Monday, September 5, 2016

Trip Nekat Berau: Pulau Derawan (Day 3) - Part 2

Maksudnya, part 2 dari perjalanan hari ketiga, gitu sih. Hehehe. Sebenernya mau bikin postingan ini dari kemaren, tapi pas mau ngenet di kantor, elah kok listriknya mati, lama banget lagi, yaudah gak jadi, deh. Sesuai dugaan postingan yang tertunda biasanya malah makin molor. Trus makin males nulis bahannya. Hina banget ya, blogger anget-anget tai ayam ini.

Well, setelah puas mandi sama ubur-ubur di Kakaban dan gegemesan sama tukik di Sangalaki, akhirnya sampailah perjalanan kami di Pulau Derawan. Berbeda dengan pulau-pulau lainnya, di Derawan ini ada banyak dermaga kecil tempat sandar kapal. Kami sandar di dermaga paling dekat dengan rumah Mas Elka. Beliau dengan baik hatinya mempersilahkan kami untuk istirahat sejenak di rumahnya.

Hal pertama yang menjadi perhatian ketika menginjakkan kaki di Derawan ini adalah: penginapan. Yap, di sini ada banyak sekali penginapan, ada yang berupa rumah papan yang menjorok di atas laut, ada juga yang di sisi dalam perkampungan. Rate penginapan di sini pun bervariasi, tentu tergantung fasilitas yang ditawarkan. Ada yang biasa saja, ada juga yang luar biasa, seperti satu resort di Pulau Derawan yang bahkan melarang non-tamu untuk berenang/menyelam di wilayahnya. Agak lucu sih sebetulnya, selama laut tidak dipagari bagaimana mau melarang orang untuk berenang dimana.

Agenda kami di Pulau Derawan hanya satu saja: nyebur! Tapi sebelum itu, kami isi perut dulu. Selain akomodasi, rumah makan di sini juga sudah ada banyak. Cuma ya itu, pelayanannya luamaaaak. Sama kayak pas di Maratua. Mungkin penjualnya pergi nangkap ikan di laut dulu kali.

Sebelah kiri - dilarang, sebelah kanan - bebas

Siang hari di Derawan itu sangat sepi. Sepi dari aktivitas turis-turis. Bukan, maksudnya bukan lagi sepi pengunjung, tapi sepi dari geliat pengunjung. Kebanyak turis yang ke Derawan menghabiskan waktu siang hari kalau gak island-hopping di Maratua-Kakaban-Sangalaki, biasanya sedang diving di perairan dalam. Sudah banyak yang tahu kan kalau Derawan ini spot diving yang hits banget, makanya gak heran di sini ada banyak sekali basecamp yang menyediakan fasilitas untuk diving. Berhubung diantara kami bertiga belum ada yang pernah belajar diving, dan sewa alat-alatnya itu gak murah, dan daripada nanti malah kesorean pulang ke Tanjung Batu, dan seribu alasan lainnya yang lebih mengarahkan kami untuk sebaiknya di Derawan kami cecemplungan saja di perairan yang cethek.

Sempat ketemu penyu yang tempurungnya pecah :(

Habis makan siang, kami lanjut jalan ke spot yang katanya bagus untuk snorkling, yaitu di sekitaran resort. Saya lupa nama resort-nya, pokoknya resort mewah gitu, di sisi sebelah kanan non-tamu boleh bebas masuk, sedang yang sisi kiri dilarang untuk umum. Masuk di kawasan resort ini sudah mulai tercium hawa-hawa diver, banyak yang sepertinya baru saja naik setelah menyelam.




Ikan-ikan yang terjebak arus

Dari atas aja udah ngegemesin gini terumbu karangnya







Sebenernya kurang puas lihat terumbu karangnya. Sepertinya memang terumbu karang terbaik di Derawan harus dilihat dengan cara diving di perairan yang lebih dalam. Belum lagi di sekitaran tempat kami snorkling ini sering sekali ada kapal speed lalu lalang, bikin ikan-ikan pada kabur. Begitu badan udah gak bisa dibohongi lagi capeknya, akhirnya kami akhiri acara cecemplungan kami di Derawan. Balik ke rumah Mas Elka, mandi, beres-beres, langsung lanjut balik ke Tanjung Batu.

Bye Derawan!!
Sampailah kami pada akhir perjalanan di Derawan ini. Kembali ke Pelabuhan Tanjung Batu dalam kondisi yang sangat lelah, selama perjalanan pun suasana jadi hanyut dalam sendu sore. Dua hari di Derawan dan sekitarnya ini benar-benar sempurna bagi kami, sepertinya Tuhan memang sengaja membuat segalanya mudah bagi kami.


