Wednesday, February 29, 2012

Ceritanya Plesiran ke Planetarium

Well, maksudnya refreshing  pasca UAS & Kompre, aku dan anak-anak kosan (ningrum, hyda, satiti, anisa, dan mima pergi ke Planetarium di Jalan Cikini, tepatnya di kompleks Taman Ismail Marzuki.

Sengaja kami pilih hari Selasa, soalnya klo weekend pasti rame sama anak-anak sekolahan yang lagi study-tour. So, berangkatlah kami serombongan ngeteng naik bus kopaja 502 dari depan kampus STIS jalan Otista, turun di Gondangdia, jalan dikit sampe jalan Cikini. Gak pake lama kami langsung meluncur ke satu-satunya gedung di komplek TIM yang ada kubahnya.

Begitu masuk, gak terlalu penuh sih tapi sudah ada sedretan orang yang duduk-duduk di bangku antrian. Agak aneh waktu liat model antriannya, jadi waiting-line-nya itu pake kursi yang dijejer-jejer model seri, jadi klo udah mengantri ya udah susah keluarnya, ribet.

Waktu sampai depan loket ternyata udah ada tulisan "tiket habis", lhah, kok udah habis aja padahal jam masih 3-an sore, pikirku, emang sebegitu banyaknya ya yang pengen nonton planetarium hari itu.

Akhirnya usut punya usut setelah tanya sana-sini, dikasih tau sama mbak-mbak penjual buku-buku astronomi kalau ternyata sesungguhnya si loket itu belum buka sodara-sodara. Ah, syukurlah kalau begitu, kami gak jadi kecewa.

Setelah dapet tiketnya, sudah sholat ashar juga, kami tinggal menunggu pertunjukkannya dimulai. Biasa sambil nunggu paling kami foto-foto gak jelas.

Jam 16.15 pintu ruang pertunjukan dibuka, kami masuk, cari tempat duduk yang agak di bagian belakang, maksudnya biar area pandang lebih luas.

Dan, narator pun mulai bercerita, dimulai dari keindahan rasi bintang-bintang, meteor, komet, asteroid, lalu beranjak ke antariksa dengan pesawat imajinasi penonton diajak melihat lebih dekat untuk mengenal karakteristik planet-planet di galaksi. Satu hal yang buat aku berkesan pada kesempatan di planetarium ini adalah naratornya gak ngebosenin, cara penceritaannya pun menarik dan menghibur tanpa terkesan garing.

Mengenal Planetarium (sumber: wisata hemat indonesia)

Planetaium yang terletak di Jl. Cikini Raya No. 73 Jakarta Pusat ini tempatnya persis satu komplek dengan Taman Ismail Marzuki Jakarta. Wahana ini selesai dibangun oleh Pemda DKI Jakarta dan mulai dioperasikan tahun 1968 bagi para mengunjung dengan susasana hiburan  yang santai dapat menambah pengetahuan tentang berbagai macam hal yang berhubungan dengan benda-benda di jagat raya antara lain Tata Surya, gugusan bintang dan segala macam aspeknya yang mempengaruhi kehidupan manusia di Bumi yang disimulasikan oleh sebuah kameracanggih buatan tahun 1996. Layarnya dibuat secara khusus setengah lingkaran bola dimana penonton berada didalamnya seolah-oleh sedang berada di pesawat luar angkasa sedang memandang dan menjelajah isi jagat raya. Studio ini dilegkapi dengan tata suara dan keterangan dalam bahasa Indonesia sehingga kita akan banyak mendapatkan informasi yang terkandung dalam film yang diputar. Sedangkan kursi yang tersedia adalah untuk 320 orang

Jadwal Pertunjukan :
Selasa - Jumat : setiap 16:30
Sabtu,  Minggu dan Sabtu Libur Nasional :  setiap 10:00, 11:30, 13:00, dan 14:30
Jumat Libur Nasional : Setiap : 10:00, 11:30, 13:00, 15:00, 16:30
Senin : TUTUP untuk pemeliharaan

Harga Tiket Masuk : 
Anak-anak Rp. 3,500 
Dewasa Rp. 7,000
Alamat Planetarium Jakarta : Jl. Cikini Raya No. 73 , Taman Ismail Marzuki ( TIM ), Jakarta tel : 021 - 2305146

