Wednesday, December 16, 2015

Siap Pegel Menanggung Kagum di Gugusan Kepulauan Kayoa

Ini adalah salah satu dari beberapa perjalanan saya dalam menunaikan pekerjaan saya di semester satu tahun 2015 ini. Kalau saya baru mau menulis ceritanya sekarang ya maafkan, maklumlah pekerjaan saya begitu menyita waktu. (Hakprettcihh!)

Kali ini saya ditugaskan di tiga kecamatan sekaligus, yaitu Kayoa, Kayoa Selatan dan Kayoa Barat. Kecuali Kayoa Barat, dua kecamatan lainnya berada pada satu gugusan kepulauan yang sama. Sedang Kayoa Barat sendiri letaknya lebih jauh ke barat daya dari Pulau Kayoa induknya. Kayoa Barat sendiri memiliki karakter kontur yang berbeda. Kalau di Kayoa dan Kayoa Selatan lebih didominasi daratan dan pantai, di Kayoa Barat lebih berbukit. Mungkin karena alasan ini yang membuat Kayoa Barat menjadi satu-satunya kecamatan di Halmahera Selatan yang belum mendapatkan jaringan sinyal telekomunikasi sama sekali. Jadi ya bayangkan saja, dua hari satu malam saya di Kayoa Barat yang zero sinyal itu, rasanya seperti hidup di luar angkasa yang hampa udara, sesak.

Alat perang saya kalau mau turun lapangan

Perkiraan rencana perjalanan saya sebenarnya tidak akan sampai ke tiga kecamatan sekaligus. Rencana saya hanya ke Kayoa induk saja, lalu kembali pulang ke Bacan. Jadi persiapan saya pun seadanya saja. Tapi rupanya alam semesta berkehendak lain. Karena satu dan lain hal, jadilah saya berkelana di lautan Kayoa.  

Speed Kayoa

Untuk menuju Kayoa dari Bacan caranya dengan menumpang kapal speed yang normalnya berangkat dari Bacan tiga kali seminggu. Saya sebut normal adalah ketika cuaca bagus dan ombak tidak terlalu tinggi. Ya beginilah keadaannya, bahkan motonya pengelola pelabuhan saja "lebih baik tidak pernah berangkat daripada tidak pernah sampai". Jadi saat ombak tinggi, kapal-kapal lebih memilih tidak berangkat saja.


Interior dalam kapal speed

Kapal speed yang saya tumpangi kali ini namanya "Kilau Samudera". Kapal ini adalah kapal pengadaan dari pemerintah kecamatan Kayoa, untuk memfasilitasi transportasi masyarakatnya dari dan ke Bacan. Tapi tidak selalu harus orang Kayoa juga yang boleh naik speed ini sih. Orang Jawa macam saya juga boleh, yang penting mbayar.


Sebelumnya saya sudah sering dengar tentang pamor ombak Kayoa. Banyak yang sudah mengalami dan menceritakan ke handai taulan bahwasanya ombak Kayoa itu ganas. Tapi mungkin keberuntungan pun bisa menangkis pamor, karena selama perjalanan saya di Kayoa ini Alhamdulillah tidak sampai mendatangkan prahara. Tidak sampai mabok laut, tapi yah ada gejalan mules-pusing sedikit lah, tapi masih wajar karena kurang oksigen di dalam kapal speed. Untuk mengatasinya seperti biasa saya memilih menegak antimo lalu micek saja. Alhasil tahu-tahu sudah sampai tempat tujuan, deh. Meski dengan kondisi bathuk (dahi) saya yang memar-memar dan benjol-benjol karena kepanthuk (kejedot) sandaran tempat duduk di dalam kapal speed yang keras. 


Begitu mulai memasuki kawasan gugusan pulau-pulau sekitaran Kayoa, mulai terlihat pemukiman penduduk. Adalah satu keunikan tersendiri melihat keadaan di daerah kepulauan begini yang jelas tidak saya temui di Jawa. Ciri khas rumah tinggal penduduk kepulauan itu ya begini kayak di foto-foto yang saya ambil. Masyarakat yang kebanyakan mata pencahariannya adalah nelayan sudah pasti cenderung membangun rumahnya di tepi laut, bahkan kebanyakan suku bajo malah lebih memilih memangun tempat tinggalnya di atas laut. Biar gampang parkir perahunya, toh.




