Showing posts with label jogja. Show all posts
Showing posts with label jogja. Show all posts

Tuesday, October 14, 2014

Menyimpan Kenangan Sebelum Penempatan - Jogjakarta

Sebelum berangkat penempatan, kami diberi waktu empat hari untuk kembali ke daerah asal. Ini penting bagi kami yang berasal dari Jawa. Karena bagaimanapun kami berhak untuk estidaknya berpamitan pada orangtua kami. Atau setidaknya menciptakan kenangan baru yang layak untuk dikenang kelak saat penempatan.

Kami putra-putri daerah dari Jogjakarta yang berkesempatan mengikuti pendidikan di salah satu perguruan tinggi kedinasan ini berjumlah 11 orang. Ini adalah jumlah yang benar-benar asli dan ber-KTP D.I.Yogyakarta. 

Saya masih ingat betul bagaimana kami pertama kali bertemu. Tidak serta-merta bertemu sekaligus, sih. Tapi satu persatu. Berkenalan dengan berbagai karakter orang Jogja, dari berbagai wilayah di Jogja. Ada sebel. Ada senengnya.

Dulu tiap kali ada pertemuan rutinan, suka sebel juga kalau tiap ada kegiatan. Sampe mereka pada takut kalau saya sudah marah. Tapi sungguh, kehadiran kalian sebenarnya bikin "hommy".

Ya, maklum, Saya kalau di rumah emang suka marah-marah sih. --"

Awal April 2014, kami (tidak semua sih) anak-anak statistik dari Jogja ini, sepakat pergi main bareng. Naik Gunung Nglanggeran dan ke Candi Ratu Boko.

Gunung Nglanggeran tidaklah begitu tinggi, tapi entah kenapa ada bisa begitu berkesan. Sepanjang jalan kita berbicara soal apa saja. Mulai dari Simbahnya Puteri yang pernah dia ajak naik Nglanggeran ini sampai (tentu saja) perkara penempatan. Sesekali pasti dibumbuhi soal wacana-wacan masa depan, apalagi kalau bukan soal "kapan rabi?" (-kapan nikah?). Soal yang terakhir ini ada istilah yang ngehits banget yang tercipta dalam percakapan kami yaitu "29 mei".

Saking ramenya kami saling bergurau soal "29 mei", sampai-sampai pihak yang tidak tahu menahu pernah dengan sengaja menghubungi saya menanyakan "Koe meh nikah tanggak 29 Mei, non?" (-Kamu mau nikah tanggal 29 Mei, non?". Hahaha.. pertanyaan itu jelas menggelikan. Karena sampai undangan resmi turun (kurang lebih, kalau tidak salah sekitar akhir bulan April atau awal Mei) saya sendiri tidak tahu siapa yang akan menikah di tanggal 29 Mei itu.

Ah, lucu. Ayo kapan kita buat kenangan lagi?
























Perjalanan singkat yang menakjubkan. Terimakasih!
Lophe dan Fuah - yang sekarang di Kalimantan Timur,
Puteri - sekarang di Sulawesi Selatan,
Deny - sekarang di Papua.



*Foto di Ratu Boko featuring Nela (adek tingkat-dari Jogja juga, masih magang di Jakarta, kalau gak salah November berangkat penempatan)

Wednesday, September 18, 2013

Sushi~story

Ini kejadian udah lama sih, pas lagi libur lebaran kemaren, tapi baru sempet di-posting sekarang. Hehehe...

Jadi ceritanya saya diajakin reunian sama temen-temen SMP. Sepakat untuk menjajal tempat makan yang belum pernah dicoba, akhirnya kami makan di Sushi.story. Dari namanya sudah jelas, tempat makan yang ada di Jalan Seturan ini adalah spesialis penyaji shusi. Bagi yang tidak tahu apa shusi, bisa googling dulu cari tahu apa itu shusi. >,<

Sushi.story di Jalan Seturan ini tempatnya kecil, tapi cukup berciri khas. Dilihat dari luar akan tampak sebuah moncong kapal yang didalamnya ditata bangku-bangku dan meja sebagai tempat pengunjung untuk makan. Itu tadi masih di bagian teras Sushi.story. Sementara di dalam, hanya ada dua meja panjang dengan kursi-kursi yang lumayan tinggi yang dihiasi sebuah pohon kering.

Ada banyak pilihan sushi di sini, mulai dari yang seharga Rp 5.000,-. Selain shusi, ada juga takoyaki. Untuk menu minumannya, ada macam-macam juga dan enak-enak kok. 

Enaknya makan di Sushi.story yang di Jalan Seturan ini, dia bersebelahan dengan warung udon. Jadi kalau sudah bosan dengan menu shusi bisa mencoba menu udon.







