Thursday, September 1, 2016

Trip Nekat Berau: Pulau Maratua (Day 2) - Part 2

Maafkan kalau cerita saya ini udah kayak sinetron, bersambung terus. Hehe. Karena rasanya saya ingin tulis semua setiap detail peristiwa yang saya alami dalam setiap perjalanan yang saya lalui. Bukan untuk pamer, bukan untuk berlagak, bukan juga untuk mengharap simpati, tapi semata hanya-ingin-tidak-melupakan kisah yang belum tentu sepuluh tahun lagi akan terulangi atau bahkan memang tidak akan terulangi sama sekali, di tempat yang sama dengan orang yang sama pada suasana yang sama.

Kembali ke cerita... (baca dulu catatan part 1)

Beradaptasi dengan suasana di Pulau Maratua ternyata bukan hal yang sulit. Hawa-hawa pulau-pulau kecil dimana-mana memang sama saja. Sama terik panas maksudnya, tidak segerah di daratan besar, karena kalau di pulau masih ada kesejukan yang dibawa angin laut. 

Selesai makan siang di tepi pantai, kami langsung mengikuti Mas Wilson yang menjadi penunjuk jalan. Dengan dua sepeda motor, kami melalui jalanan di dalam pulau. Situasi yang amat sangat berbeda dari gambaran "sebuah pulau yang jauh dari peradaban kota" yang pernah saya kunjungi, Pulau Maratua ini sangat "terfasilitasi". Jalanannya sudah banyak yang diperkeras, baik itu dengan cor-coran semen ataupun aspal, di beberapa titik saat itu malah sedang dilakukan pengerjaan. Kualitas sinyal 3G Telkomsel di pulau ini juga sangat bagus, gak kayak 3G abal-abal di Jailolo. Ohiya, di Pulau Maratua juga sedang dibangun bandara, lho. Jadi, bagi yang kepengen banget bisa ke Pulau Maratua dan sekitarnya tapi gak mau ribet di perjalanan, gak mau nambah capeknya dan memang kebetulan lagi banyak duit bisa dipertimbangkan lagi untuk menunda sampai bandaranya beroperasi. Yah palingan 2-3 tahun lagi lah. Palingan, lho. :p


Kampung Teluk (saya gak tahu sebutannya, tapi nama ini terdengar cantik, kan?)

Spot pertama yang jadi rekomendai Mas Wilson untuk kami kunjungi ternyata adalah sebuah dermaga nelayan. Untuk menuju ke tempat ini, seingat saya tinggal mengikuti jalan aspal ke arah selatan sampai menemukan sebuah desa di pesisir pantai bagian dalam pulau. Ingat, kalau saya bilang bagian dalam itu artinya bagian hole/teluk besar di Pulau Maratua, ya. Di dermaga ini kami tidak perlu berbuat apa-apa. Bisa, sih kalau pengen nyemplung ke lautnya, tapi saya sarankan sebaiknya jangan. Kenapa? Soalnya pemandangan di hole raksasa ini sangat magical. Warna biru langit dan biru air laut seakan-akan menyatu. 

Can you find the horizone, like I found it in you? #eaa


Kolam renang raksasa

Perairan di hole ini bisa dibilang dangkal dengan pasir putih mendominasi dasarnya, kalau di peta gambarnya biru muda, dan memang persis seperti itulah kalau melihat dengan mata kepala langsung. Di sini airnya sangaaaaaat tenang, sangaaaaat jernih sampai-sampai guratan-guratan pasir terlihat jelas, dan juga sangaaaaaat banyak ikannya. Ikan kecil-kecil, sih, kayak ikan teri, yang memang biasanya lebih senang berenang di sekitaran dermaga, karena setelah sering saya amati ikan jenis ini lebih senang berenang di tempat yang teduh, alasannya mereka itu takut item gitu. Makanya gak pernah kan ada ikan teri yang warnanya item? Pasti ikan teri warnanya putih.
  
Ikan-ikan manja

Ratu ikan yang paling takut item
Selama duduk-duduk di dermaga ini, saya amati banyak rumah penduduk yang modelnya rumah panggung di atas laut. Seketika pikiran saya langsung ke Suku Bajo, karena rumah-rumah begini identik sekali dengan kampung-kampung Bajo yang pernah saya lihat. Dan setelah saya konfirmasi ke Mas Wilson, ternyata benar dugaan saya. Sebagian besar masyarakat Pulau Maratua ini adalah Suku Bajo. Well, tambah lagi rasa kekaguman saya pada suku yang satu ini, pada keteguhan mereka untuk konsisten mempertahankan ciri khas dan eksistensi mereka untuk bisa bertahan dimana pun mereka berada.

Hanya saja, saya masih penasaran dengan saluran pembuangan akhir di rumah-rumah panggung di sini, soalnya laut di sini kan jernih banget ya, dan so far saya tidak menemukan "nugget" dan "sossis" di lautan Pulau Maratua. Trus dibuang kemana ya? Hmmmm...


Goa Aji Mangku

Oke, mari kita lupakan sejenak misteri itu. Sudah puas dicekoki vitamin sea, kami dibawa Mas Wilson ke Goa Aji Mangku. Lokasinya ada di dalam hutan dengan akses jalan bebatuan besar, jadi kecuali motor trill tidak memungkinkan untuk lanjut jalan. Setelah parkir motor, oh tenang bukan parkiran resmi, cuma di bawah pohon rindang saja, jadi bebas parkir dan aman, kami diharuskan jalan trekking menuju lokasi Goa Aji Mangku ini. Saya lupa durasinya berapa jam, yang jelas kerasa lumayan capeknya. Awalnya tinggal mengikuti jalur jalan terjal yang konon katanya sedang direncanakan akan dibuat jalan yang layak sampai ke pantai, sampai di sebuah area terbuka kami mulai berbelok ke kanan, mengikuti jalur setapak. Bagi yang belum pernah ke sini dan tidak menyewa guide, saya kira pasti akan kesulitan menemukan jalur setapak ini, karena memang belum ada penunjuk jalannya.

