Tuesday, October 14, 2014

Langkah Baru dalam Hidupku

Hai,

Ternyata nyaris satu tahun sejak terakhir saya menulis di blog ini. Tadinya mau sekalian aja digenepin biar pas setahun, tapi ternyata rindu juga diriku buat menulis. *halah*
Padahal sebenernya masih aktif kok, menulis di twitter. Hahaha.. :p

Singkat cerita, saya sudah penempatan lhoooh. Yaa, setelah penantian panjang, setahun lebih lima bulan digantung, akhirnya bulan Maret 2014 saya dan teman-teman senasib lainnya memulai prosesi penempatan yaitu prajabatan. Dan yah, inilah saat-saat akhir bersama teman-teman seangkatan. Karena hanya selang satu minggu kemudian kami sudah berangkat ke daerah penempatan masing.



Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara


Itulah nama daerah penempatan saya. Saat ini saya tepat sedang berada disana. Ya, disini, Halmahera Selatan, Maluku Utara. Ingat ya, bukan Maluku, tapi MALUKU UTARA. Suka kesel juga karena sering sekali orang salah kira.

Seperti apa keadaan disini? Tenang, akan ada banyak postingan-potingan di blog ini yang akan bercerita tentang negeri entah berantah ini. Heheehe..



Kamis, 10 April 2014 - Hari Keberangkatan.



Kami ada 12 orang yang penempatan di Maluku Utara, yang kemudian dibagi-bagi lagi untuk empat kebupaten di wilayah Maluku Utara.



Kamis pagi, penerbangan pukul setengah dua pagi. Begitulah. Pagi sekali. Saya berangkat dari kosan dari Rabu malam, diantar teman-teman satu kosan Keramik. Hehehe.. barangkali cuma saya malam itu yang diantar sampe pakai dua taksi. Makasih ya teman-teman Keramik. :)


Foto terakhir di ruang TV, di sofa keramat.

Ibu-ibu pengajian Kelurahan Cipinang-Cempedak

Di atas awan

Kalau biasanya saya cari-cari alasan buat pergi ke atas awan (baca: naik gunung), kali ini situasinya benar-benar berbeda. Kurang lebih tiga jam perjalanan menggunakan pesawat saya lalui pagi itu. Perjalanan yang terasa sangat panjang. Selama perjalanan saya berusaha sekuat tenaga menenangkan segala gundah-gulana dalam batin. Sambil terus menghibur diri, meyakinkan diri, bahwa segalanya akan baik-baik saja.

sunrise

sunrise

Bandara Sultan Baabulah, Kamis 10 April 2014

Landing di  bandara ini disambut gagahnya Gunung Gamalama dan cuaca mendung yang makin bikin galau. :(



Pulau Kecil itu mereka sebut Ternate

Ternate, ibukota provinsi Maluku Utara, sebuah kota sekaligus juga sebuah pulau. Pulau kecil yang hanya memakan waktu satu jam untuk mengelilinginya dengan kendaraan bermotor.

Setibanya kami di Ternate, kami langsung sowan ke kepala kantor, ramah-tamah, check in hotel, lalu siap-siap untuk ikut pelatihan. Ya, entahlah mendadak kami langsung disuruh ikut pelatihan survei. Ini malah melegakan pikiran saya, karena jadi ada sedikit waktu untuk "klimatisasi" alias membiasakan diri dulu dengan keadaan setempat, sebelum benar-benar akan dikirim ke kabupaten.

Di Ternate, kami sempat jalan-jalan juga mengelilingi pulau. Tapi berhubungan beberapa hari kami disana cuaca memang sedang tidak bagus untuk jalan-jalan. Mendung terus.

Ada beberapa tempat yang bisa dikunjungi di Ternate dengan alasan wisata. Ada spot bebatuan bekas letusan Gunung Gamalama, ada Danau Tolire, ada Pantai Sulamadaha yang air lautnya masih sangat bersih jadi cocok banget buat snorkling, ada situs-situs sejarah juga disini salah satunya benteng Toluko. Satu lagi yang sangat jelas, Gunung Gamalama. 

Waktu itu kami cuma sempat ke Danau Tolire, belum ke tempta-tempat lainnya. Karena cuaca mendung. Lain kali, pokoknya saya akan menyempatkan waktu bikin trip khusus di Ternate.


