Friday, December 11, 2015

Serasa di Pulau Pribadi di Pulau Nusara

Yey Desember! Pasti deh, gatel liat kalender. Ada jatah libur banyak plus kerjaan juga udah mulai enteng, gak sepadet di semester pertama. Weekend kemaren, saya dan teman-teman kantor berencana pergi ke Pulau Nusara. Pulau ini adalah pulau kecil tak berpenghuni yang letaknya tidak jauh dari Pulau Bacan. Untuk menuju kesana cukup dengan carter kapal motor dari Pulau Bacan. Perjalanan yang kami tempuh kurang lebih sekitar 30-45 menit.


Penampakan Pulau Nusara dari kejauhan
Kami bersyukur, cuaca Sabtu lalu sangat cerah. Tidak terlalu berawan dan ombak lautan sangat tenang. Sesampainya di Pulau Nusara, kami serombongan sudah gak sabar buat nyebur ke laut sekitaran Pulau Nusara. Saat masih di atas perahu saja saya udah jejingkrakan gemes begitu bisa melihat terumbu karang yang  nampak begitu jelas bahkan dari atas perahu.


Pulau Nusara ini sebenarnya dijadikan kawasan wisata bahari oleh pemerintah daerah Kabupaten Halmahera Selatan. Di sini bahkan telah dibangun beberapa cottage dan ruang pertemuan yang disewakan bagi pengunjungnya. Hanya sayangnya, saya kira karena minimnya usaha promosi wisata di sini jadi pulau ini sangat sepi pengunjung. Jadilah waktu saya dan rombongan tiba di sana, jadi berasa menguasai pulau pribadi. 

Masih untung waktu itu ada penjaga Pulau Nusara yang ada di sana, jadi kami bisa menyewa beberapa ban khususnya buat teman-teman kami yang tidak bisa berenang. Hanya sayangnya, kami tidak bisa menyewa peralatan snorkeling, soalnya kata si penjaga pulau, peralatan snorkelingnya lagi dipinjam sama tentara. Yah, akhirnya kami jadinya cuma free-diving aja ( baca: cecemplungan).  

Hanya bermodalkan kacamata renang dan skill berenang yang pas-pasan, akhirnya tercapai juga keinginan saya untuk melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana indahnya dunia bawah laut. Satu kata untuk mendeskripsikannya: INDAH.










Terumbu karang yang saya ambil fotonya ini berada hanya dalam kedalaman 2 - 3 meter saja. Ukurannya pun masih kecil-kecil. Jelas pasti ini masih belum ada apa-apanya. Tapi bagi saya, sungguh ini pengalaman yang luar biasa. Suatu saat semoga ada kesempatan untuk belajar menyelam lebih dalam lagi, agar bisa dibuat takjub lebih dan lebih lagi akan keindahan pesona alam bawah laut.





Note:
Perjalanan ke Pulau Nusara ini sudah saya lakukan setahun yang lalu, tepatnya di hari Sabtu tanggal 13 Desember 2014. Waktu itu saya masih bertugas di Kabupaten Halmahera Selatan yang pusat kotanya ada di Pulau Bacan, yang berjarak 8 jam perjalanan dengan Kapal Laut dari Ternate, ibukota Provinsi Maluku Utara.

Foto-foto dalam air saya jepret sendiri dengan BRICA Action Camera B-PRO5.


Sekian, terimakasih sudah sudi mampir.

Monday, December 8, 2014

Mengejar Matahari di Pulau Rempah (Bagian 4) - Teluk Sulamadaha (HABIS)

Pengejaran matahari di Pulau Ternate, masih berlanjut. Masih pada hari yang sama dengan perburuan matahari terbit di Dodoku Ali, setelah melewati hamparan Batu Angus, kurang lebih sekitar 20 menit kemudian saya sampai di Pantai Sulamadaha. Pantai yang terletak di sisi utara pulau Ternate ini tepat berbatasan dengan Pulau Hiri. Pulau kecil berkontur bukit yang katanya sih bisa dijadikan tempat untuk treking.

