Showing posts with label Kapal. Show all posts
Showing posts with label Kapal. Show all posts

Wednesday, September 14, 2016

Weekend at Ora - Part 1 "Perjalanan Menuju Hidden Paradise"

Mungkin ada di antara kalian yang mengikuti update feed di sosmed saya. Beberapa hari ini saya share satu pantai yang kece banget. Kalau yang sering baca-baca tentang tempat wisata di Indonesia mungkin sudah familiar tapi ada juga yang masih bertanya ke saya, "Non, kok bagus, itu dimana?" Kalau ada yang begini kadang saya merasa sedih. 

Ora dari kejauhan

Tempat yang saya share padahal masih di Indonesia, tapi ada saja yang tidak tahu itu dimana, tambah lagi dengan makin kencengnya newsfeed di media sosial, khususnya di facebook yang sering dan banyak sekali orang yang share tentang tempat-tempat wisata di Indonesia, tapi kok ya masih ada saja yang tidak tahu. Yah, tapi gakpapa juga sih gak tahu, mungkin bagi orang-orang ini pekarangan depan rumahnya adalah tempat terindah di Indonesia versi mereka. Mungkin saja kalau saya bukan makhluk nomaden yang punya tempat tinggal permanen pekarangan rumah saya juga akan menjadi taman terindah bagi saya.

Yaa, udahlah yaaww...

So, weekend kemaren saya pergi minggat lagi dari Jailolo, dong! Gila kan gue. Hahaha. Belum juga genep sebulan dari trip nekat ke Berau pertengahan Agustus lalu, saya sudah planning trip ke Maluku. Asal mulanya sama, dari ajakan sahabat saya yang penempatan di Maluku, "Weekend 10-11 September aku mau ke Ora, lagi."

"Buset, lagi?" Baru juga April lalu dia ke Ora, ini mau ke sana lagi. Tanpa pikir panjang, cuma ngecek kalender yang ternyata pas banget ada libur Idul Adha, "Oke, aku ikut!" Beberapa hari kemudian pun langsung saya beli tiket pesawatnya, takut jadi makin mahal yang ternyata sampai seminggu sebelumnya pun harganya masih sama aja, malah sempet turun dikit. Hmmm, mungkin memang rute Ternate-Ambon harga tiket pesawatnya tidak terlalu fluktuatif, kecuali 2-3 hari sebelumnya.

Pertama Kali ke Ambon

Ini adalah pengalaman pertama saya pergi ke Ambon, ibukota provinsi Maluku. Tolong dicamkan ya, Maluku dan Maluku Utara itu berbeda provinsi. Bagi anak-anak generasi 90-an yang dulu belajar geografinya masih diajarin 27 provinsi mungkin agak kudet soal pemekaran provinsi ini. Saya, sih maklum aja.

Jadi, akhirnya saya pergi ke provinsi yang sering dikira adalah tempat kerja saya: Maluku. Mungkin bagi orang Jawa atau lainnya yang non-timur, akan beranggapan Maluku dan Maluku Utara atau bahkan Papua itu sama saja. For Your Information, ini sama kayak orang-orang timur sini menganggap Sunda, Jawa (tengah), Jawa (timur) dan Madura itu adalah sama, yaitu JAWA. Padahal bagi mereka yang tahu kondisinya jelas sangat berbeda. 

Satu perbedaan yang paling mencolok antara Maluku dan Maluku Utara bisa dirasakan dari logat dan bahasanya. Salah satu contohnya, kalau di Maluku Utata (kecuali Kepulauan Sula) pakainya "tarada" sementara di Maluku (dan Kepulauan Sula) pakainya "seng." 

Masih banyak lagi sebetulnya perbedaaan bahasa antara Maluku dan Maluku Utara, jadi meskipun saya sudah "lumayan" bisa bahasa Melayu Ternate pun jadi blank juga sewaktu di Ambon. Palingan kosakata Ambon yang saya kuasai itu dari modal sering dengerin lagu-lagu Mita Talahatu, diva Ambon yang heittss abis di seantero Maluku Utara itu, yang lagunya hampir selalu jadi playlist  angkot, bentor dan kapal-kapal di jalanan dan lautan Maluku Utara. Hanya saja, entah kenapa selama saya di Ambon malah gak pernah nemu lagu-lagu Mita Talahatu. 