Kayoa induk
Setelah kurang lebih empat jam perjalanan, akhirnya saya sampai di Kayoa induk. Hati saya sangat lega rasaya saat memandang dari kejauhan ada menara tower di pulau ini. (Dasar!) Walaupun ternyata kualitas sinyalnya hanya sebatas edge, tapi ini sudah lebih baik daripada tidak ada sama sekali.

Tiga kata untuk menggambarkan kondisi di Kayoa induk: PANAS, PANAS dan PANAS. Mungkin kalau penderita epiktaksis berdiri lima menit saja di pulau ini pasti langsung moncrot-moncrot mimisan. Kontur pulau yang berada tepat di perlintasan khatulistiwa ini memang berupa daratan rendah, tidak ada bukit atau gunung sama sekali, pantaslah kalau diselimuti hawa panas menyengat. Namun, lagi-lagi keberuntungan masih menyertai saya waktu itu, hujan turun membasahi bumi Kayoa, yang kata warga di sana sudah sekian hari tidak turun hujan.


Tugu Khatulistiwa

Satu-satunya penginapan di Kayoa

Geliat pasar di Kayoa
Tugas saya di Kayoa induk akhirnya selesai dalam dua hari. Selanjutnya saya masih harus menuju ke Desa Talimau, masih dalam wilayah Kecamatan Kayoa Selatan, tapi jauh di sebelah barat, terpisah di satu pulau kecil yang masyarakat di sana menyebutnya Kepulauan Guraici. Ah, sebenarnya saya sudah ingin pulang ke Bacan saja waktu itu, kalau tidak karena tanggung jawab pekerjaan. (Ceilahh).

Selama perjalanan ke Desa Talimau, rasa ingin pulang saya tadi tiba-tiba sirna (Enggak ding, tetep pengen pulang juga sih). Terhapuskan dengan keindahan Kepulauan Guraici. Meski selama hampir satu jam pertama kapal speed kami harus berjuang menantang ombak tapi begitu sudah memasuki wilayah gugusan pulau-pulau kecil di sekitaran Guraici, ombak mulai mereda, bahkan ada daerah yang tidak berombak sama sekali. Jadi semacam kolam air laut raksasa. 

Keindahan bawah lautnya? Jangan ditanya. Luar biasa! Spektakular! Jaw-dropping! Ngeces! Cess cess cess! KEREENNN BANGETTT!
Cuma sayang banget, karena saya pikir tidak akan ikut ke Guraici, jadi saya gak bawa action-cam untuk motret bawah laut. Jadinya saya cuma bisa motret-motret dari atas laut saja pakai kamera hape saya. Ah, kzl.

Btw, kawasan kepulauan Guraici ini memang ditonjolkan sebagai kawasan wisata bahari oleh pemerintah daerah Halmahera Selatan. Tepatnya di Pulau Lelei, di sana pengelolaan sarana wisatanya sudah sangat mencukupi. Banyak rumah-rumah warga yang disulap jadi homestay bagi wisatawan. Untuk transportasinya sendiri sudah termasuk sangat dimudahkan karena ada kapal speed yang secara regular melayani perhubungan ke Pulau Lelei dari Ternate.



















Dua wilayah laut yang berbeda, lihat ombaknya deh
Ketika perjalanan kami sudah mendekati tujuan yaitu Desa Talimau, kondisi di kapal agak sedikit bikin deg-deg-an, karena untuk menuju pulaunya melewati semacam jurang karang. Jadi yang tadinya lautnya cuma cethek ketemu sama bagian laut yang dalam. Di sini ombak mulai tinggi. Bukannya terus melaju, berulang kali kapal speed yang kami tumpangi justru balik mundur terbawa ombak. Tapi untungnya motoris kami sangat bisa diandalkan. Pak Saf, salah satu sekdes di Kayoa ini begitu piawai memainkan mesin motor kapal. Sampai akhirnya sampailah kami di Desa Talimau.

Pak Saf, motoris kami yang seksi dan eksotis


Kesan pertama di Talimau ini masih sama seperti di Kayoa induk. PANAS. Oh tidak bahkan lebih. LEBIH PANAS. Sepertinya orang-orang di sini terlalu malas menanam pohon perindang.