Di jalan setapak ini sudah ada banyak kayu papan yang digunakan untuk membantu pejalan kaki untuk berpijak, kalau gak, dapat dipastikan kaki bakalan lecet-lecet semua karena keseringan menindas batu karang yang jadi dominasi jalur setapak itu, bahkan kalaupun Anda memakai sepatu. Oh, kecuali sepatu boot atau sepatu gunung mungkin masih aman. Emang ada ya yang pergi ke pulau pake sepatu gunung?

Singkat cerita, sampailah kami di lokasi Goa Aji Mangku. Kalau dilihat sekilas lebih mirip sumur, jauh dari bayangan goa yang ada di pikiran saya. Disebut goa mungkin karena anatomi vertikal-nya, lalu (konon katanya) ada jalur goa yang kalau ditelusuri bisa sampai ke laut, kayak di film Sanctum gitu, jadi mesti menyelam kalau mau membuktikan sendiri. Tapi kalau saya, sih percaya aja deh.

Mulut Goa Aji Mangku


Sebelumnya saya gak ada gambaran sama sekali tentang goa ini. Bahkan sebetulnya saya gak ada gambaran sama sekali tentang Pulau Maratua ini, seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, saya gak ada persiapan apapun untuk menghadapi Pulau Derawan dan kawan-kawannya ini. Kalau biasanya sebelum jalan saya sibuk browsing sana-sini, untuk kali ini tidak sama sekali. Murni saya cuma modal percaya, pasrah dan tanpa harapan apa-apa, yang saya tahu cuma satu: Pulau Derawan pulau impian mainstream yang lagi hits banget. Udah itu aja. 

Ehh, lhaa kok begitu saya liat wujudnya Goa Aji Mangku ini, saya langsung ingat salah satu episode di awal mula kemunculan My Trip My Adventure, waktu host-nya masih Hamish dan Vicky, jauh sebelum acara ini mulai sedikit lebay dengan tambahan drama dan prahara yang keliatan mengada-ada itu. Di episode itu kalau gak salah Vicky loncat dari tebing Goa Aji Mangku ini, sementara di Hamish lebih milih diving ke dasar Goa Aji Mangku. Dansetelah saya konfirmasi ke Mas Wilson, ternyata memang benar, MTMA pernah sampai goa ini, tapi itu sudah lama sekali.

Mulut goa di sisi sebelahnya, yang lebih lebar

I wish I was in the picture :(
So, apa yang bisa kita lakukan di Goa Aji Mangku ini?
1. Berenang-renang di "kolam" sedalam 30 meter (bahkan mungkin lebih)
2. Ngambang-ngambang gak jelas di "kolam" sedalam 30 meter (bahkan mungkin lebih)
3. Diving ke dalam goa (kalau ada alatnya)
4. Terjun nekat dari atas tebing
5. Jadi tukang foto, motoin mereka yang udah keasikan nyebur duluan.

Pilihan saya jatuh ke nomer 2, 4, dan (tentu saja) 5. Alasannya?
1. Ngambang itu adalah gaya berenang andalan saya, karena gak bikin capek. 
2. Terjun dari atas tebing, karena saya kan orangnya suka tantangan gitu. Pffttt. 
3. Tukang foto, karena takdir.

Rekor terakhir terjun nekat saya adalah dari atas deck tiga kapal terjun ke laut di sekitaran Pantai Nusara, waktu itu masih pakai life-vest. Kali ini saya merasa tertantang lagi untuk nekat terjun di Goa Aji Mangku ini, tanpa life-vest, bukannya sok-sokan, tapi memang baru ingat soal pelampung pas udah loncat. Dan ternyata sensasinya seru banget. Tanpa life-vest badan jadi lebih lama naik ke permukaan, terus jadi mirip di film-film gitu, ada moment beberapa detik yang rasanya hening banget waktu masih di dalam air. Asik lah pokoknya.

Cuma sayangnya, hape yang buat ngrekam waktu saya terjun mengalami tragedi menyedihkan. Pas sorenya kita berenang di laut, si hape gak sengaja "diajak" berenang juga. Tentang tragedi ini, saya sudah sempat tulis di caption instagram saya. Jujur saja, waktu itu saya punya rasa sombong, ada niatan saya untuk segera pamer di sosmed tentang keseruan saya terjun dari tebing Goa Aji Mangku. Namun, ternyata Tuhan membalas kesombongan saya itu dengan tragedi hape itu, hilang sudah video dan foto-fotonya. Padahal selama di Goa Aji Mangku dokumentasi yang jalan lebih banyak meggunakan hape itu. Tahu yang lebih memilukan lagi? Saya tidak punya foto satu pun saat sedang di Goa Aji Mangku ini. Sejak saat itu, saya berjanji akan lebih berhati-hati dengan pikiran dan niatan saya.

Emmm, sebetulnya hape iphone yang keceblung itu punya teman saya, yang bahkan sampai berita ini turun dia masih dikabarkan memakai hape kacangan yang hanya bisa sms dan telepon saja. Tapi kok yang kayaknya ngerasa sedih dan pilu banget malah saya ya? Hahaha -_-"


Dermaga Kecil

Sebelum pergi meninggalkan Goa Aji Mangku, Mas Wilson menawari kami untuk melihat dermaga kecil di dekat lokasi goa. Tidak terlalu jauh dengan jalan kaki, tinggal mengikuti jalan setapak yang memang sengaja telah disiapkan. Jalur ini biasa digunakan bagi pengunjung yang datangnya dari laut, kapal mereka akan sandar di dermaga kecil ini.

(Black) Boys in Blue

From where I sit at Dermaga Kecil

*sedang meresapi kepiluan*

Jembatan Teluk Pea

Masih dengan semangat membara dan langkah penuh suka cita kami kembali melanjutkan perjalanan. Kembali dengan cara yang sama seperti saat datang, mengikuti jalan setapak yang penuh bebatuan karang lanjut belok di jalan besar yang tersusun dari batu-batuan besar. Mungkin pengaruh karena mulai lelah, trekking balik ini jadi terasa lebih lama. Begitu sampai di tempat kami parkir motor, langsung lanjut mengikuti kemana Mas Wilson membawa kami.