Dikasih ending sunset :)

Eitssss... tunggu dulu, udah syahdu-sendu aja narasinya.
Akhir perjalanan kami yang sesungguhnya baru dimulai justru ketika kami turun dari speed di Pelabuhan Tanjung Batu.

Bahagia banget, Non? -.-"

Badan udah loyo, eh masih harus naik motor 3 jam lagi. Emmm, saya sih tinggal bonceng. Duh, maaf ya, Lophe yang udah boncengin saya, udah bawa badan aja berat masih ditambah bawaan baju basah di tas, gilak pinggang rasanya mau copot. Memang sih cuma bonceng, tapi kalau jalannya keseringan nanjak yang sama aja, mesti nahan bawaan tas juga. Tapi untung di setengah perjalanan Lophe baik hati mau tukeran tas, hehehe. Emmm, dan di setengah perjalanan sisanya ini juga saya makin gak tahu diri. Bukannya jadi co-driver yang baik, malah molor. Iya, maafkan saya yang ketiduran waktu di bonceng. Makin liar aja ya, kemampuan khusus saya ini, gak cuma bisa molor di atas speed yang lagi ajeb-ajeb dihempas ombak, bahkan di atas motor yang lagi jalan di jalur yang naik-turunnya asoy itu juga saya bisa molor. Parah emang saya orangnya. -_-

Bonus sunset on the road
Selama perjalanan darat Tanjung Batu ke Tanjung Redeb ini akhirnya saya menjadi saksi dengan mata kepala saya sendiri tentang situasi memilukan di bumi Borneo. Selain sisi keindahan alamnya yang menakjubkan, ada sisi kelam Borneo yang sering dilupakan ketika tidak menjadi headline, pembakaran hutan. Selama ini saya cuma tahu dari portal berita, yang ternyata baru masuk berita seperti tahun lalu itu baru ketika terjadi kebakaran yang benar-benar parah, sedangkan kebakaran hutan "kecil-kecilan" sendiri sudah menjadi hal lumrah di sini karena menjadi satu-satunya cara termurah untuk membuka lahan. 

Pembakaran hutan
Duh, kok ending-nya jadi anti-klimaks gini. -.-"
Sebenernya udah jadi anti-klimaks sejak saya ketiduran di motor, sih. Bahkan sampai di Tanjung Redep, turun makan saya masih bisa lanjut molor. Zuper zekali yach.


Langsung saja skip ke credit-nya, sebagai manusia yang selayaknya tahu cara berterimakasih, selama perjalanan saya ke Derawan-Maratua-Kakaban-Sangalaki ini tentu tidak akan terlaksana dengan sukses tanpa jerih payah dua kawan saya ini, Ipan dan Lophe. Kalian adalah tuan rumah yang luar biasa. Semoga rezeki kalian makin lancar, segera didekatkan dengan jodoh kalian, dan bahagia dunia-akhirat. Amiiin.

Haaahh! Selamat tinggal Derawan dan kawan-kawan (Maratua, Kakaban, Sangalaki). Mungkin kita tidak akan bertemu lagi. Tapi terimakasih, dua hari itu saya sudah dijinkan melihat yang terbaik dari kalian. Saya tidak akan membanding-bandingkan dengan tempat lain, kalau kata Lophe, hanya akan menyiksa diri sendiri. Derawan, Maratua, Kakaban, Sangalaki, tetaplah menjadi indah dengan cara kalian.

Terimakasih banyak bagi yang masih setia mengikuti catatan perjalanan saya sampai sini. Sebelumnya, saya tidak pernah berpikir akan sampai ke Pulau Derawan. Siapa sangka akhirnya hari itu datang juga. Sejak lama saya suka mengikuti cerita traveler-traveler, bagaimana mereka menunjukkan tentang keindahan dan keelokan Indonesia, seperti Derawan, Togean, Wakatobi, Pulau Komodo sampai Raja Ampat. Dulu saya pikir, cukup lihat di TV saja atau lihat di blog orang aja, karena sepertinya tidak mungkin saya bisa kesampaian lihat sendiri. Tapi sepertinya kekaguman saya setiap ditunjukkan foto-foto tentang alam Indonesia lama kelamaan menggunung juga. SAYA HARUS MEMBUKTIKAN SENDIRI. 

Saat ini saya memang sedang tinggal di Jailolo, masih termasuk kawasan Indonesia timur. Ketika tahu saya pergi ke Derawan, beberapa ada yang heran dengan saya, bertanya, "Di tempatmu (Jailolo) kan pantai dan bawah lautnya lebih bagus, ngapain jauh-jauh ke Derawan?" Saya paham betul maksud pertanyaan ini, yang bisa saya jawab dengan, "Saya sendiri tidak bisa memastikan betul-betul mana yang lebih bagus, tapi memangnya kenapa kalau saya pergi jauh-jauh sampai Derawan?" Pergi jauh dari rumah saja saya bisa. *eh

Better  to see something once than to hear about it thousand times.