Seperti biasanya kalau lagi turun ke desa-desa remote begini. Pendatang seperti kami akan selalu disambut dengan tanda tanya. Meski tak jarang juga ada anak-anak yang langsung berteriak, "Ibu bidan! Ibu bidan!" dan biasanya saya hanya bisa tersenyum kecut. Karena saya bukan bidan. Tapi daripada menjelaskan ke mereka tentang pekerjaan saya yang belum tentu juga mereka paham, biasanya langsung saya iyakan saja.

Gaya abis kan? Pondasinya pake terumbu karang





Enaknya tugas di daerah perdesaan apalagi yang terbatas akses keluar desanya seperti Talimau ini adalah lebih besar peluang ketemu warganya. Yah, meski perjuangan menuju lokasinya juga menantang maut. 


Desa Busua, Kayoa Barat
Setelah menyelesaikan tugas kami di Talimau, kami langsung perpindah ke destinasi selanjutnya, ke Kayoa Barat, tepatnya di Desa Busua. Awalnya sempat ragu, karena kuatir dengan kondisi lautan. Tapi akhirnya rombongan pun sepakat untuk lanjut. Syukurnya, belum sampai gelap kami sudah tiba di Busua.

Kepala Desa Busua dan rombongan baru pulang dari kebun

Seperti model-model pemukiman kepulauan pada umumya, di Busua juga didominasi rumah-rumah panggung. Malam itu kami bermalam di rumah kepala desa Busua. Di sini lah pertama kalinya dalam sejarah hidup saya, menjajal buang air di cumplung cebluk, yang berakhir dengan kehampaan. Hampa. Gak ada yang keluar. Padahal tadinya kebelet banget. Ha-ha-ha -_-"
Rumah boleh kayu, kamar mandi cumplung cebluk tapi tunggangannya coy, jet sky.

Sunset di penghujung perjalanan

Tugas saya di Busua ternyata lebih lama dari perkiraan, yang tadinya saya kira akan lebih mudah menemui masyarakatnya ternyata di Busua berbeda. Kebanyakan warganya bekerja di kebun yang letaknya di pulau yang berbeda. Mereka biasa pergi ke kebun pagi-pagi lalu baru kembali sore harinya. Alhasil kami pun harus lemburan sampai malam. Jadilah saya mati gaya dua hari satu malam tanpa sinyal di Busua.



Dan akhirnya, satu lagi catatan persinggahan telah saya buat di pulau-pulau Kayoa yang indahnya nendang banget ini. Kalau ada kesempatan lagi untuk kesana saya gak akan mikir dua kali. Tapi khusus untuk liburan ya, bukan sambil kerja. Hehehe.

Monday, December 14, 2015

Trip ke Desa Sambiki - Pulau Obi - Maluku Utara

Disebut menjelajah sebenarnya agak berlebihan sih. Perjalanan saya kali ini ke Pulau Obi, selama tiga hari dari tanggal 28 sampai 30 Januari 2015. Yap, awal tahun ini. Yayaya, maafkan bloger hina ini. Biar kejadiannya sudah lama, tapi biarlah ya, biar ceritanya tetap saya tuliskan saja. Gak ada ruginya juga buat saya. Toh, gak banyak juga yang menantikan postingan saya di blog ini, kan. 
Ha-ha-ha. -_-"

KM Ajul Safikran

Berangkat dari Pulau Bacan, jadwal kapal menuju Pulau Obi adalah pagi hari. Keberangkatan kapal tidak pernah pasti jamnya, biasanya mengikuti keadaan ombak lautan, tapi hampir selalu sekitar pukul 8-10 pagi. Kalau tidak jam segitu itu artinya kapal tidak berangkat. Jadwal hari itu yang sandar di Pelabuhan Kupal adalah kapal KM. Ajul Safikran. Kapal ini salah satu dari sedikit kapal antar pulau di Maluku Utara yang masih mempertahanakan body kayu-nya. Di pelabuhan Kupal ini ada 4 macam kapal yang sandar: KM Ajul Safikran, KM Sumber Raya, KM Obi Permai, dan KM Victoria. Masing-masing kapal ini bergantian tiap hari, kecuali hari Minggu, sandar di Pelabuhan Kupal dengan rute perjalanan Pulau Obi - Pulau Bacan - Pulau Ternate. Khusus untuk KM Victoria setelah dari Pulau Obi masih lanjut ke Pulau Ambon.