Kami kembali ke arah tempat penginapan, sesuai rencana memang spot terakhir kami hari itu adalah di Paradise Resort. Dalam perjalanan kami sempat berhenti dulu di Jembatan Teluk Pea. Kenapa? Karena tempatnya fotogenik gitu, ada hutan mangrove di kedua sisi sungai, trus di hilir sungai sudah bisa lihat lautan yang biru, sementara di hulu sungai matahari sudah mulai turun. Sayang, gak bisa lama-lama di sini soalnya mengganggu lalu lintas dan lagian waktu kami juga mulai terbatas, takut gak dapet sunset di pantai.

Mayan juga ni foto


Lihat Penyu Bentar

Di Pulau Maratua ini ada spot yang sering didatangi penyu. Nah, sambil jalan menuju Paradise Resort, kami mampir di spot dengan dermaga yang sangat panjang ini (yang mesti naik motor kalau mau cepet sampai ujungnya). Ditengok sana-sini gak ada tanda-tanda keberadaan penyu. Pas kami akhirnya memutuskan lanjut jalan, eh ternyata ada seekor penyu yang lagi berenang di dekat jembatan dermaga. Hanya bisa memandang dari atas laut, penyunya pun kayaknya lagi buru-buru, mau angkat jemuran mungkin, kan udah sore.

Sebenernya besoknya kami juga bakalan lihat penyu lebih dekat di Pulau Sangalaki, tapi ya biarlah kami menikmati kegumunan ini.

Nyu Penyu

Paradise Resort

Ini adalah resort yang dikelola oleh pihak swasta. Kalau kalian cari akomodasi di Pulau Maratua dari Traveloka atau semacamnya pasti yang muncul resort ini dengan tawaran harga permalamnya yahh sekitar jutaanlah. Belakangan saya tahu kalau ternyata kebanyakan wisatawan hanya tahu kalau di Pulau Maratua hanya ada resort ini sebagai tempat akomodasinya, makanya mereka jadinya lebih memilih menginap di Derawan yang harganya relatif lebih murah. Padahal nyatanya di Pulau Maratua ini juga ada cukup banyak penginapan dan homestay kok. 

Walaupun kawasan Paradise Resort ini tergolong 'private', tapi ternyata gak private-private amat. Memang ada area yang terlarang bagi selain tamu resort, tapi ada juga area yang boleh dimasuki bebas oleh pengunjung.

Menurut Mas Wilson di sekitaran Paradise Resort ini adalah kawasan yang banyak ikannya. Makanya kami diajakin snorklingan di sini. Iya sih, mayan banyak ikannya, sempet liat lionfish juga di sini, cuma sayang, berhubung baru pertama kali pake action-cam (sebelumnya udah pernah, tapi model berbeda) jadi belum terbiasa deh makenya. Ummm, jadi gak banyak foto-fotonya. Eh, ada banyak tapi foto-foto selfie di dalam air doang. Pemandangan bawah lautnya malah gak dapet.

The Lion Fish

Karangnya kayak habis di-bom


Sudah pernah lihat kecebong ngambang?

Dibilangin sama Mas Wilson kalau di Pulau Maratua ini bukan tempat untuk mencari terumbu karang. Kalau jenis-jenis ikan memang banyak di sini, tapi kalau mau cari terumbu karang itu di Derawan. Hmmm, biar begitu tetap kurang puas sih soalnya persiapan skill saya masih kurang. Coba kalau sebelum ke sini saya lebih banyak belajar berenang dan free-diving. Pasti bisa lebih puas main-main sama ikan dan gak cepet capek juga pas di air. Yahh, biar saya anggap ini sebagai latihan saya. Hehe.

Pas udah mulai asik ceceburan, eh ternyata matahari udah mulai lengser. Langsung deh pada belingsatan mau pindah spot yang ke arah barat. Di situ sudah mulai rame orang-orang yang mau nyanset juga. Sebenernya sungkan juga karena kami kan tidak berhak sepenuhnya di resort itu tapi karena sudah terlanjut terbawa suasana malah kebablasan gak tahu dirinya. Bukannya menyingkir di pojokan cukup motret sunset aja, ehh malah kami bertiga pada nyemplung di laut trus minta Mas Wilson motret tingkah polah kami dengan latar sunset. Duhhh, kalau ada pihak-pihak yang berhubungan  dengan kejadian waktu itu, saya benar-benar minta maaf yaa, gak akan saya ulangi lagi kok.


Satu-satunya foto yang sendirian, dan blur, nasip :(








Nah, akhirnya sampailah kita di penghujung hari. Diawali dengan mendung kelabu dan hujan deras dalam perjalanan panjang berlubang yang berliku dan naik turun. Hingga akhirnya melalui satu hari yang padat agenda. Rasanya tidak pernah ada satu hari yang terasa begitu lama sekaligus berlalu begitu cepat, kecuali hari-hari seperti ini, satu hari penuh suka cita, satu hari saat mengalami tantangan-tantangan baru, satu hari berada di tempat yang kita tidak pernah bayangkan, satu hari terbebas dari segala tuntutan dan tagihan, satu hari bersama dalam canda sahabat, dan satu hari saat dalam hatimu tanpa sadar terus menerus mengucap syukur.

Selamat sore!
Terimakasih!
Eitsss, masih ada lanjutanya dooong. Perjalanan hari ketiga nanti saya akan bercerita tentang perjalanan saya dan rombongan island-hopping di sekitaran Maratua-Derawan. Tunggu ya!

Wednesday, August 31, 2016

Trip Nekat Berau: Pulau Maratua (Day 2) - Part 1

Hai hai hai, nungguin kelanjutan cerita perjalanan saya ke Pulau Derawan ya? 
Hehehe, geer banget ya gue? Maafkan.