Kesan pertama di Ambon: luas. Yup, Kota Ambon ini luas banget. Hampir seluruh pesisir Teluk Ambon sudah terurbanisasi. Mencari transportasi umum di Ambon pun mudah, karena sudah ada banyak angkot dengan trayek. Keluar dari bandara saya langsung menemukan angkot merah. Setelah memastikan memang benar si angkot lewat Passo, baru saya naik. Perjalanan dari bandara ke Passo memakan waktu sekitar 20 menit, sudah termasuk waktu ngetem nunggu penumpang di beberapa perempatan.

Di Passo, saya turun di kantor instansi tempat saya bekerja tapi yang cabang Maluku, tempat meet up dengan salah satu teman saya yang akhirnya jadi meet up sama semua teman-teman saya yang kerja di sana, sih. Hehehe. Jadi, nantinya selama di Ambon ini, saya akan menumpang tinggal di mess teman-teman saya ini. Saya merasa beruntung sekali, teman-teman di mess Ambon ini ramah dan baik sekali (uhuk), selama di Ambon saya diajakin jalan terus dong, hari pertama di Ambon saya diajakin nonton Warkop DKI Reborn lalu di hari terakhir setelah sholat Idul Adha diajakin ke taman monumen Christina Martha Tiahahu, tempat dimana bisa melihat pemandangan kota Ambon dari ketinggian.


Road Trip Ambon-Seram

Sebelumnya saya jelaskan dulu tujuan perjalanan saya kali ini. Pantai Ora, ada di kabupaten Maluku Tengah. Letaknya ada di sisi utara-tengah dari Pulau Seram. Sedangkan posisi start ada di Kota Ambon (Pulau Ambon), jadi untuk menuju ke Ora kita perlu melakukan perjalan darat dan laut. Penyeberangan dari Pulau Ambon ke Pulau Seram bisa dilalui dengan kapal cepat atau kapal ferry. Sedang perjalanan daratnya bisa dengan segala macam kendaraan darat, normalnya ya kalau gak motor ya mobil. Katanya sih belum ada yang eprnah pake forklift, mungkin Anda beminat mencobanya?

Total makan waktu 6 jam (kecepatan manusia normal yang masih mau hidup )


Secara saya ini kan backpacker gembel kan ya, jadi perjalanan menuju Ora ini pun pakai budget constraint. Untuk perjalanan darat kami pakai motor lalu menyeberang dengan kapal ferry.

Note. Jadwal kapal ferry di Maluku ini sangat tepat waktu, jadi sangat perlu memperhatikan waktu ketika berkendara selama perjalanan darat, jangan sampai jadwal berantakan gara-gara ketinggalan kapal ferry yang baru ada lagi setiap dua jam.

Rencana awal perjalanan kami ke Ora ini adalah bertiga, saya, Mima dan Fajra, tapi ternyata di hari-H Fajra-nya malah sakit. Tinggalah kami, dua ilalang dengan keinginan kuat untuk mengintip hidden paradise di Pulau Seram itu.

Start perjalanan kami dari Kota Ambon sekitar jam 6 pagi (atau setengah 7 pagi ya, saya agak lupa). Tantangan perjalanan sudah langsung menghadang kami: hujan mengguyur bahkan sejak 5 menit awal. Mental breakdown pasti. Naik motor di jalanan yang belum familiar dan dalam kondisi kehujanan rasa capeknya jadi dua kali lipat.

Sejam pertama road trip kami rasanya lamaaaaa sekali. Saya yang jadi driver pertama hanya berusaha fokus ke jalan. Rute Kota Ambon ke Pelabuhan Ferry sebetulnya cukup mudah, aspalnya sangat bagus, meski ada beberapa kali tanjakan dan turunan tapi masih didominasi jalanan rata.

Sampai di Pelabuhan Ferry, beli tiket untuk 2 penumpang dan 1 motor lalu antri di pintu masuk kendaraan. Beruntungnya lagi, kami jadi penumpang terakhir yang diperbolehkan ikut ferry jam 8 pagi itu.