Danau Tolire

Jangan kaget kalau disini ada yang jualan batu

Satu tumpuk batu harganya Rp 5.000,-
Di Danau Tolire ini ada mitos, setiap yang melempar batu ke danau pasti batu itu tidak akan pernah sampai jatuh ke air. Mitos ini yang dimanfaatkan oleh anak-anak di sekitaran danau ini untuk berjualan batu. Jadi kalau ada pengunjung yang penasaran bisa beli batu di anak-anak itu. 
Gila Duren
Kebetulan kedatangan kami di Ternate bertepatan dengan datangnya musim durian. Tanpa ragu lagi, kami langsung tancap gas ke area Swering Ternate, area pinggir pantai dekat pelabuhan. Di sana sudah ada banyak pedagang yang menjual durian.

Merasa pernah lihat pemandangan ini? Coba lihat uang seribu rupiah yang kertas.



Mejeng
Pulau Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan

Akhirnya cepat atau lambat sampailah aku di ibukota kabupaten Halmahera Selatan. Namanya Labuha. Berlokasi di Pulau Bacan. Kalau akhir-akhir ini sering denger soal Batu Bacan yang dipake SBY? Iya, itu asalnya dari sini.

Satu-dua-tiga hari ribet ngurus pundahan. Cari kosan yang harganya disini bikin syok. Ada yang cukup murah tapi banyak anjingnya, Gak mau. Akhirnya dapet yang harga sekamarnya satu setengah kali lipat harga kamar kosku di Jakarta dulu. Lebih parahnya lagi, disini kamar kosnya kosongan. Perih. Sungguh perih bagi saya yang baru mau memulai jalan karir ini.

Sunset di Labuha

Penempatan: Tempat Tinggal Baru, Kantor Baru, Teman-teman Baru, Keluarga Baru

Singkat cerita, sampai saat ini saya sudah menjalani penempatan di Bacan ini selama tepat enam bulan. Terhitung sejak tanggal 14 April 2104. Tentu beragam suka dan duka ada disini dan masih akan berlanjut sampai batas waktu yang hanya Tuhan yang tahu.


Keluarga BPS Halmahera Selatan
  
Teman seangkatan penempatan: Diah dan Tantri

...

Enam bulan. Setengah tahun. Baru sebentar. Belum lama.
Perjalanan sesungguhnya telah dimulai. Sedang berlangsung dan masih akan berlanjut.

Bismillah. :))

Wednesday, October 2, 2013

Ilusi Kopi

Ada yang berbeda dari rasa kopiku pagi ini.
Aku sudah mulai curiga sejak penghabisan bulan Juli.

Barangkali lidahku mulai kelu.
Merindukan satu rasa kopi di suatu sore Agustus lalu.

Mungkin aku sudah gila.
Sepanjang September ini seduhan kopiku merekah bunga.

Bersama buihnya menguap membangkitkan khayal.
Saat terjaga hanya satu inginku yang tertinggal.

Aku masih ingin meminum kopi ini di bulan-bulan selanjutnya.




Jakarta, awal Oktober 2013

Wednesday, September 18, 2013

Sushi~story

Ini kejadian udah lama sih, pas lagi libur lebaran kemaren, tapi baru sempet di-posting sekarang. Hehehe...

Jadi ceritanya saya diajakin reunian sama temen-temen SMP. Sepakat untuk menjajal tempat makan yang belum pernah dicoba, akhirnya kami makan di Sushi.story. Dari namanya sudah jelas, tempat makan yang ada di Jalan Seturan ini adalah spesialis penyaji shusi. Bagi yang tidak tahu apa shusi, bisa googling dulu cari tahu apa itu shusi. >,<

Sushi.story di Jalan Seturan ini tempatnya kecil, tapi cukup berciri khas. Dilihat dari luar akan tampak sebuah moncong kapal yang didalamnya ditata bangku-bangku dan meja sebagai tempat pengunjung untuk makan. Itu tadi masih di bagian teras Sushi.story. Sementara di dalam, hanya ada dua meja panjang dengan kursi-kursi yang lumayan tinggi yang dihiasi sebuah pohon kering.

Ada banyak pilihan sushi di sini, mulai dari yang seharga Rp 5.000,-. Selain shusi, ada juga takoyaki. Untuk menu minumannya, ada macam-macam juga dan enak-enak kok. 