Setelah seharian 'klimatisasi' dengan hawa dan suasana Berau, akhirnya keesokan harinya (Sabtu, 13 Agustus 2016) perjalanan yang sesungguhkan dimulai. Oiya sebelum saya lanjutkan, saya ingin catat di sini, asal-muasal trip nekat ini. Perjalanan ini tidak lain bermula dari sebuah percakapan singkat di whatsapp, teman saya yang kerja di Nunukan (gak tahu itu dimana? silahkan googling), tiba-tiba menghubungi, kira-kira intinya "minggu depan aku ada kegiatan di Tarakan, ayo weekend ke Derawan". Satu detik, dua detik, tiga detik, saya cek kalender, saya cek harga tiket, dan.. "OK, ayok!"

Rencana kami ke Derawan pun tidak akan terjadi tanpa peran besar teman saya yang kerja di Berau (yang jemput saya di bandara), jadi kalau biasanya credit dikasih di akhir postingan, khusus yang kali ini saya ingin berterimakasih dulu untuk dua teman saya ini. Mereka benar-benar menjadikan saya tamu agung di "tanah" mereka. Oke itu yang saya pikir sampai baru-baru saya tahu ternyata saya cuma dianggap sebagai tukang foto. Hiks. Gakding, you're the best guys! Wkwkwk.

Hampir semua rencana perjalanan selama di Berau, mereka yang atur. Dari awal mereka sudah bilang, "Non, yang penting lu sampe aja dulu." Jadi, yang jadi bagian saya ya cuma perjalanan Ternate-Berau dan Berau-Ternate, udah gitu doang. Selama di Berau saya tinggal pasrah aja sama mereka. *eh

Satu hal dari perencanaan perjalanan ini yang sangat tertancap di pikiran saya, bahkan sampai sekarang pun masih sangat menggema di otak saya, kami bertiga sepakat, perjalanan ini dadakan, di musim ombak tinggi dan cuaca yang lebih sering mendung cenderung hujan, jadi jangan pasang harapan tinggi, jangan pikir Derawan itu seindah yang orang-orang bilang pokoknya kita jalan dulu, kita bisa sampai sana dulu, dan kita bisa kembali sesuai rencana. Itu saja. Saya setuju dengan pikiran seperti ini, sebenarnya kami bertiga sudah sangat familiar dengan kondisi seperti ini. Oiya, saya belum cerita, kami bertiga ini dulu waktu jaman masih kuliah sering banget ikut kegiatan outdoor sama-sama. Jadi yah, yang namanya berhadapan dengan alam sudah bukan barang baru buat kami. Ya tinggal jalankan rencananya sambil banyak-banyak berdoa.


Tanjung Redep - Pelabuhan Tanjung Batu: 3 Jam (Jalur Darat)

Jadi, kembali ke perjalanan hari kedua di Berau. Start dari Tanjung Redep (ibukota kabupaten) perjalanan menuju Pelabuhan penyeberangan Tanjung Batu. Ada dua pilihan transportasi untuk menempuh perjalanan ini: 1) Jalur darat, tentunya menggunakan kendaraan bermotor, bisa ikut mobil travel, atau sewa mobil sekalian, atau bisa juga naik motor, dan 2) Jalur sungai, menggunakan kapal speed, yang tarifnya, emmm saya lupa, pokoknya lebih mahal daripada ongkos bensin buat naik motor, makanya kami bertiga lebih memilih naik motor untuk menuju Tanjung Batu.

Rute Tj Redep - Tj Batu

Bagi saya yang belum pernah ke Tanjung Batu (atau siapa saja yang baru pertama kali pergi ke suatu tempat) perjalanan terasa lamaaaa sekali kayak gak nyampe-nyampek gitu. Kalau kayak gini saya jadi ingat sensasi naik gunung untuk pertama kali, pasti akan ada rasa kesal yang sama, biasanya leader yang berada di paling depan menyemangati dengan "bentar lagi puncak", "lima menit lagi sampai" atau bahkan yang lebih hoax lagi "ayooo sepuluh langkah lagi," dan taukah Anda? Hal serupa pun dilakukan oleh salah satu teman saya, begitu kami sampai di gerbang "Selamat datang di Tanjung Batu" langsung dia bilang ke saya, "Udah sampai nih, Non," seriusan waktu itu saya sudah merasa lega sekali. Tapi kelegaan saya seketika luntur ketika sampai 30 menit kemudian saya masih menjumpai gerbang "Selamat Datang di Tanjung Batu." Syeemm, gue kena tipu muslihatnya Ipan.

Bayangkan saja, selama tiga jam perjalanan dengan motor dalam guyuran hujan. Yup, bahkan sejak dari berangkat dari Tanjung Redep langit sudah gelap dan hujan turun deras banget. Tapi tentu saja, selama masih ada jas hujan kita tetap lanjut jalan. Meski sedikit menyulitkan, apalagi dengan kondisi jalan di beberapa titik banyak yang berlubang, akhirnya kami pun mampu sampai di Pelabuhan Tanjung Batu.

Note: Kondisi jalan darat Tanjung Redep-Tanjung Batu sangat berkelok-kelok dan naik-turun yang cukup curam, kanan-kiri jalan didominasi (tidak terlalu banyak) hutan dan (lebih banyak) ladang. Ketika tidak hujan bisa menikmati pemandangan khas perbuktian Kalimantan. Perlu sangat berhati-hati kalau tidak hafal dengan lubang jalan, kalau gak bisa 'terlempar' dari 'kursi' kendaraan, seperti yang kejadian pada saya yang sempat 'melayang' di atas motor gara-gara motor njeglong (maaf saya tidak tahu membahasakannya apa) di lubang jalan. Buat saya sih, itu fun-fun aja selama saya gak njlungup (Jawa: tersungkur) di aspal.  

Tapi, maaf saya gak ada dokumentasi selama perjalanan ke Pelabuhan Tanjung Batu. Yakali, lagi perjalanan menantang maut gitu sempet-sempetnya mikir dokumentasi.