Dan, semoga mimpi-mimpi ke tempat-tempat indah lainnya pun bisa terwujud. :)


Upss, masih ada lanjutan dari trip nekat episode Berau ini, lho. Hihiihi...

Saturday, September 3, 2016

Trip Nekat Berau: Pulau Kakaban - Sangalaki (Day 3) - Part 1

Sebelumya saya mohon maaf kalau jeda di postingan ini agak lama, soalnya di hari ketiga perjalanan saya ini ada dokumentasi dalam format video. Jadinya ya saya harus belajar pakai video editor dulu, hehehe. Dan ohya, sebelum saya lanjut, kalau--kalau nih--ada yang bertanya-tanya kok foto-foto dan video dokumentasi saya selama trip ke Derawan dan sekitarnya ini biasa banget, saya mohon maklumnya ya. Namanya juga amatir, blogger amatir, fotografer tukang foto amatir, kameramen amatir, traveler backpacker juga amatir, jadi ya harap maklum. Kalau mau lihat foto-foto yang kece monggo silahkan saja cari di tetangga sebelah yang lebih hits, tapi kalau mau tahu gimana gambaran perjalanan ala rakyat jelata yang sesungguhnya ya monggo dimari lanjut ngikutin postingan saya ini. Lagian, klo kak prue kan punya ferry rusli yang motoin, lhaa aku siapa yang motoin? Duh, malah tjurhat...

Hari ketiga - Minggu, 14 Agustus 2016

Rencana kejar sunrise gagal. Pagi itu turun hujan. Aturan kalau cerah kami mau stand by nungguin sang matahari terbit di sisi dalam Pulau Maratua. Udah kebayang pasti cakep banget, tapi ya udah, berhubung hujan dan badan masih pegel-pegel juga yowis dilanjut tidurnya. Lumayan dapat tambahan jam tidur, apalagi setelah semalem bukannya langsung istirahat malah kami begadang ngobrol gegalauan gak jelas. 

Rencana perjalanan kami hari ketiga ini adalah island-hopping di pulau-pulau sekitaran Maratua-Derawan. Sudah janjian dengan Mas Elka, nanti beliau jemput kami sekiatarn jam 9-an di dermaga yang sama waktu kami turun ke Pulau Maratua. Menikmati saat-saat terakhir di pulau ini, aslinya sih karena sambil nunggu pesenan sarapan yang lama banget, ada baiknya dimanfaatkan untuk foto-foto saja, mumpung laut lagi surut juga, jadi gemes liat pasir putih yang membentang luas itu.






Farewell Maratua Island, thank you for being so kind to us. Also the lesson we learned when in Goa Aji Mangku, for reminding us to be carefull with our own mind.



Sebelum pulang, wefie dulu di depan gerbang pintu masuk Pulau Maratua, bareng Mas Wilson

Bye Maratua!


Pulau Kakaban - Danau Kakaban, Laguna Ubur-Ubur

Memang masih agak mendung waktu kami mulai melanjutkan perjalanan, angin laut juga cukup kencang menghempas kapal. Tapi kalau saya amati, motoris kami, Mas Elka ini memang gak bohong jagonya soal mengendalikan kapal speed, ombak tinggi pun tetap diribas. Apesnya saya yang dapat giliran duduk di kursi depan, hmmmmm, mantep banget deh jeduk-jedukannya. Tepos, tepos deh nih pantat. -_-

Pulau pertama yang kami sambangi setelah dari Maratua adalah Pulau Kakaban, pulau terdekat dari Maratua, kira-kira sekitar 30 - 45 menit, tergantung situasi angin dan ombak. Sepanjang pesisir Pulau Kakaban ini didominasi terumbu karang yang tidak begitu dalam, dari atas kapal pun bisa terlihat jelas. Sebetulnya gemes juga pengen nyebur di situ, tapi berhubung bapak leader trip mengagendakan "nanti di derawan juga bisa lihat terumbu karang" dan kelamaan snorkling di danau ubur-ubur sampai lupa waktu terbatasnya waktu yang ada jadi ya cukuplah, saya tahan diri saja untuk gak nyebur lagi.

Gerbang masuk Pulau Kakaban



Bayar tiker masuk dulu
Pulau Kakaban ini sebetulnya adalah lahan yang dimiliki oleh pribadi. Cuma mungkin dengan hak guna lantas dikembangkan menjadi tempat wisata sampai seperti sekarang ini. Untuk masuk ke Laguna Kakaban harus bayar tiket masuk dulu. Harganya berapa saya gak tahu, biarkan laki-laki yang bayar. Hahaha.