Area Hole Teluk Sulamadaha
Komplek wisata Sulamadaha ini terdiri dari dua area. Pertama, area pantai yang berada tepat di depan pintu masuk kawasan Pantai Sulamdaha. Dengan pantainya yang berpasir hitam, pengunjung bisa bermain-main di sepanjang pantai yang ombaknya tidak terlalu besar. Di area ini juga banyak terdapat tempat makan. Hanya entah kebetulan waktu saya kesana memang sedang sepi atau bagaimana, kursi-kursi yang sudah disediakan disana hanya teronggrok kosong.

Area Pantai Sulamadaha


Jujur saja, area pantai ini tidak terlalu menarik. Yup, tapi tenang, masih ada satu area tersembunyi yang akan membuat Anda takjub saat sudah berada disana. Orang-orang Ternate menyebutnya  denagn "hole", yaitu satu area laut yang menjorok ke daratan, atau dalam ilmu geografi biasa disebut dengan.. yak benar, teluk. 

Untuk menuju teluk ini pengunjung harus berjalan kaki menelusuri jalan cor-coran yang--yah lumayan lah--jauhnya, belum lagi harus naik-turun-belok kanan-belok kiri. Atau pengunjung bisa juga membawa motornya, karena di dekat area hole ada tempat parkirnya juga. Tapi ya gitu, jalannya naik-turun ekstrem, belum lagi lebar jalan yang seadanya.

Jalan cor-coran meuju hole Sulamadaha

Ini pemandangan sepanjang jalan menuju hole
Semisalpun pengunjung--terpaksa harus--berjalan, jangan bersusah hati karena pemandangan sepanjang perjalanan menuju hole akan sayang banget kalau hanya untuk dilewatkan begitu saja. Di awal perjalanan pengunjung akan melewati tepian batu karang, yang sebenarnya memilik nilai estetika tersendiri, hanya sayangnya justru dimanfaatkan oleh pengunjung alay untuk dijadian media penyampaian pesan.

Lalu, di sisi yang berlawanan, pengunjung bisa menikmati keindahan lautan Ternate yang masih bersih dan jernih, Bahkan tanpa perlu menyelam, pengunjung bisa dengan jelas melihat indahnya karang-karang dalam lautan.





Begitu sudah sampai di hole Sulamadaha, apa yang bisa dilakukan disana? Banyak!
  1. Snorkling
  2. Free-diving
  3. Kayaking
  4. Naik banana boat
  5. Berenang
  6. Sewa ban buat ngambang-ngambang di air
  7. Naik perahu, menyeberang sampai ke Pulau Hiri
  8. Main-main air
  9. Makan Pisang goreng, minumnya es kelapa muda
  10. Makan indomie
  11. Galau (halah!)



Fasilitas jalan yang masih jelek
Saya sebagai pengunjung yang baru pertama kali ke Sulamadaha ini, sebenarnya sangat dibuat bingung dengan anatomi kawasan ini. Seingat saya bahkan tidak ada sama sekali papan petunjuk.   Belum lagi masih ada area jalan yang masih sangat alami, hanya berupa batu-batuan yang disusun seadanya. Sebagai pengunjung, mau tidak mau harus banyak berinisiatif untuk bertanya. Karena kalau tidak, saya akan melewatkan spot paling wow di Sulamadaha ini.

Spot laut yang tidak terlalu dalam dan sepi ombak ini, benar-benar menakjubkan. Airnya benar-benar jernih, lihat saja deh ya dari foto-fotonya, perahu-perahu disana jadi tampak seperti melayang begitu.

Jernih banget kan?






Sekian.
Terimakasih sudah berkunjung di blog yang semakin geje ini.