Perjalanan dari Bacan ke Obi ditempuh kurang lebih 5 jam. Seperti biasa, hampir seluruh perjalanan saya habisnya untuk micek (baca: tidur). Begitu kapal sandar di Pelabuhan Jikotamo--nama desa yang jadi tempat keberadaan pelabuhan di Pulau Obi--saya (dan seorang rekan kerja) langsung mencari mobil untuk melanjutkan perjalanan ke Desa Sambiki. 

Jalanan di Pulau Obi
Oiya,saya lupa bilang tujuan utama saya kali ini memang dalam rangka menunaikan pekerjaan, melakukan pengawasan lapangan di Desa Sambiki. Untuk menuju desa ini masih membutuhkan perjalanan darat dari Pelabuhan Jikotamo kurang lebih 1-2 jam menggunakan mobil. Kondisi jalan di daerah Jikotamo memang sudah bagus, jalanan sudah diperkeras dengna aspal. Tapi setelah keluar dari desa Jikotamo keadaan jalan langsung berbeda. Medan jalan lebih didominasi dengan jalanan sirtu dan tanah. Banyak juga jembatan yang masih bersifat darurat, belum permanen. Jalanan di kawasan ini juga sangat sempit. Jadi mesti ada yang mengalah kalau ada dua mobil yang datang dari arah berlawanan. Cuma yang saya heran, sopir-sopir mobil di sini lagaknya udah kayak pembalab F1. Sudah tahu kondisi jalanan gak bagus masih saja kebut-kebutan. 

SPBU di tengah hutan, tapi tidak beroperasi



Sampai di Desa Sambiki, keluar dari mobil saya langsung di sambut terik matahari yang menyengat langsung ke ubun-ubun. Ya gak heran sih, daerah pantai memang selalu panas. Di sepanjang jalan di wilayah desa Sambiki ini, saya banyak melihat orang sedang menjemur sesuatu yang setelah saya tanya ternyata itu adalah cengkeh. Mulanya agak heran saat karena yang pertama saya lihat adalah yang warna-warni, sedang yangs aya tahu cengkeh itu warnanya coklat gelap. Saat itu baru saya tahu kalau ternyata awal mula bunga cengkeh memang warnanya hijau-kuning-merah dan empuk, tapi setelah dijemur beberapa hari cengkeh akan menghitam dan keras. Cengkeh yang seperti inilah yang kemudian akan dijual ke pengepul. Di sini saya juga baru tahu, selain bunganya ternyata petani juga menjual batang bunga cengkeh, meski dengan harga yang jauh lebuh murah.

Cengkeh yang sudah kering

Cengkeh baru dipetik

Batang Cengkeh


Di sini cuma ada sinyal indosat
Ada satu hal yang membuat saya heran selama di Pulau Obi ini, khususnya di Desa Sambiki ini. Kalau di daerah kawasan timur Indonesia, khususnya Maluku Utara provider mau gak mau karena hanya satu-satunya  yang mumpuni dan tidak bisa diandalkan adalah Telkomsel, tapi Pulau ini justru sinyal Telkomsel susah ditangkap. Malahan yang ada sinyal Indosat. Tapi lucunya, kebanyakan masyarakat di sini pakai providernya Telkomsel. 


Pulau Sambiki
Di sebelah utara Desa Sambiki ada satu pulau kecil, namanya Pulau Sambiki. Untuk menuju ke sana perlu menyeberang menggunakan perahu. Sayangnya tidak difasilitasi. Padahal menurut saya, dari pengamatan saya ya, pulau ini sangat berpotensi sebagai tempat wisata. Lihat saja, dari jauh sudah kelihatan pasir putihnya, di sisi-sisinya pun lautnya tidak begitu dalam yang saya yakin di dalamnya banyak tumbuh terumbu-terumbu karang.

Rumah Pak Nadhar
Esok harinya saya kembali ke Bacan. Kapal dari Pelabuhan Jikotamo pagi itu adalah KM Sumber Raya. Setiap kali naik kapal setengah bawah kayu, setengah atas besi ini selalu dalam keadaan bersih. 