Cara mencapai Planetarium dengan kendaraan umum :
KERETA API LISTRIK ( KRL ) :  dari arah Bogor , Jakarta Kota, Bekasi turun di Stasiun Kerata Api Cikini. dari Stasiun dapat menyambung dengan Metromini No. 17 arah Pasar Senen atau cukup naik Bajaj yang jaraknya sekitar 1 km, atau ojek

BUS : Metromini No. 17 Jurusan Pasar Senen - Manggarai, Kopaja No. 57 Jurusan Kampung Rambutan - Cililitan - Tanah Abang, Kopaja No. 20 Jurusan Pasar Senen - Lebakbulus ( rute kembali dariLebak Bulus menuju Pasar Senen tidak lewat Planetarium TIM ).

Di kawasan Planetarium TIM Jakarta ini terdapat warung makan, restauran,  bioskop moderen, ruang pertujunjukan teater, dan ruang pameran seni. Bagi mereka yang dari luar kota, disinipun terdapat beberapa hotel berbintang 2 yang dapat dijangkau dengan jalan kaki. Harga kamar kisaran  adalah Rp. 350,000 - 400,000 / per malam.

Gak Lupa Foto-Foto Dong!!
nganti mau masuk ruang pertunjukan



sempet foto dulu sebelum pertunjukan tayang

ini habis pertunjukan

Planetarium tapak depan (aku dan hyda)


formasi lengkap: piranha versus percil
Kira-kira jam setengah 6 sore pertunjukan selesai. Karena lapar dan rasanya sayang klo langsung pulang, kami akhirnya mampir jajan ke PH.

Tuesday, January 24, 2012

Kulineran di Jalan Pangrango - Bogor

Jadi tanggal 4 Oktober 2011 aku kulineran ke Bogor, tepatnya di Jalan Pangrango, ngeteng dari Jakarta, dari stasiun Tebet naik KRL jurusan Bogor, turun di stasiun Bogor, nyambung angkot (lupa nomornya, tanya aja mau ke jalan pangrango), trus minta berenti di jalan pangrango ya.

Nah, di sepanjang jalan ini ada banyak macem-macem tempat kuliner, dan satu tempat yang beruntung yang kami datangi adalah restoran yang jualan pizza kayu bakar ini.

Kalo mau lebih jelasnya yang gimana-gimananya soal kuliner bisa baca nih di tumblr temenku Food and Lover's Note. Secara klo aku sih sekarang pasti udah lupa gimana rasanya tuh pizza sama mie yang aku pesen, yang keinget cuma rasa pedes pizza-nya doang. Yakin, itu bisa jadi maicih versi pizza.

tiga bala kurawa saya

gaya-gayaan dulu

ini nama tempat makannya

emik-emik-an

ini nih pizza yang gue bilang pedesnya kayak maicih

ini gimana biar bisa rotate ya?

ini poto kwetiau, atu apalah masih se-ordo sama emik

gayaaa lageee

kikikik

Nah, segini aja ya :)
Courtesy: fotonya keluaran android-nya @sayamimo
(bukan gimana2, belakangan lagi gak pede aja sama jepretan gue sendiri)
terus ulasan kulinernya dari tumblr @hyddunk

Wednesday, October 5, 2011

Catatan Perjalanan: XPDC Siaga 3 Gunung Papandayan

Sabtu-Minggu kemaren (1-2 Oktober 2011) saya dan teman-teman GPA melakukan ekspedisi dalam rangka pelantikan Anggota Baru di Gunung Papandayan, Garut. Di sini saya ingin sedikit menulis tentang perjalanan saya.

Jumat malam saya dijarkom kumpul di depan kampus di Otista, tapi dasar jam karet, jam 9.30 baru ngumpul semua anak-anaknya.
Sebelum berangkat, foto dulu ber-21


Setelah nunggu hampir 2 jam kami akhirnya berangkat naik ranger sekitar jam 10 pagi, berangkat menuju Garut lewat tol cipularang.

Penampakan Area Parkiran / Camp David

Jam 17.00 kami sampai di area Camp David, Gunung Papandayan. Rencananya kami mau langsung lanjut naik, mau nge-camp  di Pondok Salada, tapi oleh relawan yang berjaga melarang kami untuk naik gunung, karena saat itu kondisi memang sangat berkabut. Selain itu yang menjadi kekhawatiran adalah sampai saat ini status gunung Papandayan adalah Siaga 3. Jadi, semaleman kami nge-camp Camp David.