Pantai di pelabuhan aja ijo bening begini

Suasana di dalam kapal ferry
Ini adalah pertama kalinya bagi saya naik kapal ferry dengan membawa kendaraan. Kalau cuma bawa diri sih sudah pernah. Ternyata sedikit menegangkan juga, soalnya was-was kalau gak dapat jatah muatan untuk kendaraan. Bisa gawat kalau sampai harus nunggu ferry 2 jam lagi, bisa-bisa sampai Ora sudah malam.

Motor sudah diparkir, tinggal cari bangku buat tidur duduk selama perjalanan di ferry.  

Lagi acting tidur wkwk

Antri mau keluar ferry

Setelah satu jam perjalanan, kapal ferry sampai juga di Pelabuhan Waipirit (awas jangan kepleset bacanya), pelabuhan ferry yang ada di Kabupaten SBB, singkatan dari Sori Baru Balas, eh Seram Bagian Barat. Di sini kami cari makan dulu, secara memang belum sarapan. Cari menu makan yang aman dan gampang, di salah satu tempat makan di pelabuhan kami pesan nasi goreng, masing-masing dua porsi, satu untuk sarapan satu lagi untuk makan siang sesampainya di Ora nanti (yang ternyata rencana meleset, jadinya malah buat makan sore).

Selain membawa bekal nasi goreng, kami juga beli pop mie dan beberapa potong roti manis dan roti pia. Kenapa? Karena ongkos makan di Ora itu sangat mahal sodara-sodara. Jadi, backpacker gembel ini perlu bawa bekal sebanyak-banyaknya (yang akhirnya malah banyak yang gak kemakan juga karena kenyang keindahan Ora males makan).

Seriusan, kami berdua betul-betul buta jalur Trans-Seram. Satu-satunya petunjuk jalan buat kami hanyalah ancer-ancer yang diberi tahu oleh temannya Fajra yang memang penempatan di Kabupaten Maluku Tengah (kalo gak salah) jadi sudah tahu betul jalur menuju Ora. Meski begitu setelah dilalui ternyata memang tidak terlalu sulit untuk menemukan Desa Saleman (tempat penyeberangan menuju Ora) karena memang jalur Trans-Seram ya hanya satu itu-itu saja, tinggal ikuti jalan aspalnya saja. Jumlah pertigaan yang harus belok pun bisa dihitung cuma tiga kali saja. Selebihnya ya belokan karena jalan tikungan.

Jadi bagaimana road trip Waipirit - Saleman? Akan saya gambarkan dengan dua pembagian. Pertama jalur Waipirit - TNS dan kedua adalah jalur TNS - Saleman. Jalur pertama didominasi jalanan yang rata dan berbelok-belok, sedangkan jalur kedua, jalannya naik-turun, berbelok-belok dan kanan-kirinya tebing dan jurang. Kalau menurut Fajra yang sudah pernah road-trip dengan rute yang sama, Waipirit - Saleman hanya memakan waktu 4 jam, tapi ternyata bagi saya dan Mima, butuh waktu 6 jam. Yup, kalau di Jawa, berangkat dari Jogja udah sampe Surabaya kan tuh. Jadi kalau ditotal seluruh perjalanan kami ini jadi 8 jam. Banyak yang kaget dan heran kok kami lama banget. Saya kira ya gak lambat-lambat amat kok kecepatan rata-rata kami di jalanan. Ini karena selama perjalanan kami diguyur hujan terus menerus. Jadi, maaf-maaf saja kalau kami gak bisa ngebut di tengah kondisi jalanan yang basah dan kurang maksimalnya penglihatan karena hujan, kami kan masih ingin hidup, menikah dan hidup happily ever after. *eh


Oh, iya di desa sebeluh Negeri Elkaputih, kami juga sempet kebanan. Ban bocor ngelindes paku. Untungnya gak jauh dari TKP bocor bengkel tambal ban, cuma orangnya lagi gak bisa nambal ban, bisanya ganti ban dalam. Yaudahlah ya, yang penting bisa jalan lagi.

Sambil nunggu ganti ban, ngelurusin pingang dulu
Seperti sensasi perjalanan lainnya, berangkat itu terasa lebih lama daripada pas pulangnya. Rasa lelah dan frustasi karena gak sampe-sampe jelas ada. Belum lagi di jalur kedua, TNS - Saleman harus melewati perbukitan yang tinggi. Sudah kehujanan masih ditambah serangan suhu dingin pegunungan. Sampai menggigil, lho saya. Perjalanan menuju Ora ini benar-benar perjuangan lahir dan batin, deh.