Untuk menuju laguna-nya, kita harus berjalan dulu mengikuti jalur jembatan kayu yang telah dibuat dengan sedemikan cantiknya. Dari sini bisa saya gambarkan, daratan pulau ini masih didominasi dengan hutan, lalu di bagian tengahnya ada hole atau teluk besar yang membentuk sebuah danau menyambung dengan lautan. Jadi, danau tapi airnya laut, makanya disebut laguna.

Saya kurang tahu kenapa, di laguna ini menjadi habitat ubur-ubur yang jenisnya tidak menyengat. Di Indonesia sendiri ada beberap alokasi yang menjadi habitat stingless jellyfish, selain Kakaban, ada juga di Togean dan Misool - Raja Ampat (semoga bisa segera kesana untuk membuktikan sendiri - amiiin). 




Hari itu kami beruntung jadi rombongan yang pertama kali sampai di Kakaban. Danaunya masih sepi dan airnya juga belum diobok-obok sama ulah manusia. Sempat ragu-ragu juga awalnya, beneran gak nyengat gak nih ubur-ubur. Kalau ternyata ubur-uburnya mood-mood-an bawaannya lagi sensi trus kami jadi pelampiasan sengatan kan bisa berabe. Tapi ternyata memang benar adanya, ubur-uburnya beneran aman, ditowel-towel, dipegang-pegang, si ubur-ubur pasrah aja. Mungkin yang gak boleh itu dicubit. 



Tips. Kalau teman-teman ada yang berencana berenang di danau ubur-ubur macam Kakaban gini, tolong jangan loncat dari dermaga ya, turun aja ke air pelan-pelan. Soalnya di air kan banyak sekali ubur-uburnya, dan ubur-ubur itu adalah makhluk yang rapuh. Kenapa saya bisa ngasih tips begini? Soalnya waktu kami lagi di Kakaban kemaren itu, ada rombongan yang loncat dari dermaga trus kakinya gak sengaja kena ubur-ubur dan seketika itu juga berakhirlah riwayat Jimmy, si ubur-ubur malang itu.

Towel-towel jellyfish

*lagi terhipnotis sama ubur-ubur*

Rasanya berenang bareng ubur-ubur itu menenangkan. Relaxing and healing banget. Coba liat video yang ubur-ubur, deh. Ikut menikmati setiap gerakan ubur-ubur lalu terbawa hanyut dalam ketenangan di dalam air. Eh, tahu-tahu udah sampe jauh banget dari dermaga, katanya saya udah dipanggil-panggil untuk jangan jauh-jauh, tapi saya gak denger. Hehehe saking asiknya. Mungkin kalau bukan karena mulai ada rombongan lain yang berdatangan kami masih betah banget di Kakaban. Tapi yasudah, mari melanjutkan perjalanan lagi.


Ikan Pari Manta!!!!!

Dalam perjalanan kami ke Pulau Sangalaki, Mas Elka tak luput melewati Manta Point, spot yang sering ada ikan pari manta. Mesti sabar dan pasang mata jeli, bisa-bisa salah lihat dikira pari manta ternyata cuma ombak. 
Daaannn, kami akhirnya bisa lihat langsung pari manta dooong!
Keren banget! 
Pari Manta-nya!




Pulau Sangalaki

Setelah puas lihat pari manta, yang spotnya tidak jauh dari Pulau Sangalaki, kami pun mampir ke pulau itu. Ihh, sumpah ya, pulau-pulau di sini itu punya ciri khas masing-masing dan semuanya ngegemesin. (Pulau kok nggemesin sih, hahaha.) Kalau Pulau Kakaban itu begitu sandar dermaga disambut terumbu karang, maka di Pulau Sangalaki ini kapal speed gak bisa sandar di dermaga, soalnya perairannya di sekitar pulau sangat dangkal, tapi bukannya terumbu karang justru didominasi pasir putih. Itu kereeeeen banget. Jadi kayak kolam renang raksasa trus dasarnya pasir putih. Silahkan lihat seperti apanya di video ini:




Pulau Sangalaki dari kejauhan

Laut cethek + pasir putih
Terus, kita mau ngapain, sih di Sangalaki? Mau snorkling, terumbu karang gak ada, ikan juga cuma sebangsa teri-terian. Mau berenang, airnya aja cethek begitu. Lalu?

Pulau Sangalaki itu adalah pulau konservasi penyu. Di sini adalah tempat penyu-penyu bertelur. Walaupun tidak melihat langsung proses penyu bertelur, di sini kami sempat ditunjukkan lokasi yang masih ada jejak lubang tempat penyu menggali sarang untuk telur-telurnya. Selain itu juga kami ditunjukkan tukik-tukik yang baru menetas tadi malam, aaakkkk lucuuukkk!!!