Minggu pagi jam 7.30 kami siap berangkat. Setelah menitipkan tas beserta barang-barang bawaan kami ke Pak Slamet (supir ranger yang mengantar kami, yang memutuskan untuk tidak pulang ke jakarta lagi karena cuaca sabtu sore yang emang lagi gak bagus) jadi kami hanya membawa barang-barang yang penting untuk perjalanan naik ke Tegal Alun.

Setengah jam pertama perjalanan melewati kawah, lumayan bikin deg-deg-an soalnya di beberapa titik kita bisa bener-bener merasakan getaran dari gemuruh aktivitas kawah gunung Papandayan.
lewat kawasan kawah aktif








Setelah melewati jalur kawah, kita akan disuguhi pemandangan yang bagus banget, hamparan hijau pegunungan Papandayan. Karena medan pendakian Papandayan yang terbuka, kita bisa melihat jalur dengan jelas.



Setengah jam selanjutnya adalah medan yang lebih hijau, karena di sini mulai banyak tumbuhan hijau dan pohon-pohonan. Walaupun masih tetap terbuka (baca: panas dan terik).


Karena jalur aslinya longsor jadinya potong jalan.
Setelah potong jalan, di sini ketemu lagi dengan jalur aslinya.
Jalur pendakian yang terlihat jelas, karena jarang ada pepohonan

Jam 9 pagi kami sampai di Pondok Salada. Agak lama, sekitar waktu setengah jam kami gunakan untuk istirahat, yah lebih banyak buat foto-foto gak jelas sih, soalnya perjalanan satu jam dari Camp David sampai Pondok Salada gak bikin capek, mungkin karena sepanjang perjalan kami dimanjakan dengan pemandanagn yang bagus banget. Di Pondok Salada ini sudah bisa kita jumpai rumpun edelweis.

Pondok Salada
edelweis di Pondok salada
edelweis di pondok salada


 Jam 9.30 kami mulai melanjutkan perjalanan. Setelah sekitar 5 menit melewati kawasan yang mirip sabana, jalur selanjutnya melewati Death Zone, ini adalah kawasan hutan yang mati bekas letusan Gunung Papandayan tahun 2003.

Death zone

15 menit kemudian jalur kembali ke medan berupa kawasan hutan, dan lebih nanjak.
trek menuju Tegal Alun
 

Dan akhirnya jam 10.21 kami sampai di Tegal Alun yang penuh dengan hamparan edelweis. Walaupun masih banyak edelweis yang kuncup tidak menghalangi kami untuk mengabadikannya.
Tegal Alun
edelweis di tegal alun




Cuma 10 menit kami di Tegal Alun, karena langit sudah mulai mendung, jadi kami memutuskan untuk turun. Yah, kami memang tidak lanjut ke puncak sih, soalnya memang diantara kami gak ada yang tahu jalurnya.

Perjalanan turun kami lewat jalur yang berbeda dari jalur naik. Kami melewati kawasan Death Zone dengan langsung potong kompas ke kawah. Memang jalurnya agak-lumayan-sedikit curam banget, diantar kami banyak yang akhirnya plosotan, tapi semua usaha itu sepadan dengan keindahan alam yang kami saksikan. Kami benar-benar takjub dengan pemandanag yang kami lihat.

Area Death Zone



main perosotan

tetep bergaya walaupun di bawahnya ada kawah

Dan akhirnya jam 13.21 kami sampai lagi di pos Camp David. Setelah ada acara intern GPA sekitar 2 jam, kami bersiap untuk pulang kembali ke Jakarta.

Syukur Alhamdulillah, setelah 7 jam perjalanan di dalam ranger yang cukup bikin badan pegel-pegel parah, kami semua selamat kembali ke kosan atau rumah masing-masing.


Saturday, September 17, 2011

Alasan


Terkadang tanpa sadar kita hanya mencari alasan untuk melakukan sesuatu.
Bukan imbalan uang, bukan makan siang gratis, bukan juga tentang pahala dan dosa.
Tapi sekedar alasan yang membuatnya logis untuk kita lakukan.