Daaaannnnn...... sampailah di Pelabuhan Tanjung Batu.
Kami kelaparan.
Dan kebelet kencing.
Hehehehe...

Dermaga Pelabuhan Tanjung Batu

Emmm....
Setelah memarkirkan motor di tempat penitipan, kami cari makan dulu, secara memang pagi itu kami belum makan sarapan yang layak. Gak susah cari warung makan di sini, ada banyak warung makan di Pelabuhan Tanjung Batu. Selain itu ada juga toko-toko baju juga, kalau-kalau mungkin ada yang mau jalan-jalan ke Derawan trus lupa bawa baju serep.

Selesai sarapan, Ipan langsung menghubungi Mas Elka. Beliau ini yang akan menjadi motoris kami selama islands-hopping di sekitaran Pulau Derawan. Dari sini, saya baru tahu kalau tujuan utama kami hari itu sebenarnya adalah Pulau Martua, bukan Pulau Derawan, yang belakangan baru saya mengerti bahwasanya sesungguhnya highlight wisata Pulau Derawan itu sebenarnya ada di Pulau Maratua dan sekitaranya. Justru Pulau Derawan itu hanyalah satu pulau kecil, sekecil remah-remah rengginan (klo di peta), dimana menjadi tempat berkumpul kebanyakan fasilitas akomodasi bagi pengunjung di kawasan kepulauan ini. Oke, itu sekilas tentang Pulau Derawan lebih lanjutnya akan saya lanjutkan lagi nanti sesuai urutan perjalan saja.

Lagi siap-siap mau naik speed

First stop: Maratua Island (1,5 Jam dari Tanjung Batu)

Perjalanan laut menggunkan kapal speed dari Pelabuhan Tanjung Batu ke Pulau Maratua kami tempuh sekitar satu setengah jam. Sempat sandar sebentar di Pulau Derawan untuk ambil minyak. Waktu itu saya sudah excited banget waktu pertama kali lihat Pulau Derawan. Dikelilingi perairan yang tidak terlalu dalam, bersih dan jernih membuat kita bisa lihat karang-karang dan ikan dengan jelas.

Pulau Derawan sendiri lokasinya cukup dekat dengan Tanjung Batu, mungkin tidak sampai 30 menit. Perjalanan yang cukup terasa lama adalah dari Pulau Derawan ke Pulau Maratua. Kalau menurut Ipan, ombak waktu itu termasuk tinggi, bagi saya itu ombak yang pas untuk mengayun-ayunkan saya sampai pulas terlelap di atas speed. Hehehe, bukannya sombong, tapi memang inilah bakat andalan saya, pernah di laut Halmahera saya mengalami ombak yang lebih tinggi dari itu pun saya bisa tidur, yaa walaupun bangun-bangun kepala saya benjot-benjot karena kepentok body kapal.

"Bangun, Non. Bangun! Udah nyampe, nih!"
Begitu saya buka mata, ini yang saya lihat:

*kedip satu*

*kedip dua*

*kedip tiga*

*sepertinya saya masih mimpi*

"Ini dimana, Pan? Ini surga ya?"
"LHEBHAAAYYY" 
Wkwkwkwkk...

Satu kata: menakjubkan.


Ternyata saya gak mimpi, huhuhuu sampe terharu







Pulau Maratua ini merupakan pulau terluas di kawasan wisata ini. Bahkan, merupakan satu wilayah kecamatan sendiri. Pulau ini bentuknya sangat unik, kayak pisau daging yang dijual-jual di iklan home-shopping. Di sisi dalam pulau membentuk hole atau teluk dengan perairan dangkal yang didominasi dengan pasir putih.


Pulau Maratua

Oke, itu sekilas gambaran tentang Pulau Maratua. Begitu sampai di dermaga, speed yang kami tumpangi tidak sampai bersandar, karena memang agenda kami hari itu full di Pulau Maratua, jadi Mas Elka, motoris kami langsung putar balik kembali ke asalnya, entah ke Tanjung Batu lagi atau pulang ke rumahnya di Pulau Derawan. Sementara kami, setibanya di dermaga ternyata sudah ditunggu Mas Wilson. Beliau ini adalah guide di Pulau Maratua, katanya pernah memandu Ariel Tatum sama Mike Lewis, lho. Wuuuwwww...

Sampai disini apa kalian pikir kami sebegitu kayanya sampai sewa jasa guide? Heiiii mana mungkiiiin itu. Wkwkwk. Mas Wilson ini ternyata adalah mitra kerja di kantor kami, sudah kenal baik dengan pegawai-pegawai di kantor kami cabang Berau. Hari itu beliau tahu dari KSK Kecamatan Pulau Maratua kalau kami akan singgah di sana. Hmmm, saya curiga jangan-jangan dia kira kami ini sedang turun tugas lapangan mau survei di Pulau Maratua. Hehehe..

Setelah perkenalan sebentar (foto-fotonya yang lama) Mas Wilson mengantar kami ke homestay Regita, tempat kami menginap malam ini. Lalu kami pergi makan siang. Mencari warung makan di Pulau Maratua tidak sulit, tinggal pergi ke pantai dimana ada banyak tempat duduk maka rumah-rumah di sekitar situ pasti menjual makanan. Tentu carilah rumah yang memang ada tulisannya klo dia menjual makanan. Gitu aja kok repot. -_-"

Sambil menunggu pesanan kami datang--yang luaaamaaanya minta ampun--kami berempat (termasuk Mas Wilson) ngobrol-ngobrol tentang rencana jalan kami. Mas Wilson merekomendasikan kami untuk melihat ke sisi dalan pulau dulu, lalu ke Goa Aji Mangku, searah baliknya bisa mampir di area yang sering ada penyunya, baru sorenya nyemplung di laut sekitaran Paradise Resort. Beliau juga dengan baik hatinya membantu kami cari motor sewaan, bahkan meminjamkan kami pelampung dan google snorkle miliknya. Hihihiii, baiknya.