Tukik yang sedang dalam masa karantina di kolam

Tukik baru lahir tadi shubuh

*ditiup-tiup soalnya mereka gerah, belum biasa tinggal di pulau*

Di Sangalaki, kami juga sempat lihat ada penyu yang hampir mati, tempurungnya pecah, dan sebagian sudah mulai membusuk dan bau bangkai. Pokoknya sedih lihatnya. Kalau inget lagi jadi merinding. Kasihan.

Maksudnya mau wefie tapi malah jadi begini, maafkan -_-


Okeee, sekian dulu, maaf endingnya gantung begini. Oh oh, tunggu, ini belum ending yang sesungguhnya, masih ada lanjutannya, lho. Hehehe...

Btw, harap maklum kalau editan video-nya masih amburadul yaa.. masih belajar.. hehehe. :p

Thursday, September 1, 2016

Trip Nekat Berau: Pulau Maratua (Day 2) - Part 2

Maafkan kalau cerita saya ini udah kayak sinetron, bersambung terus. Hehe. Karena rasanya saya ingin tulis semua setiap detail peristiwa yang saya alami dalam setiap perjalanan yang saya lalui. Bukan untuk pamer, bukan untuk berlagak, bukan juga untuk mengharap simpati, tapi semata hanya-ingin-tidak-melupakan kisah yang belum tentu sepuluh tahun lagi akan terulangi atau bahkan memang tidak akan terulangi sama sekali, di tempat yang sama dengan orang yang sama pada suasana yang sama.

Kembali ke cerita... (baca dulu catatan part 1)

Beradaptasi dengan suasana di Pulau Maratua ternyata bukan hal yang sulit. Hawa-hawa pulau-pulau kecil dimana-mana memang sama saja. Sama terik panas maksudnya, tidak segerah di daratan besar, karena kalau di pulau masih ada kesejukan yang dibawa angin laut. 

Selesai makan siang di tepi pantai, kami langsung mengikuti Mas Wilson yang menjadi penunjuk jalan. Dengan dua sepeda motor, kami melalui jalanan di dalam pulau. Situasi yang amat sangat berbeda dari gambaran "sebuah pulau yang jauh dari peradaban kota" yang pernah saya kunjungi, Pulau Maratua ini sangat "terfasilitasi". Jalanannya sudah banyak yang diperkeras, baik itu dengan cor-coran semen ataupun aspal, di beberapa titik saat itu malah sedang dilakukan pengerjaan. Kualitas sinyal 3G Telkomsel di pulau ini juga sangat bagus, gak kayak 3G abal-abal di Jailolo. Ohiya, di Pulau Maratua juga sedang dibangun bandara, lho. Jadi, bagi yang kepengen banget bisa ke Pulau Maratua dan sekitarnya tapi gak mau ribet di perjalanan, gak mau nambah capeknya dan memang kebetulan lagi banyak duit bisa dipertimbangkan lagi untuk menunda sampai bandaranya beroperasi. Yah palingan 2-3 tahun lagi lah. Palingan, lho. :p


Kampung Teluk (saya gak tahu sebutannya, tapi nama ini terdengar cantik, kan?)

Spot pertama yang jadi rekomendai Mas Wilson untuk kami kunjungi ternyata adalah sebuah dermaga nelayan. Untuk menuju ke tempat ini, seingat saya tinggal mengikuti jalan aspal ke arah selatan sampai menemukan sebuah desa di pesisir pantai bagian dalam pulau. Ingat, kalau saya bilang bagian dalam itu artinya bagian hole/teluk besar di Pulau Maratua, ya. Di dermaga ini kami tidak perlu berbuat apa-apa. Bisa, sih kalau pengen nyemplung ke lautnya, tapi saya sarankan sebaiknya jangan. Kenapa? Soalnya pemandangan di hole raksasa ini sangat magical. Warna biru langit dan biru air laut seakan-akan menyatu. 

Can you find the horizone, like I found it in you? #eaa


Kolam renang raksasa

Perairan di hole ini bisa dibilang dangkal dengan pasir putih mendominasi dasarnya, kalau di peta gambarnya biru muda, dan memang persis seperti itulah kalau melihat dengan mata kepala langsung. Di sini airnya sangaaaaaat tenang, sangaaaaat jernih sampai-sampai guratan-guratan pasir terlihat jelas, dan juga sangaaaaaat banyak ikannya. Ikan kecil-kecil, sih, kayak ikan teri, yang memang biasanya lebih senang berenang di sekitaran dermaga, karena setelah sering saya amati ikan jenis ini lebih senang berenang di tempat yang teduh, alasannya mereka itu takut item gitu. Makanya gak pernah kan ada ikan teri yang warnanya item? Pasti ikan teri warnanya putih.
  