Penampakan rider abal-abal
Akhirnya, setelah melewati perjalanan puanjaanggg, kami benar-benar sampai di Desa Saleman sekitar jam 4 sore, dengan kondisi lelah, mengantuk dan kedinginan. Tapi begitu melihat pemandangan dari pelabuhan kecil di desa ini rasanya semua capek hilang.

Enggak ding, enak banget klo bisa gitu. Masih capek sih, tapi begitu lihat pemandangan tebing karst yang gak lazim berdampingan dengan lautan biru-kehijauan yang bening banget itu rasanya breath-taking banget.


Breath-taking scenery di Pelabuhan Saleman




Di pelabuhan sudah ada banyak motoris yang menunggu giliran untuk mengantar ke Ora. Setelah deal harga dan paket yang kami mau, si motoris memarkirkan motor kami (sepertinya) di rumahnya. Sedangkan kami menunggu dia siap-siap sambil pesan teh panas.

Ngilangin mengalihkan capek dengan foto-foto

Akhirnya aku menemukan kehangatan pada segelas teh panas

yang jaket merah jangan sampe lolos :p
Setelah kapal siap, kami diantar Pak Munir, nama motoris yang kami sewa, menuju resort (jika berminat ke Ora dan butuh pesan motoris silahkan hubungi saja, saya ada nomer hapenya). Yang ini memang melanggar prinsip low budget kami, bukannya cari homestay  di Desa Saleman, kami malah berencana menginap satu malam di resort, maksudnya sih bisa bisa langsung nyebur kalau mau snorkling di depan resort Ora. Walaupun kenyataannya pas sampai resort masih juga hujan. Tapi ya udah lah yaaw. Masih lumayan kok bisa menikmati malam di Ora Beach Eco Resort.


Di sini, kami menginap di kamar darat, yang harganya lebih murah (teteup). Hehehe.




Begitu sudah check-in dan dapat kamar, akhirnya saya bisa unpacking barang bawaan saya. Selama perjalanan saya sudah kuatir kalau-kalau tas saya kerembesan air hujan, soalnya baju-baju saya gak di-double plastik. Tas juga cuma mengandalkan rain cover. Daaaan, ternyata kekuatiran saya benar terjadi. Baju-baju saya basah semua. Untungnya isi yang di bagian atas gak basah, properti kamera dan sarung gak ikut kerembesan air hujan.

Barangkali cuma saya satu-satunya pengujung di Ora yang begini -_-

Penampakan rumah darat tanpa siluman sarung ungu

Jam sunset di Ora masih saja diselimuti mendung dan guyuran gerimis. Tapi seriusan, Ora itu indah mau adanya apa (bukan apa adanya lagi), kondisi hujan gerimis pun, Ora tetap memukau. Air lautnya tetap jernih, bening, dan bergradasi hijau ke biru yang cakep banget. Gak kebayang, deh cakepnya kayak apa Ora kalau pas cuaca panas.


Ora waktu gerimis
Jalan-jalan sore di area rumah laut

ORA sah nggaya, Non!

Area rumah laut

 Nah, segini dulu catper untuk hari pertama perjalanan ke Ora. Masih ada satu hari perjalanan lagi. dilanjut besok yah. Stay tune yah manteman.. :p

Thursday, September 8, 2016

Trip Nekat Berau: Labuan Cermin - Biduk-Biduk (Day 4-5) Part 1

Hari Ke-4, Perjalanan Panjang Tanjung Redep - Biduk Biduk

Hari keempat di Berau menurut rencana, kami akan melanjutkan perjalanan ke Labuan Cermin, di Kecamatan Biduk-Biduk. Kecamatan ini ada di bagian ujung bagian selatan dari Kabupaten Berau. Untuk menuju kesana dari Tanjung Redep satu-satunya cara adalah dengan transportasi darat. Meski begitu ada juga sih, yang ngetrip ke Derawan sekalian sewa kapal minta antar ke Labuan Cermin via jalur laut, tapi sepertinya akan berat di ongkos kalau bagi kami.