Emmm, cerita ini baru setengah hari dan perjalanan ternyata masih panjang. Lanjut di postingan selanjutnya ya...
Terimakasih.

Monday, August 29, 2016

Trip Nekat Berau: Tanjung Redep (Day 1)

Melanjutkan dari kisah perjalanan saya menuju Pulau Derawan. Setelah sehari sebelumnya saya transit dulu di Makassar, Jumat 12 Agustus 2016 pagi akhirnya saya menuju ke tujuan perjalanan panjang saya yang sebenarnya, yaitu ke Berau. Berau ini nama kabupaten dimana Pulau Derawan berada.

Untuk menuju ke Berau dari Makassar pun harus dilalui dengan transit dulu di Balikpapan. Ikut flight pagi (puku 9.10 WITA) dari Bandara Sultan Hassanudin Makassar (di Maros - begini biasaya awak kabin menyebutnya), pesawat delay sekitar 20 menit, untung saja saya pakai connect-flight, kalau gak bisa hancur lebur sudah ini perjalanan. Sampai di Bandara Sepinggan jam saya tinggal punya waktu sekitar 15 menit untung pindah pesawat, belum lagi harus memenuhi panggilan alam dulu, tambah pula gate boardingnya di gate-11 (ato 10 ya?) yang berada di paling ujung di lantai boading di Sepinggan. Hell banget, mana saya gendong backpack segede tempurung penyu belimbing gitu. Jadilah saya jadi penumpang yang terakhir naik ke pasawat waktu itu.

Lanjutan penerbangan Sepinggan-Kalimarau (nama airport di Berau) ini saya tempuh pke pesawat ATR, lebih kecil dan jelajah terbang yang lebih rendah dari Boeing. Jadi, dari malam sebelumnya saya sudah check-in dan memilih kursi di pinggir jendela biar bisa menikmati pemandangan dari atas Pulau Borneo. Sebenarnya sebelumnya sudah pernah juga sih, terbang di atas kalimantan tapi waktu itu pakainya Boeing, everything down there seems smaller. Jelas beda sensasinya waktu nyoba pakai ATR, rasanya kayak lagi liat google maps gitu, jelas. Kalau biasanya melintas di atas "terranova" itu cukup digambarkan dengan satu kata: hutan. Tapi di terranova Borneo ini beda, saya perlu menambahkan dua kata lagi, jadi hutan, tambang dan sawit. Lucunya saya jadi berpikir, tiga hal ini menggambarkan situasi masyarakat di Borneo itu sendiri, setidaknya dari yang saya lihat selama di sana ya. Hutan itu suku-suku aslinya yang masih bertahan dengan idealisme asal-usulnya. Tambang adalah simbol pendatang atau bisa juga 'pribumi' yang sudah memiliki pola pikir pendatang. Lalu sawit adalah 'pribumi' yang ingin bertahan hidup dari peliknya sistem yang ada. Errr, I could talk about it all night guys, tapi cukup omong kosongnya. Ini kan mau nulis catper kenapa malah bahas kemana-mana.

Balikpapan-Berau ternyata jauh juga, dengan pesawat 1 jam 20 menit. Gak kebayang kalau pakai jalur darat kayak apa, sampai tujuan yang ada malah sakit encok kali. Pantesan aja saya sempat diketawain teman saya yang di Berau waktu saya punya ide mau pakai jalur darat saja, bunuh diri kamu, Non! -_-"

Sampai di Bandara Kalimarau sekitar jam setengah satu siang. Hal pertama yang saya lakukan begitu sampai: gumun (Jawa: kagum, yang lebih dalam artinya "ndeso). Untuk sekelas bandara level kabupaten Kaimarau ini wow banget. Subjektif, saya samakan dengan bandara level provinsi di Maluku Utara. No offense  ya kalau ada orang Ternate dan sekitarnya yang baca, you need to look out the world outside you. Tapi saya membanding-bandingkan bukan berarti menjelekkan ya, memang Berau lebih 'kaya' sih ya. Justru akan mencurigakan kalau fasilitas umumnya masih tertinggal. Duuuhh, saya lagi kenapa sih ini, bawaannya mau bahas kesana terus. >>>.<<<

Oke, fokus. Sampai di Kalimarau saya hubungilah teman sekampus saya dulu yang sekarang penempatan di Berau. Maksudnya sih mau tanya caranya ke kantor dia gimana, eh ternyata dia sudah berencana mau jemput saya di bandara, cuma saya disuruh nunggu dia jumatan dulu. Jadilah selama sejam itu saya gelesotan di depan bandara yang kalau gak ada penerbangan ternyata sepi banget itu. Mana laper dan gak ada tempat makan yang "price-ready" pula. Duhh protes mulu ya ini anak. -.-"

Sejam berlalu, tiba-tiba teman saya itu udah muncul aja. Setelah melewati moment speechless yang dipersembahkan oleh sedikit perubahan "style" penampilannya setelah dua tahun lebih gak pernah ketemu, sambil nyetir mobil pinjaman dari bosnya dia langsung berlagak jadi tour-guide Kota Berau (eh, kota gak ya?) ngoceh soal kondisi wilayah kerjanya itu. Hingga akhirnya sampailah perjalanan kami dari bandara ke kantornya melewati jalan di pinggiran Sungai Segah. Di situ saya merasakan ketakjuban waktu melihat ada kapal tongkang lagi nongkrong di sungai itu. "Kok udah sampai laut aja sih, Pan?" yang langsung disambernya "Ini sungai kali!!!" Seriusan, saya tahu dari buku-buku pelajaran kalau sungai-sungai besar di kalimatan itu jadi jalur perhubungan, tapi melihat langsung begini sensasinya cetar, coy. Biasa kalau di Ternate itu kapal-kapal besar parkirnya jauh banget dari daratan, lhaa ini di sungai men, sungai itu kali, lho. Iya kali yang buat mandin sapi kalau di kampung saya. Yaa gak gitu juga sih, jelas skala sungainya beda banget, sungai-sungai di kalimantan kan sudah tersohor akan kelebaran dan kedalamannya. Satu dari bukti kebesaran Tuhan yang Dia lukiskan di bumi Borneo.