Ikan-ikan manja

Ratu ikan yang paling takut item
Selama duduk-duduk di dermaga ini, saya amati banyak rumah penduduk yang modelnya rumah panggung di atas laut. Seketika pikiran saya langsung ke Suku Bajo, karena rumah-rumah begini identik sekali dengan kampung-kampung Bajo yang pernah saya lihat. Dan setelah saya konfirmasi ke Mas Wilson, ternyata benar dugaan saya. Sebagian besar masyarakat Pulau Maratua ini adalah Suku Bajo. Well, tambah lagi rasa kekaguman saya pada suku yang satu ini, pada keteguhan mereka untuk konsisten mempertahankan ciri khas dan eksistensi mereka untuk bisa bertahan dimana pun mereka berada.

Hanya saja, saya masih penasaran dengan saluran pembuangan akhir di rumah-rumah panggung di sini, soalnya laut di sini kan jernih banget ya, dan so far saya tidak menemukan "nugget" dan "sossis" di lautan Pulau Maratua. Trus dibuang kemana ya? Hmmmm...


Goa Aji Mangku

Oke, mari kita lupakan sejenak misteri itu. Sudah puas dicekoki vitamin sea, kami dibawa Mas Wilson ke Goa Aji Mangku. Lokasinya ada di dalam hutan dengan akses jalan bebatuan besar, jadi kecuali motor trill tidak memungkinkan untuk lanjut jalan. Setelah parkir motor, oh tenang bukan parkiran resmi, cuma di bawah pohon rindang saja, jadi bebas parkir dan aman, kami diharuskan jalan trekking menuju lokasi Goa Aji Mangku ini. Saya lupa durasinya berapa jam, yang jelas kerasa lumayan capeknya. Awalnya tinggal mengikuti jalur jalan terjal yang konon katanya sedang direncanakan akan dibuat jalan yang layak sampai ke pantai, sampai di sebuah area terbuka kami mulai berbelok ke kanan, mengikuti jalur setapak. Bagi yang belum pernah ke sini dan tidak menyewa guide, saya kira pasti akan kesulitan menemukan jalur setapak ini, karena memang belum ada penunjuk jalannya.

Di jalan setapak ini sudah ada banyak kayu papan yang digunakan untuk membantu pejalan kaki untuk berpijak, kalau gak, dapat dipastikan kaki bakalan lecet-lecet semua karena keseringan menindas batu karang yang jadi dominasi jalur setapak itu, bahkan kalaupun Anda memakai sepatu. Oh, kecuali sepatu boot atau sepatu gunung mungkin masih aman. Emang ada ya yang pergi ke pulau pake sepatu gunung?

Singkat cerita, sampailah kami di lokasi Goa Aji Mangku. Kalau dilihat sekilas lebih mirip sumur, jauh dari bayangan goa yang ada di pikiran saya. Disebut goa mungkin karena anatomi vertikal-nya, lalu (konon katanya) ada jalur goa yang kalau ditelusuri bisa sampai ke laut, kayak di film Sanctum gitu, jadi mesti menyelam kalau mau membuktikan sendiri. Tapi kalau saya, sih percaya aja deh.

Mulut Goa Aji Mangku


Sebelumnya saya gak ada gambaran sama sekali tentang goa ini. Bahkan sebetulnya saya gak ada gambaran sama sekali tentang Pulau Maratua ini, seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, saya gak ada persiapan apapun untuk menghadapi Pulau Derawan dan kawan-kawannya ini. Kalau biasanya sebelum jalan saya sibuk browsing sana-sini, untuk kali ini tidak sama sekali. Murni saya cuma modal percaya, pasrah dan tanpa harapan apa-apa, yang saya tahu cuma satu: Pulau Derawan pulau impian mainstream yang lagi hits banget. Udah itu aja. 

Ehh, lhaa kok begitu saya liat wujudnya Goa Aji Mangku ini, saya langsung ingat salah satu episode di awal mula kemunculan My Trip My Adventure, waktu host-nya masih Hamish dan Vicky, jauh sebelum acara ini mulai sedikit lebay dengan tambahan drama dan prahara yang keliatan mengada-ada itu. Di episode itu kalau gak salah Vicky loncat dari tebing Goa Aji Mangku ini, sementara di Hamish lebih milih diving ke dasar Goa Aji Mangku. Dansetelah saya konfirmasi ke Mas Wilson, ternyata memang benar, MTMA pernah sampai goa ini, tapi itu sudah lama sekali.

