Wednesday, March 7, 2012

Catatan Perjalanan: Gunung Merbabu 3142 Mdpl (3-5 Maret 2012)

Yupp, kejadian juga di 2012 ini, debutku naik gunung di Jawa Tengah setelah sepanjang 2011 kemaren aku naik turun gunung di Jawa Barat (where is lingkungannya orang-orang Sunda), maksudnya akhirnya kesampaian naik gunung dengan lingkungan suku Jawa, jadi skill sosial-pedesaanku bisa makin optimal soalnya ngerti dengan bahasanya.

Sebulanan (lebih mungkin) Perencanaan
Dibilang "sebulanan" karena sebernarnya kepotong masa ujian (UAS & Kompre), jadi kesannya lama banget.


Berawal dari omong kosong sok-sokan pengen naik gunung khas semangat anak muda yang membara membabi buta, didukung fakta bahwa ternyata kami punya kenalan yang baru-baru saja intens naik-turun gunung di Jawa Tengah, membuat kami yakin buat merealisasikannya.

Satu persatu ngumpulin crew yang mau diajak naik. Dilema buatku, sungguh, klo ditanya temen-temenku yang mau diajak naik gunung jawabannya banyak. Banget. Tapi maaf, sekali lagi maaf, kapok dari pengalaman terakhir di Pangrango membuatku lebih selektif. Bukan pelit bukan underestimate tapi hanya mengantisipasi, karena dari awal aku punya feeling perjalanan ini bakalan gak gampang. Salah satu pertimbangannya adalah lokasi, klo cuma di Cibodas mah masih gampanglah ngurus transportasi dan akomodasi buat sepuluh atau duapuluh orang, nah ini lokasinya adalah jarak sampe setengahnya pulau Jawa.

Oke, cukup feeling guilty-nya.

Sempet berkali-kali ngumpulin crew ngumpul di kantin kampus buat diskusiin rencana perjalanan. Coret-coretan planning dari plan-A, plan-B, plan-C sampe plan-D dibuat sudah. Tanggal main juga sudah ditentukan, walaupun akhirnya di akhir-akhir kami merubah jadwal keberangkatan. Ngumpul terakhir di kosanku buat bagi-bagi jatah perlengkapan.


Realisasi Perjalanan:
Nah, jadilah kami (Adi, Salam, Yoga, Mima, Ningrum, dan aku) akhirnya melakukan pengesotan Gunung Merbabu via Selo, Boyolali.
Hadirin yang terhormat, mari dimulai ceritanya..



Jumat, 2 Maret 2012

16.30 : 
Sesuai rencana, rombongan berenam janjian ngumpul di halte depan kampus. Paling gak jam 5 sore kita udah harus naik kopaja 502 menuju stasiun Tanah Abang.

Ngomong-ngomong soal tiket kereta, sebenarnya kami bisa saja nyaris gak dapet tiket, soalnya, batas waktu pembelian tiket berangkat ini bertepatan dengan jadwal pelaksanaan ujian Kompre kami, tapi untunglah ada anak kosanku yang bisa dititipi beli tiket tapi beli dari stasiun Lempuyangan, Jogja, meski tempat duduknya pun mencar-mencar, tapi yah gak papalah, yang penting tetep bisa berangkat sampe Solo naik kereta senja Bengawan.

FYI: Bagii yang belum biasa naik kereta di pulau Jawa, khususnya dari Jakarta, klo mau naik kereta bertepatan dengan weekend sebaiknya jangan mepet-mepet belinya, biasanya tiket kereta weekend itu cepet habis, yah minimal belinya seminggu sebelum hari-H which is itu memang batas awal penjualan tiket.

buat yg gak tau kayak begini bentuk tiket keretanya
19.30 :
Kereta Senja Bengawan jurusan Tanah Abang - Solo Jebres yang kami tumpangipun berangkat. Aku duduk di depan bapak-bapak yang "gak bisa diem" yang ngakunya sih semacam tentara atau polisi gitulah.