Kapal Tongkang di Sungai Segah

Lihat Lebih Dekat si Kapal Tongkang

Sayangnya saya gak sempat ambil gambar Sungai Segah waktu siang hari. Saya terlalu lapar untuk mikir buat foto-foto. Oh iya dan terlalu kepanasan. Berau itu panas sodara-sodara. Saya yang bukan peminum es-es-an pun akhirnya menyerah karena udah gak tahan sama gerahnya. 

Pusat pemerintahan Berau ada di Tanjung Redep (atau redeb ya?) jadi kantor teman saya ini, which is kantor yang masih satu jaringan dengan kantor saya di Jailolo letaknya ya di Tanjung Redep ini, persisnya di samping Sungai Segah. Mampir kantor dulu, kenalan dengan pegawai di sana, ketemu juga teman seangkatan yang kerja disana, lalu cus makan siang. Makannya bakso yang sepertinya sudah menjadi keahlian orang Jawa dimana-mana, karena yang jual adalah orang Jawa. 

Hari pertama, di Berau saya habiskan dengan meet-up teman-teman lama saya dan kenalan dengan teman-teman baru, adik tingkat dari kampus saya dulu. Ya beginilah, uniknya kuliah di kampus kedinasan, kerja di kantor yang punya jaringan menyebar ke seluruh penjuru negeri, jadi sahabat, teman, kenalan, kompetitor, kekasih (ups), mantan (eh), menyebar di seluruh Indonesia. Hahaha, bukan curhat lho. Curhatnya orang lain mungkin, eh?

Anyway, terimakasih teman-teman saya di Berau yang sudah menjamu saya selama disana dengan sangat luar biasa. Full service-nya juaraaakk!!! 

Thank you so much, guys!!!

Jumat malam di Tanjung Redep, kami habiskan dengan nongkrong di sepanjang Sungai Segah. Ajaibnya, Sungai Segah yang sesiangannya sepi banget itu langsung berubah ramai banget. Di sana ada banyak sekali penjual makanan dan minuman kaki lima dan tentunya orang-orang yang duduk-duduk di sepanjang sungai menikmati malam sambil ngobrol soal apa saja. Kecuali saya sepertinya, yang lebih terpukau dengan kapal tongkang. Jadi maaf, cerita Day-1 ini foto-fotonya cuma soal kapal tongkang. Wkwkwk :p


Lampu-lampu jalan dari seberang sungai

The Magnificent Kapal Tongkang wkwk

Seriously, is there anywhere else you could find this kind of panorama?

I promise you, this is the last pict of kapal tongkang :p

Woiya, satu lagi selain kapal tongkang (lama-lama gue bunek sendiri kebanyakan mengulang-ulang kata ini), ada satu lagi yang mencuri perhatian saya selama di Sungai Segah. Ada coffe-maker yang jualan pake gerobak kaki lima, gaiss, keren banget gak tuh. Eitss, dan bukan sembarang kopi instan yang dia bikin ya, ada pilihan single origin coffee-nya juga lho. Mana harga-harganya masuk akal pula. Nah, kurang perfect gimana lagi coba, satu malam di Sungai Segah bareng temen-temen yang kece-kece, duduk-duduk ngobrol becandaan sambil ngopi yang enak & murah. 

Cuma saya sempat heran, karena jadi satu-satunya cewek yang minum kopi (ya cewek normal itu minumnya susu, iya aja deh) sampe masnya yang bikin kopi aja kaget, dia konfirmasi dulu waktu mau bikin kopi, "ini yang pesen mbaknya itu?" Duh, emang kenapa sih, kadang saya heran kenapa orang-orang di luar Jawa suka heran kalau liat cewek minum kopi. Kecuali kopi-nya Jessica, saya memang doyan kopi kok.


tempat praktek kopi

harga yang masuk akal
Oke, sekian dulu cerita perjalanan saya menuju Derawan, jelas masih akan ada lanjutannya. Memang belum sampe cerita di Derawan, but I think one day at Tanjung Redep is worth to tell and share. :)





Monday, August 22, 2016

Mengisi Waktu Transit Setengah Hari di Makassar

Yey! Akhirnya saya melakukan perjalanan beneran lagi. Kali ini saya akan menuju Pulau Derawan di Kabupaten Berau - Kalimantan Timur, tapi untuk melakukan perjalanan ke Berau saya perlu transit dulu setengah hari dan satu malam di Makassar. Ya gini nih, kalo start-nya dari lokasi yang "susah". Mesti mencelat-mencelit dulu di kota-kota transit.

Aslinya ada pilihan perjalanan dari Ternate menuju Berau yang bisa ditempuh dalam satu hari saja, tapi berangkatnya pagi sekitar jam 7-an. Nah, secara posisi saya kan di Jailolo, dan kapal paling pagi yang pertama berangkat dari Jailolo itu pol sampe Ternate sekitar jam 8-9 pagi. Jadi yah, klo mau aman mesti stand by dulu di Ternate semalam. Setelah mempertimbangkan, karena intinya sama-sama "transit" juga, akhirnya saya ambil saja yang transit sehari di Makassar saja, kan mayan bisa lihat-lihat bentar kayak apa Makassar. Soalnya sebelum-sebelumnya transit Makassar cuma nongkrong di bandara doang.

Perjalanan saya dimulai dari Jailolo naik kapal speed pertama jam 6.30 pagi, ngetem dulu baru benar-benar berangkat itu jam 7.30 pagi. Ini gak pasti, tergantung jumlah penumpang, semakin cepat kursi penuh makin cepat juga speed berangkat. Normal perjalanan Jailolo - Ternate dengan kapal speed sekitar 45 - 60 menit. Sampai di Ternate masih sekitar jam 9 pagi, sementara jadwal pesawat saya 12.45 WIT. Masih sempat sarapan dulu.