Mulut goa di sisi sebelahnya, yang lebih lebar

I wish I was in the picture :(
So, apa yang bisa kita lakukan di Goa Aji Mangku ini?
1. Berenang-renang di "kolam" sedalam 30 meter (bahkan mungkin lebih)
2. Ngambang-ngambang gak jelas di "kolam" sedalam 30 meter (bahkan mungkin lebih)
3. Diving ke dalam goa (kalau ada alatnya)
4. Terjun nekat dari atas tebing
5. Jadi tukang foto, motoin mereka yang udah keasikan nyebur duluan.

Pilihan saya jatuh ke nomer 2, 4, dan (tentu saja) 5. Alasannya?
1. Ngambang itu adalah gaya berenang andalan saya, karena gak bikin capek. 
2. Terjun dari atas tebing, karena saya kan orangnya suka tantangan gitu. Pffttt. 
3. Tukang foto, karena takdir.

Rekor terakhir terjun nekat saya adalah dari atas deck tiga kapal terjun ke laut di sekitaran Pantai Nusara, waktu itu masih pakai life-vest. Kali ini saya merasa tertantang lagi untuk nekat terjun di Goa Aji Mangku ini, tanpa life-vest, bukannya sok-sokan, tapi memang baru ingat soal pelampung pas udah loncat. Dan ternyata sensasinya seru banget. Tanpa life-vest badan jadi lebih lama naik ke permukaan, terus jadi mirip di film-film gitu, ada moment beberapa detik yang rasanya hening banget waktu masih di dalam air. Asik lah pokoknya.

Cuma sayangnya, hape yang buat ngrekam waktu saya terjun mengalami tragedi menyedihkan. Pas sorenya kita berenang di laut, si hape gak sengaja "diajak" berenang juga. Tentang tragedi ini, saya sudah sempat tulis di caption instagram saya. Jujur saja, waktu itu saya punya rasa sombong, ada niatan saya untuk segera pamer di sosmed tentang keseruan saya terjun dari tebing Goa Aji Mangku. Namun, ternyata Tuhan membalas kesombongan saya itu dengan tragedi hape itu, hilang sudah video dan foto-fotonya. Padahal selama di Goa Aji Mangku dokumentasi yang jalan lebih banyak meggunakan hape itu. Tahu yang lebih memilukan lagi? Saya tidak punya foto satu pun saat sedang di Goa Aji Mangku ini. Sejak saat itu, saya berjanji akan lebih berhati-hati dengan pikiran dan niatan saya.

Emmm, sebetulnya hape iphone yang keceblung itu punya teman saya, yang bahkan sampai berita ini turun dia masih dikabarkan memakai hape kacangan yang hanya bisa sms dan telepon saja. Tapi kok yang kayaknya ngerasa sedih dan pilu banget malah saya ya? Hahaha -_-"


Dermaga Kecil

Sebelum pergi meninggalkan Goa Aji Mangku, Mas Wilson menawari kami untuk melihat dermaga kecil di dekat lokasi goa. Tidak terlalu jauh dengan jalan kaki, tinggal mengikuti jalan setapak yang memang sengaja telah disiapkan. Jalur ini biasa digunakan bagi pengunjung yang datangnya dari laut, kapal mereka akan sandar di dermaga kecil ini.

(Black) Boys in Blue

From where I sit at Dermaga Kecil

*sedang meresapi kepiluan*

Jembatan Teluk Pea

Masih dengan semangat membara dan langkah penuh suka cita kami kembali melanjutkan perjalanan. Kembali dengan cara yang sama seperti saat datang, mengikuti jalan setapak yang penuh bebatuan karang lanjut belok di jalan besar yang tersusun dari batu-batuan besar. Mungkin pengaruh karena mulai lelah, trekking balik ini jadi terasa lebih lama. Begitu sampai di tempat kami parkir motor, langsung lanjut mengikuti kemana Mas Wilson membawa kami.

Kami kembali ke arah tempat penginapan, sesuai rencana memang spot terakhir kami hari itu adalah di Paradise Resort. Dalam perjalanan kami sempat berhenti dulu di Jembatan Teluk Pea. Kenapa? Karena tempatnya fotogenik gitu, ada hutan mangrove di kedua sisi sungai, trus di hilir sungai sudah bisa lihat lautan yang biru, sementara di hulu sungai matahari sudah mulai turun. Sayang, gak bisa lama-lama di sini soalnya mengganggu lalu lintas dan lagian waktu kami juga mulai terbatas, takut gak dapet sunset di pantai.