KM Sumber Raya
Sambil menunggu waktu sampai kapal angkat jangkar, saya pun menghabiskan waktu untuk melihat-lihat geliat jual-beli batu obi di sekitaran pelabuhan Jikotamo. Ya, selain ada batu bacan, di Maluku Utara ini ada juga batu obi. Batu obi ini biasanya memiliki warna-warna terang. Ada warna kuning, merah teh, putih gading dan madu.

Batu Obi
Akhirnya peluit dari kapal dibunyikan tiga kali, itu artinya kapal akan berangkat. Selama perjalanan Pulau Obi ke Pulau Bacan, kapal akan berhenti sandar di Pelabuhan Madapolo yang berada di Pulau Madapolo. Pulau ini berada tidak jauh dari Pulau Obi. Geliat jual-beli di pelabuhan ini lebih terasa jika dibandingkan dengan di Pelabuhan Jikotamo yang hanya ada beberapa penjual makanan dan minuman jadi serta penjual batu obi. Di sini ada banyak penjual makanan khas dari Madapolo, berhubung saya masih lapar juga jadi saya ikut-ikutan penumpang lain turun ke dermaga untuk membeli makanan.

Katanya di Madapolo ini sering ada yang jual cumi-cumi, namun sayang waktu itu saya tidak menemukan penjual cumi-cumi, mungkin sedang tidak musimnya. Jadi saya hanya membeli nasi ketan yang dibungkus daun kelapa, saya lupa nama lokalnya apa. Satu lagi yang unik dari makanan & minuman yang dijual, di sini ada aqua berasa & berwarna. Iya, penjual di sini mengisi ulang botol-botol aqua ukuran 600mL dengan minuman berasa, mungkin kalau bukan sirup ya nutrisari atau marimas. Dari sini terjawab sudah pertanyaan saya, yang sering mendapati anak-anak yang berkeliaran di kapal sambil mengumpulkan botol aqua bekas, ternyata untuk digunakan lagi untuk menjual minuman rasa-rasa.

Suasana pasar di pelabuhan Madapolo


Aqua rasa-rasa

Oke, segitu aja ya. Maaf & terimakasih.

Sunday, December 13, 2015

Dokumentasi Perjalanan Menuju Gane Timur

Perjalanan ini saya lakukan pada pertengahan tahun lalu. Masih dalam rangka menunaikan tugas pekerjaan, yangmana saya harus melakukan pengawasan di wilayah Kecamatan Gane Timur Kab. Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara. Untuk menuju Maffa, ibukota kecamatan Gane Timur dapat ditempuh dengan beberapa cara, yaitu menggunakan kapal mulai dari Bacan sampai Maffa atau menempuh jalan darat via trans halmahera namun harus menempuh perjalanan laut dulu menuju Ternate lalu menyeberang ke Sofifi yang terletak di Pulau Halmahera, atau bisa juga dari Bacan menyeberang ke Saketa (Pulau Halmahera) lalu lanjut perjalanan darat dengan ojek motor menuju Maffa. Dari ketiga pilihan cara tempuh ini, pilihan yang ketiga adalah yang paling besar peluang celakanya, karena medan jalanan dari Saketa ke Maffa sangat ekstrim, harus melewati gunung dan beradu dengan jurang-jurang tajam.

Pilihan kedua jadi pilihan cadangan kami jika ternyata pada hari keberangkatan kami ternyata tidak ada kapal yang berangkat menuju Maffa, meski agak malas juga kalau harus ke Ternate dulu, kalau orang Jawa bilang "ngalang". Beruntungnya, Jumat itu ada KM Aksar Saputra yang akan berangkat menuju Maffa, langsung saja saya dan dua orang rekan kantor cap-cus menuju pelabuhan. Inilah gak enaknya pelayanan pelabuhan di sini. Tidak ada jadwal yang pasti, jadi calon penumpang harus rela rajin mengecek ke pelabuhan apakah akan ada kapal yang berangkat atau tidak.