Sabtu, 3 Maret 2012
07.30 :
Kereta pun sampe Solo, kami turun di stasiun Purwosari. Setelah sempat mandi di kamar mandi umum yang ada di stasiun, kami cari makan di sekitaran pasar Purwosari (tempatnya di depan stasiun Purwosari tapi mesti jalan masuk ke area belakang pasar), makan nasi liwet sama ketan.

yang jualan sego liwet
08.30 :
Berangkat menuju Boyolali, naik bis jurusan Solo-Semarang. Untuk bisa naik bis ini, dari stasiun Purwosari kita harus rela jalan kaki sekitar 10 sampe 15 menitan sampai ketemu terminal kecil yang memang biasa jadi tempat perhentian bis-bis antar kota.

Kami naik bis namanya "Royal Safari", bisnya enak, ber-AC tarifnya Rp 10.000,-, kalau mau lebih hemat bisa naik yang gak ber-AC sih, harganya beda, sekitar Rp 7.000,-

09.30 :
Sampe di Boyolali, dari bisa tadi bilang turun di depan Rumah Sakit Boyolali. Dari sini kata masih harus jalan sedikit sampe di perempatan tempat ngetem bis jurusan Boyolali-Cepogo, nah kemudian naiklah kita di bis itu menyatu bersama ibu-ibu pedagang sayuran.

10.30 :
Turun di Pasar Cepogo, ganti bis lagi yang menuju Pasar Selo. Sebenernya kadang-kadang ada juga bis yang dari Boyolali yang langsung menuju Pasar Selo, jadi klo mau bisa tanya dulu ke kenek bisnya.

Di Pasar Cepogo ini kita bisa belanja logistik.

11.00 :
Lanjut ngebis lagi dari pasar Cepogo ke Pasar Selo, jangan kaget klo naik bis ini terus bisa barengan sama petani yang baru pulang dari sawahnya ato malah baru mau berangkat.

12.00 :
Sampai deh di Pasar Selo. Bisa juga beli logistik di sini, tapi gak selengkap di Pasar Cepogo, sih. Tapi klo cuma mau beli air minum ato makanan jadi sih ada kok.

Dari sini kami gak langsung naik ke basecamp pendakian, kami istirahat, repacking, ISHOMA di masjid dekat pasar Selo. Habis Ashar kami baru bersiap naik ke basecamp.

Untuk menuju basecamp pendakian, dari Pasar Selo, bisa naik ojek atau jalan kalau mau, tapi kami malah carter mobil--yang katanya sih udah pengalaman nganterin pendaki naik-turun di situ--makanya mobilnya pun semakin gak kuat kali ya, jadi kami mesti dorong dulu, soalnya emang jalannya naik terus.

mobil yang meragukan
16.30 : Start Pendakian
Setelah registrasi di basecamp Pak Narto, kami pun siap memulai pendakian (yang ujung-ujungnya nanti jadi pengesotan)

FYI: Start pendakian kita dimulai dari ketinggian 1700 mdpl.

jalur Merbabu via Selo
kondisi "before"
17.33 : Pos 1 - Dok Malang
Dari gerbang pendakian sampai pos 1 ini jalurnya masih tergolong landai dengan didominasi vegetasi submontana, dengan pepohonan yang tinggi-tinggi dan semak-semak majemuk. Sampai pos 1 ini kita baru mengelilingi satu bukit.

tampilan pos 1
18.01 :
Baru sampai pos bayangan  antara pos 1 dan pos 2. Di sini kami istirahat buat minum.
Dari pos 1 sampi pos ini jalurnya mulai lumayan nanjak.



18.17 :
Kami berhenti dulu di tempat datar buat sholat, sempet sedikit makan roti juga. Gak lama kami langsung lanjut jalan lagi.