Mayan juga ni foto


Lihat Penyu Bentar

Di Pulau Maratua ini ada spot yang sering didatangi penyu. Nah, sambil jalan menuju Paradise Resort, kami mampir di spot dengan dermaga yang sangat panjang ini (yang mesti naik motor kalau mau cepet sampai ujungnya). Ditengok sana-sini gak ada tanda-tanda keberadaan penyu. Pas kami akhirnya memutuskan lanjut jalan, eh ternyata ada seekor penyu yang lagi berenang di dekat jembatan dermaga. Hanya bisa memandang dari atas laut, penyunya pun kayaknya lagi buru-buru, mau angkat jemuran mungkin, kan udah sore.

Sebenernya besoknya kami juga bakalan lihat penyu lebih dekat di Pulau Sangalaki, tapi ya biarlah kami menikmati kegumunan ini.

Nyu Penyu

Paradise Resort

Ini adalah resort yang dikelola oleh pihak swasta. Kalau kalian cari akomodasi di Pulau Maratua dari Traveloka atau semacamnya pasti yang muncul resort ini dengan tawaran harga permalamnya yahh sekitar jutaanlah. Belakangan saya tahu kalau ternyata kebanyakan wisatawan hanya tahu kalau di Pulau Maratua hanya ada resort ini sebagai tempat akomodasinya, makanya mereka jadinya lebih memilih menginap di Derawan yang harganya relatif lebih murah. Padahal nyatanya di Pulau Maratua ini juga ada cukup banyak penginapan dan homestay kok. 

Walaupun kawasan Paradise Resort ini tergolong 'private', tapi ternyata gak private-private amat. Memang ada area yang terlarang bagi selain tamu resort, tapi ada juga area yang boleh dimasuki bebas oleh pengunjung.

Menurut Mas Wilson di sekitaran Paradise Resort ini adalah kawasan yang banyak ikannya. Makanya kami diajakin snorklingan di sini. Iya sih, mayan banyak ikannya, sempet liat lionfish juga di sini, cuma sayang, berhubung baru pertama kali pake action-cam (sebelumnya udah pernah, tapi model berbeda) jadi belum terbiasa deh makenya. Ummm, jadi gak banyak foto-fotonya. Eh, ada banyak tapi foto-foto selfie di dalam air doang. Pemandangan bawah lautnya malah gak dapet.

The Lion Fish

Karangnya kayak habis di-bom


Sudah pernah lihat kecebong ngambang?

Dibilangin sama Mas Wilson kalau di Pulau Maratua ini bukan tempat untuk mencari terumbu karang. Kalau jenis-jenis ikan memang banyak di sini, tapi kalau mau cari terumbu karang itu di Derawan. Hmmm, biar begitu tetap kurang puas sih soalnya persiapan skill saya masih kurang. Coba kalau sebelum ke sini saya lebih banyak belajar berenang dan free-diving. Pasti bisa lebih puas main-main sama ikan dan gak cepet capek juga pas di air. Yahh, biar saya anggap ini sebagai latihan saya. Hehe.

Pas udah mulai asik ceceburan, eh ternyata matahari udah mulai lengser. Langsung deh pada belingsatan mau pindah spot yang ke arah barat. Di situ sudah mulai rame orang-orang yang mau nyanset juga. Sebenernya sungkan juga karena kami kan tidak berhak sepenuhnya di resort itu tapi karena sudah terlanjut terbawa suasana malah kebablasan gak tahu dirinya. Bukannya menyingkir di pojokan cukup motret sunset aja, ehh malah kami bertiga pada nyemplung di laut trus minta Mas Wilson motret tingkah polah kami dengan latar sunset. Duhhh, kalau ada pihak-pihak yang berhubungan  dengan kejadian waktu itu, saya benar-benar minta maaf yaa, gak akan saya ulangi lagi kok.


Satu-satunya foto yang sendirian, dan blur, nasip :(








Nah, akhirnya sampailah kita di penghujung hari. Diawali dengan mendung kelabu dan hujan deras dalam perjalanan panjang berlubang yang berliku dan naik turun. Hingga akhirnya melalui satu hari yang padat agenda. Rasanya tidak pernah ada satu hari yang terasa begitu lama sekaligus berlalu begitu cepat, kecuali hari-hari seperti ini, satu hari penuh suka cita, satu hari saat mengalami tantangan-tantangan baru, satu hari berada di tempat yang kita tidak pernah bayangkan, satu hari terbebas dari segala tuntutan dan tagihan, satu hari bersama dalam canda sahabat, dan satu hari saat dalam hatimu tanpa sadar terus menerus mengucap syukur.

Selamat sore!
Terimakasih!
Eitsss, masih ada lanjutanya dooong. Perjalanan hari ketiga nanti saya akan bercerita tentang perjalanan saya dan rombongan island-hopping di sekitaran Maratua-Derawan. Tunggu ya!