Perjalanan udara dari Ternate ke Makassar ditempuh kurang-lebih satu setengah jam. Karena alasan operasional jadwal pesawat jadi sedikit molor, baru tiba di Bandara Sultan Hasanudin skitar jam 2 siang WITA. Keluar bandara sedikit bingung dengan jalan keluarnya, yang ternyata harus ikuti jalan menurun. Di situ sudah banyak bapak-bapak yang menawari taksi, ojek, dan DAMRI. Sejak awal saya sudah berencana untuk naik DAMRI, sekalian wasting time soalnya bus DAMRI ini ngetem dulu, kalau bus sudah penuh baru dia berangkat. 

Perjalanan dengan bus DAMRI dari bandara Sultan Hasanudin sampai di Kota Makassar, atau tepatnya saya turun di depan kantor RRI cukup ditempuh selama satu jam saja. Memang sempat kena macet di pertigaan bandara karena sedang ada perbaikan jalan.


Benteng Fort Rotterdam

Situs pertama yang saya datangi di Makassar adalah Benteng Fort Rotterdam. Sebenarnya karena pas kebetulan sekalian jalan menuju hotel tempat saya menginap yang kebetulan juga ada di depan Pantai Losari persis.

Di lingkungan benteng seluas 2 hektar ini selain tentunya bangunan benteng juga ada dua museum. Oiya, ada kantor dinas pariwisata juga, sih, yang menurut saya agak sedikit menganggu dan mengurangi estetika dari benteng ini.

Untuk ukuran hari kerja (weekday) menurut saya pengunjung benteng waktu itu cukup banyak, apalagi kelas umur remaja, yang iya sih lebih banyak sibuk dengan kamera dan tongsis mereka daripada keliling ke dalam museum. Terbukti waktu saya keliling ke dalam musem hanya sedikir sekali orangnya. Eh, atau karena memang udah mendekati jam tutup museum ya? Semoga saja iya deh.

Jadi, apa saja yang bisa dilakukan di Benteng Fort Rotterdam?
  1. Foto-foto arsiterktur bangunan benteng.
  2. Masuk museum dan dapetin ilmu tentang sejarah nenek moyang Suku Bugis sampai kisah jaman perjuangan merebut kemerdekaan di Sulawesi Selatan.
  3. Melatih rasa lewat karya-karya lukisan seniman-seniman Makassar. Selain sebagai situs sejarah, di benteng ini juga dijadikan basecamp/kantor komunitas seni di Kota Makassar.


Dan, ini foto-fotonyaaah...

Patung Sultan Hasanudin di depan benteng

Salah satu lorong di Fort Reterdam


seni lukisan tanah liat (1)

seni lukisan tanah liat (2)

pintu terowongan bawah tanah




Bangunan gereja



Sunset-Driving di Pantai Losari


Setelah menamatkan berkeliling di setiap sudut benteng, saya lanjut jalan ke arah selatan menuju Pantai Losari. Menurut saya lebih mudah jalan kaki saja, karena memang sangat dekat (menurut saya) daripada naik kendaraan, karena jalan di sepanjang Pantai Losari itu satu arah, kalau dari benteng jadi harus ambil jalan memutar dulu.

Sampai di Pantai Losari, pas banget matahari hampir tenggelam. Niatnya mau cari spot yang bisa keliatan siluet landmark tulisan "Pantai Losari" tapi apa daya kalah sama orang-orang yang berlalu-lalang di depan tulisan. Terlanjur bete akhirnya asal jepret aja, deh.

Pengalaman sunset-driving di Losari ini bagi saya sangat magical. Pernah ada yang beropini kalau sunset di Losari ini adalah yang terbaik. Waktu itu saya pikir, ah bukannya dimana-mana ya sama aja ya sunset-nya. Ternyata saya salah. Di Pantai Losari ini saya membuktikan sendiri. Sunset di Losari ini berbeda. Gimana ya menjelaskannya, semacam matahari jadi fotogenik gitu. Begitu shutter ditekan hasil jepretan pasti jadi kece banget. Memang sih, pasti ada faktor alam juga, seperti cuaca yang waktu itu memang sedang cerah (bahkan cenderung panas) dan langit yang bersih dan tidak ada banyak awan. Tapi saya tidak akan pernah lupa sensasi "tercengang" yang saya rasakan setiap memotret matahari senja di Losari waktu itu.

Semoga saja ada kesempatan lagi bisa berkunjung ke Losari dan membuktikan kalau sunset yang saya alami kemaren itu tidak hanya sekedar keberuntungan tapi memang karena kemagisan dari Losari.

Daaan ini dia foto-fotonya. Tanpa edit tanpa filter, lho. Foto-foto sunset Losari ini terlalu sempurna untuk diotak-atik.





Malam Hari di Makassar

Gak ada yang spesial sih malamnya. Saya cuma jalan-jalan ke mall. Hahaha, maklum gak ada mall sih di Jailolo. Selama di Makassar saya gak pusing mikir soal transportasi, kemana-mana saya tinggal order go-jek. 

Satu malam di Makassar saya menginap di POD House, hotel dengan konsep kapsul/dormitory yang unik banget. Kapan-kapan saya mau bahas tentang hotel ini. Berhubung di POD House ini ada rooftop-nya jadi sisa malam di Makassar saya habiskan buat jeprat-jepret aja dari rooftop.




Sekian cerita perjalanan transitan saya di Makassar. Next post tentunya masih tentang lanjutan perjalanan saya menuju Berau.
Terimakasih sudah mampir.


Makassar, 11 Agustus 2016
Note:
Tiket Bus DAMRI (Bandara - RRI Makassar) Rp 27.000,-
Go-Jek +/- Rp 15.000,-
Taksi Avansa Makassar - Bandara Rp 150.000,- (bukan taksi resmi, karena susah sekali cari taksi pagi-pagi di Makassar waktu hari kerja, sementara saya harus kejar flight pagi).