19.20 : Pos 2 - Pandean
Sampai di pos 2 istirahat gak lama.
pos 2 - Pandean
19.59 : Pos 3 - Batu Tulis
Dari pos Pandean ke Pos Batu Tulis ini jalur masih terbilang "tertutup" maksudnya masih terlindung dari kencangnya angin. Nah, begitu sampai pos batu tulis semuanya menjadi "terbuka", kami langsung disambut angin kencang yang membawa sedikit gerimis. Kami istirahat cuma sebentar, sekedar minum dan mengganti batre senter.
tampilan pos batu tulis
Lepas dari pos batu tulis, jalur landai sudah tinggal cerita, yang ada kalo gak jalur miring yang jalur nanjak ato jalur yang nanjak banget, masih ditambah kencangnya angin yang datangnya gak kira-kira, menambah frustasi.      Kalaupun ada jalur yang landai dengan kanan-kiri terlindung itu hiburan dari surga.

Sepanjang jalan menanjak yang penuh drama, kepleset sana kepleset sini soalnya banyak tanah yang susah dipijak gara-gara terlalu gembur. Masih ada kejadian Salam yang kakinya keram, terus di Adi ketularan keram juga. 

22.00 : Pos 4 - Sabana 1
Dan syukur alhamdulillah sampai juga di Sabana 1, sudah ada beberapa tenda yang berdiri di sabana ini, dan memang di sini juga kami berencana nge-camp. Badai angin masih belum mau berhenti jadi langsung saja kami bersiap mendirikan tenda, sampai Adi tiba-tiba ngelindur, "kita gak bawa pasak".

Ya sudah. Singkat cerita beginilah jadinya... (ini foto diambil waktu paginya, pas badainya udah berhenti)
tenda biru yang memprihatinkan

rangkanya sampe patah
Minggu, 4 Maret 2012
Minggu pagi cuaca udah agak mendingan, tapi memang keliatan di puncak masih berkabut. Labil. Galau. Mau lanjut ke puncak atau turun. Akhirnya kesepakatan menunggu dulu, liat kondisi ntar pas udah siangan, sambil bikin makanan.

Tapi celaka, kompor gas gak mau nyala. Untung aja bawa parafin, biar cuma sekotak doang, tapi bisalah buat masak mie instan sama masak air buat bikin minuman anget.

09.15 :
Akhirnya kami memutuskan untuk lanjut naik ke puncak. Dengan membawa perbekalan secukupnya, barang-barang lain + tenda ditinggal di pos sabana 1, kami berangkat summit attack.


Awalnya perjalanan sampai pos Sabana 2 terasa menyenangkan, langitnya terang, sepanjang jalan bisa dengan jelas kita lihat pemandangan bukit-bukit yang ditumbuhi pohon edelweis, sayangnya belum musim berbunga.




09.40 : Pos 5 - Sabana 2
Kalau dilihat sekilas, pos sabana 2 ini bisa jadi tempat nge-dome yang oke, soalnya tempatnya pas terlindung di balik bukit, tapi eh tapi, kata Adi, dilihat dari arah rumputnya, dia menduga klo justru di sini arah angin memutar, dan sangat riskan untuk nge-camp.



ngik
Menikmati sebentar keberadaan sabana 2, kami langsung melanjutkan perjalanan.

09.48 :
Baru sampe pos bayangan, Puncak masih 1,1 km lagi. Di sini bisa buat ngecamp, soalnya lokasinya cukup terlindung, dan ada banyak pohon edelweis yang tinggi-tinggi.



Beranjak dari pos bayangan tadi, jalur langsung menanjak, menanjak, dan menanjak, terus menanjak.

tampak dari atas

10.47 : Puncak Triangulasi
Alhamdulillah, kami sampai, kami sampai, kami sampai puncak.


Foto-foto dulu dong...