Maka jadilah, kami menumpang kapal Aksar Saputra yang berbadan dari kayu itu. Perjalanan laut dari Bacan ke Maffa kami tempuh kurang lebih hanya 18 jam saja. Tambah perjalanan kembalinya juga 18 jam. Tidak banyak yang bisa saya ceritakan selama 36 jam perjalanan itu kecuali, kebosanan. Hiburan satu-satunya yang ada di kapal hanyalah video karaoke lagu-lagu Ambon. Dan itu saat-saat dimana saya bisa hafal lagu-lagunya Mita Talahatu, sang diva dari Ambon. -_-"








Segini ajalah ya, saya mau cerita tentang kondisi medan di Gane Timur tapi kok saya kuatir malah menimbulkan kesedihan. Intinya sih, disana masih serba terbatas. Jalanan disana cuma layak dilalui kalau saat kering, kalau lagi hujan atau setelah hujan jangan harap bisa lewat. Tapi pembaca yang budiman tidak usah kuatir, meski dengan keterbatas orang-orang disana nampak bahagia kok. Walaupun tiap kali ketemu kepala desa disana saya selalu dicurhatin soal kondisi warganya yang serba kekurangan yang biasanya hanya bisa saya tanggapi dengan ekspresi muka prihatin. Ya, saya bisa apa, pak saya kan cuma remah-remah rempeyek yang tidak ada wujudnya di mata pemimpin-pemimpin negeri ini. 










Sekian, Terimakasih.

Friday, December 11, 2015

Serasa di Pulau Pribadi di Pulau Nusara

Yey Desember! Pasti deh, gatel liat kalender. Ada jatah libur banyak plus kerjaan juga udah mulai enteng, gak sepadet di semester pertama. Weekend kemaren, saya dan teman-teman kantor berencana pergi ke Pulau Nusara. Pulau ini adalah pulau kecil tak berpenghuni yang letaknya tidak jauh dari Pulau Bacan. Untuk menuju kesana cukup dengan carter kapal motor dari Pulau Bacan. Perjalanan yang kami tempuh kurang lebih sekitar 30-45 menit.


Penampakan Pulau Nusara dari kejauhan
Kami bersyukur, cuaca Sabtu lalu sangat cerah. Tidak terlalu berawan dan ombak lautan sangat tenang. Sesampainya di Pulau Nusara, kami serombongan sudah gak sabar buat nyebur ke laut sekitaran Pulau Nusara. Saat masih di atas perahu saja saya udah jejingkrakan gemes begitu bisa melihat terumbu karang yang  nampak begitu jelas bahkan dari atas perahu.


Pulau Nusara ini sebenarnya dijadikan kawasan wisata bahari oleh pemerintah daerah Kabupaten Halmahera Selatan. Di sini bahkan telah dibangun beberapa cottage dan ruang pertemuan yang disewakan bagi pengunjungnya. Hanya sayangnya, saya kira karena minimnya usaha promosi wisata di sini jadi pulau ini sangat sepi pengunjung. Jadilah waktu saya dan rombongan tiba di sana, jadi berasa menguasai pulau pribadi. 

Masih untung waktu itu ada penjaga Pulau Nusara yang ada di sana, jadi kami bisa menyewa beberapa ban khususnya buat teman-teman kami yang tidak bisa berenang. Hanya sayangnya, kami tidak bisa menyewa peralatan snorkeling, soalnya kata si penjaga pulau, peralatan snorkelingnya lagi dipinjam sama tentara. Yah, akhirnya kami jadinya cuma free-diving aja ( baca: cecemplungan).  

Hanya bermodalkan kacamata renang dan skill berenang yang pas-pasan, akhirnya tercapai juga keinginan saya untuk melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana indahnya dunia bawah laut. Satu kata untuk mendeskripsikannya: INDAH.










Terumbu karang yang saya ambil fotonya ini berada hanya dalam kedalaman 2 - 3 meter saja. Ukurannya pun masih kecil-kecil. Jelas pasti ini masih belum ada apa-apanya. Tapi bagi saya, sungguh ini pengalaman yang luar biasa. Suatu saat semoga ada kesempatan untuk belajar menyelam lebih dalam lagi, agar bisa dibuat takjub lebih dan lebih lagi akan keindahan pesona alam bawah laut.





Note:
Perjalanan ke Pulau Nusara ini sudah saya lakukan setahun yang lalu, tepatnya di hari Sabtu tanggal 13 Desember 2014. Waktu itu saya masih bertugas di Kabupaten Halmahera Selatan yang pusat kotanya ada di Pulau Bacan, yang berjarak 8 jam perjalanan dengan Kapal Laut dari Ternate, ibukota Provinsi Maluku Utara.

Foto-foto dalam air saya jepret sendiri dengan BRICA Action Camera B-PRO5.


Sekian, terimakasih sudah sudi mampir.