Wednesday, November 26, 2014

Mengejar Matahari di Pulau Rempah (Bagian 3)

Masih di hari yang sama saat menangkap gradasi fajar di Dodoku Ali, siang harinya saya dengan seorang teman, berboncengan keliling Pulau Ternate. Tujuan kami ke Pantai Sulamadaha. Tapi tunggu dulu, postingan ini belum akan membahas soal Pantai Sulamadaha. Jadi, dalam perjalanan menuju Pantai Sulamadaha dari pusat kota Ternate akan ada sebuah kawasan luas dimana ada banyak sekali bebatuan vulkanik hasil letusan Gunung Gamalama yang dibiarkan begitu saja. Maksudnya, tidak dipindahkan atau diolah atau diapain gitu, hanya dibiarkan berserakan di kawasan itu. Orang Ternate menyebut kawasan bebatuan vulkanik ini dengan sebutan, Batu Angus. Sesuai dengan keadaan batu-batuan disana yang memang dalam keadaan terbakar. 


Untuk menikmati eksotisme Batu Angus ini pun tidak perlu sampai banyak tenaga karena memang lokasinya yang tepat berada di pinggir jalan. Pengunjung bisa menikmati keindahan alam di kawasan Batu Angus dengan latar Gunung Gamalama atau bisa juga di sisi lain dengan latar laut.




Sudah begitu saja sih, tidak banyak yang bisa dilakukan di Batu Angus ini.
Terimakasih sudah berkunjung! :p

Tuesday, November 25, 2014

Mengejar Matahari di Pulau Rempah (Bagian 2)

Waaaa.. sudah sebulan lebih dari yang bagian satunya, hehhehe --"
Jadi ini lanjutan kisah saya dalam pengejaran matahari di Pulau Ternate. Minggu pagi, selepas shubuh, dengan membawa motor, saya berjalan ke bagian timur pulau kecil ini. Jujur waktu itu, sebenarnya saya tidak tahu akan menuju kemana. Saat teman saya tanya, "kamu mau hunting sunrise dimana?" saya hanya bisa menjawab, "Yang jelas ke arah matahari terbit." :))



Tidak meyangka ternyata tidak perlu berkendara terlalu jauh, saat berbelok di depan keraton Ternate, saya langsung tertarik dengan spot yang letaknya tepat di samping hypermart. Sempat ragu untuk menuju ke tempat ini karena disini termasuk area car free day. Hari sebelumnya saya sempat dengar cerita kalau kakak tingkat saya kena tilang saat bawa motor di area ini. Tapi akhirnya saya nekat masuk saja, lagipula saat itu tidak belum ada polisi yang berjaga. Dan lagi, gradasi warna refleksi sinar matahari pagi itu sudah mulai tampak, saya jlebih khawatir kalau saya cari spot lain justru malah kelewat moment ini.


Pada saat saya di tempat ini, saya benar-benar tidak tahu menahu soal spot ini. Saya pikir ini hanyalah area tepi pantai biasa saja dengan dermaga yang memang biasa digunakan warga untuk berlabuh. Baru belakangan saya tahu kalau spot ini namanya Dodoku Ali. Dodoku artinya jembatan atau dermaga, sedang Ali diambil dari salah satu tokoh yang berjasa di Kesultanan Ternate yaitu Kapito Lao Ali. Di tempat ini tidak hanya ada dermaga tapi juga ada taman lengkap dengan tempat duduk-duduk yang biasa digunakan warga untuk berkumpul terutama pada hari Minggu sembari menikmati matahari pagi saat car free day.


Spot ini pas sekali bagi yang suka berburu matahari. Tepi pulau yang tepat menghadap ke arah timur, ditambah dengan adanya dermaga sederhana yang semakin menambah melankoli suasana pelabuhan. Menangkap gambar gradasi dengan siluet perahu yang sedang sandar di tepi laut pun akan menjadi estetika tersendiri dalam bingkai kamera. 





Well, so far this is the most beautiful sunrise I've ever captured, without a lot of  efforts, hehehe :p 
Sekian dan Terimakasih sudah berkunjung. Salam jingga matahari. :))