Sayang, cuaca gak cerah, klo cerah, dari puncak bisa liat merapi di sebelah selatan, lawu di timur, dan sindoro & sumbing di sebelah barat. Tapi gak papa, begini saja sudah syukur. :)


11.05
Cuma aku, adi, yoga, salam lanjut ke Puncak Kentheng Songo, yang lain udah kecapean, jadi mereka nunggu di Puncak Triangulasi.


ini kentheng songo, bukan triangulasi
Kayaknya ada yang iseng nuker papan petunjuk puncak triangulasi sama puncak kentheng songo. :p
Kami cuma bentar banget di Puncak Kentheng Songo, cuma foto-foto terus langsung balik ke Puncak Triangulasi. Begitu sampai pun kami terus langsung lanjut turun gunung. Soalnya mencegah bakalan badai angin lagi.

12.30 : Pos Sabana 1
Setelah ngesot-ngesot sampai perosotan turun dari puncak, tiba di pos sabana 1 tempat kami ningggalin barang-barang, kami langsung ISHOMA, masak mie dan ngabisisn perbekalan logistik.

Selesai makan, lanjut beres-beres barang, packing, siap-siap turun, apalagi kabut dari puncak juga mulai mau turun, jadi mesti cepet-cepet turun.



14.30 : Start turun gunung
Beruntung, sepanjang jalan turun, cuaca cerah, bahkan bisa liat merapi. :D

ngok
17.30 : Sampai di Basecamp Pak Narto.
Laporan dulu di pos. Terus kami ke basecamp Pak Parman, minggu malam ini kami akan menginap di basecam beliau soalnya tempatnya lebih layak daripada di basecamp Pak Narto. Selain itu di tempat Pak Parman kita bisa pesan makanan juga.


Senin, 5 Maret 2012
08.15
Bersiap pulang, selesai packing, pamit ke Pak Parman plus ngasih sedikit upeti seikhlasnya, langsung kami turun menuju Pasar Selo. Kali ini kami gak sewa mobil lagi, biar ngirit kami pilih jalan kaki. Dan ternyata jalan kaki adalah pilihan tepat, karena sepanjang jalan kami disuguhi pemandangan tiada tara.


Dan foto-foto anarkis pun terjadi...







10.15
Sampe juga di depan Pasar Selo, kami kelaparrrraaann.
Makan di warung. Sambil makan entah kenapa kami terhipnotis dengan cerita FTV yang lagi tayang di TV di warung itu. --.--"


11.05
Ngebis dari depan Pasar Selo, sampe Terminal Boyolali. Makan waktu lama ini, mulai dari yang bis tadinya cuma berisi kami berenam, sampe penuh sama anak SMP yang baru bubaran, sampe sepi lagi, ngetem di depan Pasar Cepogo, sampe penuh sama ibu-ibu yang baru pulang dari Pasar.

11.15
Sampe di Terminal Boyolali, ganti bis jurusan Semarang Solo, naik yang arah ke Solo.

13.30
Turun di Kerten, ini deket dari stasiun Purwosari. Langsung oper angkot 01A sampe depan stasiun Purwosari. Atau mau jalan kaki juga bisa, deket kok, dua kali lampu bang-jo.


13.35
Sampe di stasiun Purwosari.
ISHOMAMAN (Istirahat, SHOlat, MAkan, MANdi) sambil nunggu jadwal kereta Senja Bengawan jurusan Solo Jebres - Tanah Abang.

FYI: Kami sudah beli tiket kereta untuk balik ke Jakarta sewaktu kami masih di Jakarta, mengantisipasi, soalnya sekarang gak bisa sembarangan mendadak beli tiket kereta api.




Selasa, 6 Maret 2012
04.30
Stasiun Jatinegara, Jakarta.