Secara trip ini low budget malah tadinya kami berencana untuk naik motor sampai ke Biduk-Biduk. Selain karena pertimbangan biaya juga alasan kesehatan, takutnya kalau naik mobil dengan kondisi jalan perbukitan bakalan hoek-hoek mabok. Tapi, setelah mengalami perjalanan panjang selama duah hari di perairan Maratua-Derawan ditambah road trip Tanjung Batu-Tanjung Redep pulang pergi yang hampir bikin pinggang copot, saya ngotot untuk naik mobil travel saja. Lumayan bisa nambah jam istirahat tidur selama perjalanan. Kalau kuatir soal mabok, kan tinggal telan antimo ini.

Jadi, hari Senin, 15 Agustus 2016 sekitar jam 12 siang, kami dijemput mobil travel di dekat kost-an teman kami, dimana kami menumpang selama di Tanjung Redep. Selayaknya kodrat sebagai mobil travel, setelah menjemput kami mobil masih muter-muter mencari calon penumpang yang sudah pesan. Aslinya, travel ini bilang akan berangkat dari Tanjung Redep sekitar jam 10-11 an, nyatanya baru benar-benar out dari Tanjung Redep baru sekitar jam 1 siang. 

Perjalanan panjang Tanjung Redep - Biduk Biduk normalnya ditempuh selama 6 jam, atau paling cepat bisa 5 sampai 5,5 jam. Mobil hanya satu kali berhenti, yaitu  di rumah makan Donald, di daerah Mangkajang (kalau gak salah). Ini adalah tempat biasa mobil-mobil travel berhenti untuk rehat. Di sini bisa beli makanan yang mahal di rumah makan atau bisa juga makan bakso di sebelahnya saja yang murah meriah dan bikin nyaman di perut. Oiya, di sini juga disediakan toilet umum dan musholla kecil untuk sholat.

Tips. Bagi Anda yang beseran, ketika melakukan perjalanan panjang di wilayah yang didominasi dengan hutan dan lading seperti di Berau ini, sebaiknya jangan terlalu banyak minum air. Minum secukupnya saja untuk mengurangi rasa ingin kencing. Soalnya bias repot sendiri kalau tiba-tiba pas sedang dalam perjalanan eh mendadak pengen pipis. Mau berhenti di pinggir jalan terus kencing di semak-semak?

Pemandangan selama di perjalanan masih dihiasi perbukitan khas Kalimantan. Tapi untuk rute menuju Biduk-Biduk ini saya lebih sering melihat areal perkebunan kelapa sawit. Sayangnya saya gak sempat ambil gambar, karena posisi duduk saya di kursi tengah, jadi sungkan kalau mau motret-motret.

Katanya mau singkat cerita, ini kok udah panjang aja. -.-“



Sampai di Biduk-Biduk, sudah menjelang Maghrib. Kami buru-buru menuju penginapan yang direkomendasikan oleh KSK Kecamatan Biduk-Biduk, namanya Penginapan “Tepi Pantai”, literally lokasinya memang di tepi pantai, sih. Kalau mau lebih presisi (tepi pantai kan panjang) penginapan ini berada tepat di depan kantor Kecamatan Biduk-Biduk.

Setelah menghubungi pengurus penginapan, dapat kamar, taruh tas di kamar masing-masing. Kami langsung pergi ke rumah Bapak Bendahara Kecamatan Biduk-Biduk, yang kami kenal selama perjalanan dalam satu mobil travel, yang kebetulan ternyata beliau ini adalah mitra kerja di kantor kami juga, kayak Mas Wilson yang di Pulau Maratua. Pak Bendahara (maaf saya lupa namanya) dengan baik hatinya menawarkan pinjaman motornya pada kami. Alhamdulillah ya, rejeki anak statistik. Eh? Upss :p

  






Karena letak pesisir Biduk-Biduk ini menghadap ke arah timur, sesi kejar sunset pun tidak berbuah terlalu manis. Kami hanya ke dermaga terdekat, jepret semburat senja yang ada. Lalu lanjut cari tempat makan. Berburu tempat makan di Biduk-Biduk ini pun jadi satu tantangan tersendiri. Kami menyusuri jalan sampai frustasi, gak nemu tempat makan yang keliatan meyakinkan. Baru kira-kira sekitar 20 menit (mungkin) perjalanan naik motor pelan-pelan akhirnya kami menemukan rumah makan "Surabaya." Yup, Anda tidak salah baca, rumah makan ini pengelolanya semua orang Jawa. Ya beginilah  dinamika kehidupan, setelah hampir 3 taun bekerja di luar Jawa, sudah bukan hal mengherankan lagi bagi saya kalau tahu-tahu ketemu orang Jawa di suatu pelosok entah berantah seperti ini.

