Wednesday, July 20, 2022

Memori Umbi - Babak 1 "Bacan"

Ini adalah seri tulisan saya yang akan menuliskan tentang cerita-cerita saya selama tinggal di Maluku Utara. Pada babak pertama ini akan membahas tentang kenangan saya waktu awal-awal penempatan. Yah, sekitar tahun 2014-2015.

Saya masih ingat betul waktu pertama kali tahu pengumuman penempatan. Dari tiga pilihan tujuan provinsi penempatan yang saya pilih, tidak ada yang terpilih jadi tujuan penempatan saya. Ya, Maluku Utara bukalah pilihan penempatan saya. Memang suratan takdir. Perasaan saya waktu itu sedih dan takut. Bahkan sempat beberapa malam saya habiskan untuk menangis. Meluapkan emosi yang saya rasakan waktu itu. Sedih karena pada saat itu pikiran bahwa penempatan di Indonesia timur seperti menjadi buangan, karena tentu saja jelas tidak banyak yang memilih. Lalu takut akan pergi ke tempat yang saya belum pernah tahu sebelumnya apalagi ini di kawasan Indonesia timur. Tapi perasaan itu ya hanya saya simpan dan rangkul sendiri, tidak ada yang bisa saya lakukan selain menjalaninya. 

Hingga akhirnya waktu keberangkatan tiba. Pesawat Garuda tujuan Ternate jadwalnya di jam dini hari. Sungguh perasaan saya bukannya sudah siap justru semakin kalut. Beruntung teman-teman kosan waktu itu sangat support mau mengantarkan kepergian saya di bandara. Meski ketika akhirnya saya masuk untuk boarding rasa galau muncul lagi. Tidak ada keinginan untuk ngobrol dengan teman-teman lainnya dan memilih untuk tidur saja. Bahkan sampai boarding naik pesawat pun saya masih dalam kondisi setengah tidur dan mengantuk berat.

Terima kasih teman-teman atas supportnya :)

Kalut. Mungkin satu kata ini paling tepat menggambarkan perasaan saya waktu itu. Pikiran kacau dan tidak sanggup berkata apa-apa. Meskipun sepanjang penerbangan saya pulas tertidur, tapi perjalanan dini hari itu terasa sangat melelahkan secara mental.

After Sunrise

Begitu terbangun, mata saya disambut semburat jingga dari arah timur, tidak terlihat matahari tapi ada tanda-tanda kehadirannya. Ini adalah pertama kalinya saya menyaksikan golden hour after sunrise dari atas pesawat terbang. 

Waktu itu tidak sempat memotret Gunung Gamalama, kalau ini Gunung Hiri

Begitu pesawat landing di landasan bandara, kami disambut mendung. Masih ingat betul waktu itu pilot mengucapkan kata-kata selamat datang dengan menyebutkan Gunung Gamalama di sebelah kiri kami. Saat itulah perkenalan resmi saya dengan Gunung Gamalama.

Ketika masih kurus hehehe

Beruntung pas kami datang lagi musim durian


Tiba di Ternate bukanlah tujuan akhir dari penempatan. Saya dan sepuluh orang lainnya yang sama-sama penempatan di Maluku Utara, hanya transit sementara di kota ini. Kami melapor dulu ke kantor provinsi untuk diberi pengarahan oleh Kepala Kantor Provinsi sekaligus mengkoordinasikan teknis keberangkatan kami ke satker di Kabupaten/Kota. Menyesuaikan jadwal kapal, keberangkatan kami pun jadi berbeda-beda. Ada yang langsung berangkat malam itu juga ada juga yang masih harus menunggu kapal.

Jujur saja, sampai detik itu seumur hidup saya belum pernah naik kapal laut sama sekali. Satu-satunya referensi perkapalan yang saya tahu adalah Kapal Titanic. Jadi yah yang ada jadi terbayang hal-hal menakutkan. Namun setelah dijalani naik kapal laut ya biasa aja. Asalkan cuaca sedang bagus dan laut tidak beromak dan dapat kamar di kapal perjalanan menggunakan kapal laut terasa nyaman juga. Kalau tidak dapat kamar ya jadinya diranjang deck kapal yang panas dan gerah.

Sayang, saya tidak ada dokumentasi selama perjalanan menggunakan kapal laut dari Ternate ke Bacan. Ya penempatan pertama saya adalah di Kabupaten Halmahera Selatan.

Tiba di Bacan, kami disambut dengan baik oleh pegawai-pegawai di sana. Banyak yang suka bercanda membuat kami cepat akrab. Mereka pun dengan terbuka menawarkan bantuan jika kami membutuhkan. Dukungan seperti ini memang sangat penting apalagi bagi kami yang penempatan kerja jauh seperti ini, yang amat sangat membutuhkan dukungan baik secara mental maupun material wkwkwk. Maklum masih calon pegawai jadi income-pun belum dapat full. Eh ternyata tidak ada rumah dinas, jadi terpaksa harus tinggal di kos-kosan yang lumayan juga harganya untuk saya waktu itu. Tapi pada akhirnya ya dijalani saja, kan katanya akan selalu ada rezeki yang datang dari arah yang tidak pernah kita duga.

Bersama kawan-kawan kerja di Halmahera Selatan

Saya bekerja di Halmahera Selatan sejak April 2014 hingga dipindahtugaskan ke Halmahera Barat pada Oktober 2015. Tentu bukan waktu yang singkat, kalau mau dituliskan akan ada banyak sekali kisah suka-duka saya selama di Bacan. Seperti kisah kecelakaan saya yang cukup melegenda di kalangan internal kami wkwkwk.

Kawan penempatan saya: Tantri & Diah


Akhirnya, melalui tulisan ini saya ingin berterima kasih pada orang-orang yang telah sangat berbaik hati selama saya di Halmahera Selatan:
  1. Mas Ipin (Arifin), senior panutan kami yang sudah membimbing saya dan dua kawan saya, tidak hanya untuk pekerjaan tapi juga petuah-petuahnya untuk dapat survive di Bacan hehe.
  2. Mbak Umi, sejak kami datang sudah banyak sekali bantuannya, mengizinkan kami numpang dulu di kosannya, membantu kami cari kos-kosan, banyaklah pokoknya.
  3. Udin, entahlah apa jadinya kami selama di Bacan kalau tidak ada manusia super baik ini.
  4. Pegawai-pegawai di Halmahera Selatan lainnya yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu, terima kasih untuk dukungan dan pelajaran yang pada akhirnya dapat saya ambil hikmahnya.
Terima kasih.

Lanjut ke babak 2 "Jailolo"

0 comments :

Post a Comment