Atas terselenggaranya perjalanan yang luar biasa ini, saya, Tinon Padmiworo ingin mengucapkan terimakasih kepada:
1. Gusti Allah SWT, karena nikmat kesempatan yang tiada tara ini.
2. Ibu Suharni dan Bapak Tuwuh Raharjo, atas doa restu yang selalu mengiringi.
3. Adi, Salam, Yoga, Mima, Ningrum dan satu lagi teman seperjalanan yang sudah banyak kami repotkan, kalian semua menginspirasi.
4. Satiti, Iang, Anisa, Habib, entah siapa lagi adek-adekku di KBMSY, pokoknya yang sudah sudi membelikan tiket kereta.
5. Pak Ahmad - supir mobil yang pake mogok, Pak Parman - yang punya basecamp, Bapak Tentara yang ternyata obsesi dalang - di kereta, Pendaki-pendaki lain yang ketemu di gunung, yang dengan khidmat menyanyikan Indonesia Raya di Puncak Triangulasi, mereka semua yang telah meramaikan perjalanan ini dan menjadi penyedap cerita di dalamnya.



Yang Hampir Terlupakan: Catatan Keuangan. (perorang)
TRANSPORT (untuk 1 oramg):
1. Kereta Jakarta - Solo PP  2 x Rp 37.000,-   : Rp 74.000,-
2. Bis Solo - SMG                                            : Rp 10.000,-
3. Bis Boyolali - Cepogo                                   : Rp   3.300,-
4. Bis Cepogo - Selo                                        : Rp   4.000,-
5. Mobil sampe Basecamp  P. Ahmad               : Rp  8.000,-     (Pak Ahmad : 087836362645)
6. Bis Selo - Term. Boyolali                              : Rp   6.000,-
7. Bis Term. Boyolali - Kerten                          : Rp   5.000,-
                                                                        ---------------
                                                                                              Rp 110.300,-

REGISTRASI  (1 orang)                                                        Rp     1.500,-
SUKARELA BASECAMP P.PARMAN (1 orang)                Rp   10.000,-
KONSUMSI ( 1 orang)
1. Di Masjid                                                      : Rp  3.000,-
2. Di Basecamp                                                : Rp  7.000,-
3. Logistik (yang kepake aja)                           : Rp 12.000,-
                                                                       ---------------
                                                                                               Rp   22.000,-
                                                                                             -----------------
                                                                                               Rp 143.800,-

Note: Ini masih di luar ganti rugi beliin rangka tenda REI yang patah, dan kompor gas yang gak bisa dipake.


Nah, selesai. Akhir kata, sampai berjumpa di catatan perjalanan selanjutnyaaaa....
Terimakasih sudah membaca.



18 comments :

  1. nice story, moga ane besok jalannya lancar kesana :)

    ane copas ya mba, buat data pendakian besok :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. ok, silahkan di copas, senang klo bisa bermanfaat.
      semoga pendakiannya lancar :'D

      Delete
  2. semeru genti, mesti luwih jos..

    ReplyDelete
  3. Replies
    1. Klo ada kesempatan, saya pun mau ke.merbabu lagi..
      Kata temen klo pas cuaca cerah dari puncak merbabu bisa liat gunung2 lain di jawa tengah :)

      Delete
  4. 13-16 desember......siap2

    ReplyDelete
  5. semoga libur kenaikan kelas bisa naik.. amiin

    ReplyDelete
  6. Seneng sekali membacanya. Saya orang magelang, dah naik merbabu beberapa kali, dari kopeng, dari pogalan, dari ngablak, memang indah. Bahkan pernah tdk jadi naik karena hujan angin yang hebat lepas dari hutan pinus, semua menggigil basah kuyup. Tapi tidak bisa buat cerita seheboh itu. Bagus sekali ceritanya.

    ReplyDelete
  7. jadi pengen ke merbabu, tapi lewat suwanting, katanya sunsetnya bagus kakak

    ReplyDelete
    Replies
    1. wahh baru denger saya ada jalur suwanting, dimana itu ya?

      Delete
    2. suwanting itu deket ketep pass.. jalurnya langsung tembus puncak triangulasi. wajib dicoba mbak,buat latihan dengkul :p

      Delete