Rumah makan "Surabaya" ini menurut saya rekomended, pilihan menunya cukup banyak. Cuma kalau mau aman ya pesen menu yang gak aneh-aneh saja. Ikan bakar bisa jadi pilihan bijak. Ohya, bahkan di rumah makan ini jualan martabak dan batagor, lho. 


Setelah kekenyangan makan ikan bakar, yang untungnya kami gak jadi pesen batagor, kalau gak alamat malah gak kemakan tuh, saking udah kenyang makan ikan bakarnya. Karena ternyata porsinya gak tipu-tipu. Mantap, Gan! Makan sudah, tinggal tidur, deh. :p


Hari Kelima, Dari Tanjung Sulaiman ke Labuan Cermin

Keesokan harinya, kami sepakat untuk bangun awal untuk kejar sunrise. Sesuai dengan harapan dan perkiraan, pagi di Biduk-Biduk waktu itu benar-benar menakjubkan. Sore sebelumya waktu kami jalan gak jelas nyari tempat makan, sekalian kami survei lokasi spot-spot yang sekiranya bakalan kece banget buat hunting sunrise, dan perkiraan kami ternyata tepat. Begitu paginya kami datang ke spot yang sudah kami "tag" itu, ah lihat sendiri aja deh hasil hunting sunrise-nya, nih..







Ini adalah pertama kalinya bagi saya dalam sejarah pencarian matahari, bisa melihat matahari terbit bulet sempurna. Indah banget. Kalau di foto gak keliatan buletnya itu kamera kekurangan dari kamera saya saja, tapi aslinya kalau dilihat pake mata kepala bener-bener bulet. Cakep banget pokokya. Perfect sunrise, laut yang tenang, pantai, pasir putih, dengan aksen pohon bakau tunggal di kejauhan, cuma satu yang kurang. Taulah kalian apa. Wkwkwk.



Moment sunrise di sepanjang jalan pesisir desa di Biduk Biduk ini pun sayang untuk dilewatkan, lho. 





Bersambung ke Part-2, yaaah...

Monday, August 29, 2016

Trip Nekat Berau: Tanjung Redep (Day 1)

Melanjutkan dari kisah perjalanan saya menuju Pulau Derawan. Setelah sehari sebelumnya saya transit dulu di Makassar, Jumat 12 Agustus 2016 pagi akhirnya saya menuju ke tujuan perjalanan panjang saya yang sebenarnya, yaitu ke Berau. Berau ini nama kabupaten dimana Pulau Derawan berada.

Untuk menuju ke Berau dari Makassar pun harus dilalui dengan transit dulu di Balikpapan. Ikut flight pagi (puku 9.10 WITA) dari Bandara Sultan Hassanudin Makassar (di Maros - begini biasaya awak kabin menyebutnya), pesawat delay sekitar 20 menit, untung saja saya pakai connect-flight, kalau gak bisa hancur lebur sudah ini perjalanan. Sampai di Bandara Sepinggan jam saya tinggal punya waktu sekitar 15 menit untung pindah pesawat, belum lagi harus memenuhi panggilan alam dulu, tambah pula gate boardingnya di gate-11 (ato 10 ya?) yang berada di paling ujung di lantai boading di Sepinggan. Hell banget, mana saya gendong backpack segede tempurung penyu belimbing gitu. Jadilah saya jadi penumpang yang terakhir naik ke pasawat waktu itu.

