya jumpai ini:

Yang item-item itu bangkai besi kapal perang
Di Zum Zum kami manfaatkan waktu untuk makan siang bekal yang kami beli di pulau induk. Catat yaahh kalau mau island-hoping di Morotai ini, wajib bawa bekal dan jangan harap ada yang jual pop mie disini.

Zum Zum adalah destinasi terakhir island-hoping kami ini. Setelah kenyang dan puas bermain kami langsung cuss kembali ke pulau induk.


See you again Dodola ^^
Last but not least, terimakasih banyak!

  1. Gusti Allah Yang Maha Kuasa, yang telah menciptakan keindahan surgawi di bumi Morotai;
  2. Ibu dan Bapak yang saya lupa gak pamit kali ini, but I know they're always pray for my best;
  3. Bos saya, yang telah mengutus saya untuk bertugas ke Morotai, jadi hemat di ongkos transpot hahaha;
  4. Rekan-rekan kantor di Morotai, atas keramah-tamahan dan segala macam bantuan yang luar biasa;
  5. Mas Fajar dan Mbak Endah, yang sudah berkenan mengijinkan saya jadi obat nyamuk di honey-honey-nya, hahaha. 
  6. Pak Fakir, guide kami dengan cerita pengalamannya luar biasa;

Sekali lagi terimaksih untuk semua yang sudah membantu saya selama perjalanan ini, perjalanan menyenangkan ini tidak akan berkesan tanpa kebaikan kalian.

Oh, iya. Terimakasih para fotografer dadakan yang telah sudi jepret saya: Pak Fakir dan Ricci, tanpa kalian jelas tidak akan lengkap postingan ini tanpa penampakan wujud saya. wkwkwk.


See you next trip!