Udon

Udon

Onigiri


Takoyaki


Mr.Crab in Love

Selain di jalan Seturan, Sushi.story bisa juga ditemukan di Galeria Mall. Namun dengan konsep yang tempat makan yang berbeda. Kalau yang di Jalan Seturan dia berdiri di satu kios sendiri di pinggir jalan, maka di Galeria Mall ini, Sushi.story hanya sebesar petak dapur dengan meja makan yang menempel dengan dinding dapur. Sedikit tidak nyaman makan di sini, kecuali kalau mau makannya di meja area foodcourt.











Nah,segitu aja ya. Maaf kalau postingan ini tidak informatif dan tidak memberi manfaat.

Saturday, August 17, 2013

Jelajah Gunung Kidul: Pantai Pok Tunggal

Habis lebaran kemaren saya berkesempatan jalan-jalan ke Gunung Kidul. Sudah banyak yang tahu, kan? Kalau sudah setahunan ini Gunung Kidul jadi primadona baru pariwisata di Yogyakarta. Banyak banget spot-spot wisata di Gunung Kidul ini yang harus banget dibuktikan sendiri keelokannya. Mulai dari Gunung Api Purba Nglanggeran, Cave-tubing Goa Pindul, Goa Jomblang sampai berbagai pantai yang berjejeran sepanjang batas selatan Kabupaten Gunung Kidul. Berbeda dengan pantai-pantai di Kabupaten Bantul seperti Pantai Parangtritis dan Pantai Depok yang pasir pantainya hitam, pantai-pantai di Gunung Kidul ini terhampar pasir putih.

Untuk yang pertama kalinya saya pergi ke Pantai Pok Tunggal. Hanya bermodal petunjuk jalan dan kompas mulut alias tanya sana-sini. Pantai ini masih satu jalur dengan kompleks Pantai Baron-Krakal-Kukup. Tinggal ikuti saja jalan dalam kompleks perpantaian tersebut. Kalau diurutin, pantai Pok Tunggal ini tepatnya ada di sebelah timurnya Pantai Indrayanti. Kalau belum pernah kesana seperti saya ini memang rasanya kayak gak sampe-sampe saking jauhnya. Apalagi untuk menuju pantai ini perlu melewati jalan makadam yang lumayan panjang.

Sepanjang jalan saya sudah berharap, semoga saat sampai diujung jalan yang sangat tidak layak ini saya akan disuguhi pemandangan pantai yang indah. Begitu sampai di area parkiran pantai Pok Tunggal, benar saja, memang sepadan dengan perjuangan menuju pantai ini, karena memang benar apa kata kabar burung kalau Pok Tunggal itu surga tersembunyi.




Saat saya sampai, di pantai sudah banyak orang yang bermain air laut. Hamparan pasir putihnya pun bikin gemes buat gelundungan. Tapi sayang saya masih memilih untuk eman-eman dengan nasib kulit saya. Memang angin semilir membawa hawa sejuk, tapi di bulan Agustus ini matahari benar-benar  sedang menjalankan tugasnya menyinari bumi dengan seksama. 

Jadi daripada gosong saya mencoba menaiki bukit Panjung yang berapa di sebelah timur pantai. Pantai Pok Tunggal ini diapit oleh dua bukit, yang keduanya bisa didaki. Tidak terlalu tinggi kok, tapi cukup enaklah jadi tempat menunggu matahari tenggelam. Sayangnya saya cuma naik ke Bukit Punjang yaitu bukit yang berada di sebelah timur hamparan pantai. 

Jembatan menuju Bukit Punjang

Hamparan pantai Pok Tunggal

Bukit Punjang

Pemandangan di sebelah timur dari Bukit Punjang
Fasilitas di Pantai Pok Tunggal ini sudah cukup menunjang kebutuhan pengunjung. Sudah ada kamar mandi atau WC umum sekaligus mushola. Warung-warung yang menjual makanan dan minuman juga ada, meskipun yang dijual paling indomie.

Lalu, bagaimana dengan sunset di Pok Tunggal? SUPERB! 





Nah, masih penasaran soal Pok Tunggal? Datang aja langsung kesana. Kalau masih butuh informasi soal Pok Tunggal coba cek di sini. Kalau sudah di Gunung Kidul jangan takut bakalan nyasar soalnya di sepanjang jalan sudah ada banyak papan petunjuk. Lebih baik lagi kalau tidak malu bertanya ke penduduk setempat atau ke petugas yang sekiranya terpercaya.

Sekedar tambahan informasi. Karena mau menunggu sunset jadi pulangnya pasti sudah gelap. Pastikan lampu kendaraan berfungsi dengan baik soalnya sepanjang jalan dari pantai menuju Wonosari masih minim pencahayaan.




Sekian. Selamat (pengen) jalan-jalan! :)