Lanjutan penerbangan Sepinggan-Kalimarau (nama airport di Berau) ini saya tempuh pke pesawat ATR, lebih kecil dan jelajah terbang yang lebih rendah dari Boeing. Jadi, dari malam sebelumnya saya sudah check-in dan memilih kursi di pinggir jendela biar bisa menikmati pemandangan dari atas Pulau Borneo. Sebenarnya sebelumnya sudah pernah juga sih, terbang di atas kalimantan tapi waktu itu pakainya Boeing, everything down there seems smaller. Jelas beda sensasinya waktu nyoba pakai ATR, rasanya kayak lagi liat google maps gitu, jelas. Kalau biasanya melintas di atas "terranova" itu cukup digambarkan dengan satu kata: hutan. Tapi di terranova Borneo ini beda, saya perlu menambahkan dua kata lagi, jadi hutan, tambang dan sawit. Lucunya saya jadi berpikir, tiga hal ini menggambarkan situasi masyarakat di Borneo itu sendiri, setidaknya dari yang saya lihat selama di sana ya. Hutan itu suku-suku aslinya yang masih bertahan dengan idealisme asal-usulnya. Tambang adalah simbol pendatang atau bisa juga 'pribumi' yang sudah memiliki pola pikir pendatang. Lalu sawit adalah 'pribumi' yang ingin bertahan hidup dari peliknya sistem yang ada. Errr, I could talk about it all night guys, tapi cukup omong kosongnya. Ini kan mau nulis catper kenapa malah bahas kemana-mana.

Balikpapan-Berau ternyata jauh juga, dengan pesawat 1 jam 20 menit. Gak kebayang kalau pakai jalur darat kayak apa, sampai tujuan yang ada malah sakit encok kali. Pantesan aja saya sempat diketawain teman saya yang di Berau waktu saya punya ide mau pakai jalur darat saja, bunuh diri kamu, Non! -_-"

Sampai di Bandara Kalimarau sekitar jam setengah satu siang. Hal pertama yang saya lakukan begitu sampai: gumun (Jawa: kagum, yang lebih dalam artinya "ndeso). Untuk sekelas bandara level kabupaten Kaimarau ini wow banget. Subjektif, saya samakan dengan bandara level provinsi di Maluku Utara. No offense  ya kalau ada orang Ternate dan sekitarnya yang baca, you need to look out the world outside you. Tapi saya membanding-bandingkan bukan berarti menjelekkan ya, memang Berau lebih 'kaya' sih ya. Justru akan mencurigakan kalau fasilitas umumnya masih tertinggal. Duuuhh, saya lagi kenapa sih ini, bawaannya mau bahas kesana terus. >>>.<<<

Oke, fokus. Sampai di Kalimarau saya hubungilah teman sekampus saya dulu yang sekarang penempatan di Berau. Maksudnya sih mau tanya caranya ke kantor dia gimana, eh ternyata dia sudah berencana mau jemput saya di bandara, cuma saya disuruh nunggu dia jumatan dulu. Jadilah selama sejam itu saya gelesotan di depan bandara yang kalau gak ada penerbangan ternyata sepi banget itu. Mana laper dan gak ada tempat makan yang "price-ready" pula. Duhh protes mulu ya ini anak. -.-"

Sejam berlalu, tiba-tiba teman saya itu udah muncul aja. Setelah melewati moment speechless yang dipersembahkan oleh sedikit perubahan "style" penampilannya setelah dua tahun lebih gak pernah ketemu, sambil nyetir mobil pinjaman dari bosnya dia langsung berlagak jadi tour-guide Kota Berau (eh, kota gak ya?) ngoceh soal kondisi wilayah kerjanya itu. Hingga akhirnya sampailah perjalanan kami dari bandara ke kantornya melewati jalan di pinggiran Sungai Segah. Di situ saya merasakan ketakjuban waktu melihat ada kapal tongkang lagi nongkrong di sungai itu. "Kok udah sampai laut aja sih, Pan?" yang langsung disambernya "Ini sungai kali!!!" Seriusan, saya tahu dari buku-buku pelajaran kalau sungai-sungai besar di kalimatan itu jadi jalur perhubungan, tapi melihat langsung begini sensasinya cetar, coy. Biasa kalau di Ternate itu kapal-kapal besar parkirnya jauh banget dari daratan, lhaa ini di sungai men, sungai itu kali, lho. Iya kali yang buat mandin sapi kalau di kampung saya. Yaa gak gitu juga sih, jelas skala sungainya beda banget, sungai-sungai di kalimantan kan sudah tersohor akan kelebaran dan kedalamannya. Satu dari bukti kebesaran Tuhan yang Dia lukiskan di bumi Borneo.