Enaknya makan di Sushi.story yang di Jalan Seturan ini, dia bersebelahan dengan warung udon. Jadi kalau sudah bosan dengan menu shusi bisa mencoba menu udon.







Udon

Udon

Onigiri


Takoyaki


Mr.Crab in Love

Selain di jalan Seturan, Sushi.story bisa juga ditemukan di Galeria Mall. Namun dengan konsep yang tempat makan yang berbeda. Kalau yang di Jalan Seturan dia berdiri di satu kios sendiri di pinggir jalan, maka di Galeria Mall ini, Sushi.story hanya sebesar petak dapur dengan meja makan yang menempel dengan dinding dapur. Sedikit tidak nyaman makan di sini, kecuali kalau mau makannya di meja area foodcourt.











Nah,segitu aja ya. Maaf kalau postingan ini tidak informatif dan tidak memberi manfaat.

Thursday, August 22, 2013

Jelajah Gunung Kidul: Pantai Ngobaran

Satu hari setelah dari jalan-jalan ke Sri Gethuk, bapak ngajakin jalan-jalan lagi ke Gunung Kidul. Kali ini kami pergi ke pantai. Masih satu jalur dengan Air Terjun Sri Gethuk, namanya Pantai Ngobaran (klik untuk info lebih lengkap). Berada di Desa Kanigoro Kecamatan Saptosari Kabupaten Gunung Kidul. Pokoknya gampang deh kalau mau ke sini, karena sudah banyak papan petunjuk jalannya. Jalan menuju Pantai pun sudah beraspal, meskipun tidak selebar jalan menuju komplek Pantai Baron, Krakal & Kukup ya. Jadi mesti sabar dan mau bergantian jalan kalau ternyata dari arah berlawanan ada mobil yang akan lewat.

Pantai Ngobaran merupakan satu pantai yang punya keunikan tersendiri jika dibandingkan dengan jajaran pantai lainnya di Gunung Kidul. Di kawasan pantai ini terdapat pura yang masih sering digunakan untuk beribadah oleh umat agama Hindu. Di tepi tebing dibangun semacam pelataran kecil dimana terdapat patung-patung yang melambangkan bebagai sifat-sifat baik manusia. Berdekatan dengan pura ada bangunan masjid tua yang sudah tidak pernah dipakai. Lucunya masjid ini beralaskan pasir putih dan menghadap ke selatan.





























Nah, maaf kalau tidak banyak yang bisa saya deskripsikan soal pantai ini. Tapi yang jelas satu kata untuk mendeskripsikan pantai ini: bersih. Bayangin aja, seneng gak sih liat hamparan pasir putih yang bersih tanpa sampah berserakan? 

Tidak jauh dari pantai Ngobaran ini ada pantai Ngrenehan. Di pantai Ngrenehan ini pengunjung bisa menikmati aneka makanan dari ikan laut.  Jadi, saran saya kalau mau ke kompleks pantai di Kecamatan Saptosari ini, sebaiknya ke pantai Ngrenehan dulu, dipasin pas jam makan siang, trus makan dulu di Pantai Ngrenehan. Baru setelah puas makan pindah ke Pantai Ngobaran. Di pantai Ngobaran bisa main-main air sebentar atau sekedar foto-foto berlatar patung-patung arca dan deburan ombak. Begitu menginjak sore, baru deh pengunjung bisa naik ke bukit yang ada semacam bangunan rumah (yang katanya adalah tempat bersemedi).

Waktu saya ke sini, kebetulan posisi matahari tepat berada di belakang bukit yang ada di seberang barat pantai, jadi bulatan matahari tenggelam tidak terlihat jelas. Tapi saya masih beruntung sekali lagi dalam  hidup saya masih diberi kesempatan bisa menikmati jingga matahari.

Oia, sekedar info, jangan berharap bisa menikmati sunset  di pantai Ngrenehan. Karena panjang bibir pantai yang sempit dan diapit dua bukit yang sangat tinggi. Mungkin kalau salah satu bukit bisa didaki pengunjung bisa menikmati sunseti, sayangnya tidak ada jalan untuk mendaki.

Sekian. Terimakasih sudah berkunjung. :)