Kapal Tongkang di Sungai Segah

Lihat Lebih Dekat si Kapal Tongkang

Sayangnya saya gak sempat ambil gambar Sungai Segah waktu siang hari. Saya terlalu lapar untuk mikir buat foto-foto. Oh iya dan terlalu kepanasan. Berau itu panas sodara-sodara. Saya yang bukan peminum es-es-an pun akhirnya menyerah karena udah gak tahan sama gerahnya. 

Pusat pemerintahan Berau ada di Tanjung Redep (atau redeb ya?) jadi kantor teman saya ini, which is kantor yang masih satu jaringan dengan kantor saya di Jailolo letaknya ya di Tanjung Redep ini, persisnya di samping Sungai Segah. Mampir kantor dulu, kenalan dengan pegawai di sana, ketemu juga teman seangkatan yang kerja disana, lalu cus makan siang. Makannya bakso yang sepertinya sudah menjadi keahlian orang Jawa dimana-mana, karena yang jual adalah orang Jawa. 

Hari pertama, di Berau saya habiskan dengan meet-up teman-teman lama saya dan kenalan dengan teman-teman baru, adik tingkat dari kampus saya dulu. Ya beginilah, uniknya kuliah di kampus kedinasan, kerja di kantor yang punya jaringan menyebar ke seluruh penjuru negeri, jadi sahabat, teman, kenalan, kompetitor, kekasih (ups), mantan (eh), menyebar di seluruh Indonesia. Hahaha, bukan curhat lho. Curhatnya orang lain mungkin, eh?

Anyway, terimakasih teman-teman saya di Berau yang sudah menjamu saya selama disana dengan sangat luar biasa. Full service-nya juaraaakk!!! 

Thank you so much, guys!!!

Jumat malam di Tanjung Redep, kami habiskan dengan nongkrong di sepanjang Sungai Segah. Ajaibnya, Sungai Segah yang sesiangannya sepi banget itu langsung berubah ramai banget. Di sana ada banyak sekali penjual makanan dan minuman kaki lima dan tentunya orang-orang yang duduk-duduk di sepanjang sungai menikmati malam sambil ngobrol soal apa saja. Kecuali saya sepertinya, yang lebih terpukau dengan kapal tongkang. Jadi maaf, cerita Day-1 ini foto-fotonya cuma soal kapal tongkang. Wkwkwk :p


Lampu-lampu jalan dari seberang sungai

The Magnificent Kapal Tongkang wkwk

Seriously, is there anywhere else you could find this kind of panorama?

I promise you, this is the last pict of kapal tongkang :p

Woiya, satu lagi selain kapal tongkang (lama-lama gue bunek sendiri kebanyakan mengulang-ulang kata ini), ada satu lagi yang mencuri perhatian saya selama di Sungai Segah. Ada coffe-maker yang jualan pake gerobak kaki lima, gaiss, keren banget gak tuh. Eitss, dan bukan sembarang kopi instan yang dia bikin ya, ada pilihan single origin coffee-nya juga lho. Mana harga-harganya masuk akal pula. Nah, kurang perfect gimana lagi coba, satu malam di Sungai Segah bareng temen-temen yang kece-kece, duduk-duduk ngobrol becandaan sambil ngopi yang enak & murah. 

Cuma saya sempat heran, karena jadi satu-satunya cewek yang minum kopi (ya cewek normal itu minumnya susu, iya aja deh) sampe masnya yang bikin kopi aja kaget, dia konfirmasi dulu waktu mau bikin kopi, "ini yang pesen mbaknya itu?" Duh, emang kenapa sih, kadang saya heran kenapa orang-orang di luar Jawa suka heran kalau liat cewek minum kopi. Kecuali kopi-nya Jessica, saya memang doyan kopi kok.


tempat praktek kopi

harga yang masuk akal
Oke, sekian dulu cerita perjalanan saya menuju Derawan, jelas masih akan ada lanjutannya. Memang belum sampe cerita di Derawan, but I think one day at Tanjung Redep is worth to tell and share. :)